nama itu

Nama itu
Peluru yang dimuntahkan jantung di tiap degupnya 
Menyusur sunyi hingga rindu pecah tak lagi jadi kanak-kanak 

Nama itu 
Sepukal alasan Tuhan mengapa selalu ada kepulangan 
Jatuh padanya aku jadi belaka 

Nama itu, sekiranya, demikian




kepala saya penuh

Kepala saya penuh
Mungkin butuh percakapan seberat kapas 
Jangan lupa tumpahkan saja itu jus jeruk di wajah langit
Lalu letakan secangkir kopi tanpa senyum yang dibuat-buat

Ah, ini hari serasa mesti kutumbukan penat yang beranak pinak

Dan pundak itu
Apakah masih belaka untuk pancarobaku? 
Sedang di sana bangku sudah ingin habis terisi

Habis, ingin 




kita tak pernah selesai

Hujan jatuh malam luruh 
Tersedu telak akan pilu rindu 
Mengetuk-ngetuk perlahan 
Kening itu diam-diam selalu tujuan 

Aku mengenang 
Betapa indah kita yang tak pernah selesai 
Meski jauh sudah bosan kubahasakan 
Kita, entah dimulai-Nya lagi kapan?