menakluk sesuatu yang disebut jauh

Ini tentang kemarin 
Sewaktu di luar jendela 
Hujan pohon mahoni dan jati kian belaka menguyur mata 
Matahari ditelan, dimuntahkan jarak yang menggulung-gulung pinggang 

Ini nekat, begitu lebih dari sekedar tekad 
Jatuh bulat pada kotamu, aku menyebutnya telah menakluk sesuatu yang disebut, jauh  

Seketikanya, sewaktu lekuk tubuh rindu masing-masing 
Leluasa berguguran di ranjang redup cahaya 
Sejenak, kecupan kita saling membenarkan, saling membahasakan 
Bahwa jarak pada akhirnya akan binasa oleh kita 

Begitulah 




8 komentar:

Riesna Kurnia mengatakan...

aaah...aku sukaaa banget sama tulisan ini.. :D
gimana sih mas caranya biar bisa nulis puisi bagus kaya' gini? :D

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ na : caranya sederhana, cukup pacaran sm kamu, lalu beli tiket bis atau kereta jurusan jakarta - banyuwangi :-P

zasachi mengatakan...

Aahhh.. kenapa persoalan kemaren ntu masih juga diingat2 siih?? :p

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ zasachi : hehe, sebab persoalan kemarin yg ini sungguh penuh cihui mbak.

ghost writer mengatakan...

oh sahabat, sebenarnya aku yang dibinasakan oleh jarak dengan kerinduan yg menggigit ini, menerkam perdu mataku saban waktu, toh.

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ ghost writer : oalah...kamu pelaku LDR juga toh ?, hmmm selamat yh dan tetap semangat. :-D

reenapple mengatakan...

Mohon jelas lebih lanjut. Hehe. (Tak faham,)

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ reenapple : hehehe...intinya tentang sebuah perjalanan kemarin ke rmh pacar.