tentang hujan

Teruntuk kamu, Venusku 

Ini pagi sajakmu melulu ada 
Kudapati ia menjamur telak di langitku 
Lena merimbun abu-abu 
Menunggu rintik yang sebentar lagi memanen melumuri bumi 

Dan apa kubilang tadi
Belum benar kata-kata itu mengering
Ia jatuh belaka kini pada segalaku
Yang mengaku hujan 
Yang kunamakan sajak persembahanmu 

Ah, kuyup aku 




kita di sebuah siang itu

Kamu di bukit, aku di kasur
Berpeluk tak jemu di lorong suara menumpah segala itu 
Membiarkan waktu menyusutkan jarak
Hingga bibir menjadi kuyup oleh hujan kecupmu kelak

Dan tanpa mengira
Sesungguhnya sejak sepakat menjadi kita
Pernahkah aku tak disertakan dalam tiap kerumunan segala peristiwa?

Kurasa tidak 
Sebab kamu jauhku, sekaligus dekatku yang paling mungkin

maaf

Anggap saja aku mau benar mengantuk
Sebab begitu tak payah menemu padam kita punya perbincangan berkelok-kelok 
Pun jengah tak berpeluh, kau mengeluh semakin belaka memanjat kukuh purnama di puncak menyebalkan tersiar malam itu, aku

Duhai, yang terbilang pacarku  
Maaf, ketika diri tergelincir percuma 
Teramat bahkan sangat berada seperti demikian 

Maaf 




sepertinya ini puisi rindu

Ini hari aku mengacak 
Rinduku berkelocak 
Anggap saja sejenak menjadi kanak 
Mencari-carimu di tiap anggun kidung asmara berarak 

Hei, pacarku, aku ingin meletak 
Melunak bibirmu yang jauh sungguh kejam berjarak 
Di sini, padaku, biar belaka menghujan membiak 
Enggan sungguh pun beranjak