hampir aku

Ada yang paham suatu hal
Ada yang fasih menerka ini
Dari kursiku teremas saja peta penimbunan rasa
Ketika unggun menjadi belaka di nyala matamu kobar segala

Ternyata kau menyangka jitu telak hingga tersesap habis itu gulita 
Merah muda, merimbun segala wajah

Aku selamat
Selamat dari itu tajam mata mulutmu

Ternyata, hampir aku 



teruntuk kau-ku

Teruntuk kau-ku, aku berkata
Selagi lidah masih kuyup oleh tingkah rindu semalam yang mencatut hangat detak sebuah pertemuan
Tunjuk, di ranting mana itu doa akan hinggap
Biar terbasuh melalui embun segala kita yang kau-ku minta jadi raya

Sayang, unggunkan yakin!
Untuk niat paling diingin

Dan adakah yang lebih indah dari itu?
Penyatuan itu 


catatan untuk lalu

Terlalu banyak dupa ditebar belaka dalam madu mulut itu lalu sesak kemudian aroma nama-nama yang entah siapa di bidik pada hari jauh sunyi. Lalu kalian menepuk dada, pongah mengaku tulang rusuk yang hilang menjelma jadi-nya ialah punyamu lalu diam paling jurang itu telak tersurat untuk jantungmu pun para kebanyakan. Lalu terkekeh-kekeh ia hingga bulan menahun di luar jendela lalu cerita merah jambu melulu semerbak dan dimangsa bidak terkecoh bulat-bulat. Lalu siapa gerangan yang di tuju sebelum kata lalu dalam puisi ini tak mujur, kau celaka semisalnya.