pertemuan tanpa nama

Seperti terduga
Meramal arah matanya mematuk
Senyum itu adalah nektar percuma
Melulu melengkung pada bibir bulan sabit muda
Jauh semakin tak jemu ketika segelas cokelat  panas berhasil mengecup itu bibir yang urung melarung nama

Dan sewaktu nota tercekik
Diam-diam dari belakang kubalut itu tubuh dengan sepotong doa sebelum panas kopi di cangkir ini menggigil dan ia menganut dalam hilang


dia membilang

Dia membilang

Sebelum rona langit tembaga terlucuti
Kiranya, melingkarlah dalam erangku
Erat bagai gelap memukul mundur cahaya pada pejam mata

Sayang, benamkan! 
Benamkan!

Aku tau itu rindu sedang mengigil, tunggu apa?
Sedang aku ada di jangkaumu

Begitu dia membilang