merapal rindu dengan sederhana

Sudah larut, pun gulita masuki rimbanya semakin ke tengah. Dalam kepala, siapa sangka itu wajah paling ranum, terjaga penuh usai runtuhnya jaya senjakala pada semesta. 

Kamu. Lagi-lagi melulu merupa itu. Telak jatuh diapapun terbilang aku. Mendesak mulut menghentak lidah. Sejenak merapal rindu dengan sederhana. Setidaknya, itu saja.



4 komentar:

Noveni As'ad mengatakan...

sederhana tapi bermakna.. :)

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ Noveni : aih...terima kasih ven :-D

Rahma ama A'syair mengatakan...

tau apa ? subhanallah, sepasang kekasih yang serasi, kamu dan puisi , ya kmu :)

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ Rahma ama A'syair : terima kasih sudah dikatakan serasi, meskipun sebenarnya saya dan puisi masih penuh penjajakan yg sungguh sepertinya.