yang terjadi setelah pukul satu

Matamu mendamprat fasih punggung rembulan sewaktu belum habis tinta melautkan kata selamanya 
Hujan itu, kini tak lagi tercekik sadis senyuman-senyuman 
Mereka paham lelaku jatuh 
Paham merawat nyeri yang api 

"Di mana pagi, pintu paling biru dimulakan?", Tanyamu 

Sebelum benar kujawab  
Kutarik saja dukamu jauh 
Jauh ke dalam teduh hutan pinus dadaku 
Di mana, pagi yang dimaksud 
Tumbuh kembang dari situ 




note : judul diberikan oleh Na


belum terpikir judul

Langit perlahan melebam
Di wajahnya, laut bercermin bertukar murung
Memulangkan riuh 
Memulakan sunyi
Menyulam rapat-rapat itu rongga cahaya 
Menghukum segala apapun menunjuk dada

Oalah, semestaku
Mendadak semburat akan wajah-wajah menggigil kini kutipu lagi sendiri 
Dan sesak yang ditetapkan pasrah sudah digoda jarak yang terkutuk

Sayangku, menujumu semoga aku tak pernah kalah





mengecup nyeri tema paling pagi

Kepadanya, tumpah sudah sajakku 
Kali ini pun begitu 
Jangan ditanya telah keberapa 
Tebang saja itu pohon jati dahulu 
Jawabnya tertera di lingkaran tahun tubuhnya 

Dan semisal sekarang 
Selepas langit diperas keras 
Dadaku dihimpit kaki-kaki hujan 
Aku pulang, mengecup nyeri tema yang paling pagi 

Rindu 

Rindu  

Oh, sajakku melulu merayakan itu 



cinta dan lelakimu

Masih membicarakan perkara sesak 
Corong biduan negeri kanguru itu kian meruncing 
Mematuk-matuk tengah dada, melubang di tempat yang itu-itu saja, hatimu 

Pilu, ngilu 

Belaka dua kata disungkurkan berulang-ulang 
Gaungkan sekelumit kisah dua sejoli yang sedang dipentaskan kala

Di cangkir ini, akhirnya kuputuskan langit malam terendam kembali 
Sebab katanya, sungai-sungai di ujung mata belum tersentuh kemarau 
Masih menjadi bah menenggelamkan segala 

Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga tersebut entah 

Dan semacam mencari ketiak ular 
Menurutku, cinta dan lelakimu tak terlukis dalam puisi lengkung pelangi manapun 
Pada wajahmu, pada hidupmu 







menakluk sesuatu yang disebut jauh

Ini tentang kemarin 
Sewaktu di luar jendela 
Hujan pohon mahoni dan jati kian belaka menguyur mata 
Matahari ditelan, dimuntahkan jarak yang menggulung-gulung pinggang 

Ini nekat, begitu lebih dari sekedar tekad 
Jatuh bulat pada kotamu, aku menyebutnya telah menakluk sesuatu yang disebut, jauh  

Seketikanya, sewaktu lekuk tubuh rindu masing-masing 
Leluasa berguguran di ranjang redup cahaya 
Sejenak, kecupan kita saling membenarkan, saling membahasakan 
Bahwa jarak pada akhirnya akan binasa oleh kita 

Begitulah 




selamat ulang tahun, sayang

Kepadamu aku menuju
Menaruh entah ke berapa kali 
Kecupan itu akan diletakan, dihentikan

Di malam dini
Ketika yang tak terhingga
Sibuk bertukar peluh bersama kesenangannya masing-masing

Diam-diam, jauh dari gaduh, jauh di jantung hati
Luar biasamu kuhebatkan penuh sungguh
Tumbuh membumbung menusuk langit
Semarak dalam cerlang harapan di musim-musim yang hendak menantang 

Sebentar lagi, segala ini terjebak dengan nama kenangan 
Kau, melulu terperanjat di puncak doa-doa, kujadikan pemenang 

Oh, kasih 
Meski peluk tak kunjung sampai 
Merenggut adamu yang kian digoda sunyi 
Detik ini, cinta tidak kemana-mana 
Merindu ia dengan selamat 
Rebah kepadamu hanyalah 


"Selamat ulang tahun, sayang 
Semoga segala yang baik 
Jatuh sempurna di segalamu yang penuh baik"


Salam
Kekasihmu 





Kuis karenaseptemberituceria 1

merapal rindu dengan sederhana

Sudah larut, pun gulita masuki rimbanya semakin ke tengah. Dalam kepala, siapa sangka itu wajah paling ranum, terjaga penuh usai runtuhnya jaya senjakala pada semesta. 

Kamu. Lagi-lagi melulu merupa itu. Telak jatuh diapapun terbilang aku. Mendesak mulut menghentak lidah. Sejenak merapal rindu dengan sederhana. Setidaknya, itu saja.



di balik jendela angkutan kota


Di matamu, di mataku. Kadang kita tergesa sebut itu saling menyambut. Dari dalam sini belaka memang: satu-satu tumbuh, bias, pun hilang luruh. Dan ketika aku melaju, menderu dipaksa demikian itu. Sudahlah. Anggap segala ini, sekedar puisi tumpah dan kita tak saling benar mengenal.

Sekian.





sederhana saja

Sederhana saja, 

"Di manakah puisi?"

"Di adamu kukatakan saja."






aku mau secangkir lagi

Dalam riuh yang hendak bertumpuk-tumpuk 
Perjalanan tengah hari kemarin membuat bibirku basah, lidahku apalagi 
Tergelincir belaka dalam genangan hitam yang katanya secara keras 
Ingin sampai kepada kelak pemburu akan nikmatnya di kota-kota 

Di hangat Excelsa itu, di rasa yang penuh penjabaran itu 
Aku serasa jauh sampai di telak pelukan perkebunan dalam hujan ceritamu 

Kalibendo 
Ternyata sebelum kaki tersesat belaka dalam rencana perjalanan penculikan termanis 
Lidahku lebih dulu benar-benar dekat menusuk sudah

"sepertinya aku mau secangkir lagi" 




jangan tanya tentang mengapa

Anggap saja kuberitahu kau 

Malam terjaga akan usia mudanya 
Menghijau dalam sunyi paling jurang 
Memukul telak kelopak mata yang selain ini 
Hingga aku, selimutku melulu lagi bertengkar 

Sudah-sudah, jangan tanya tentang mengapa
Sebab itu telah habis dibakar mulutku 
Sedang kau paham betul ini semua tentang mengapa  
Dihendak siapa  





demikian jumpa itu kubahasakan

Teruntuk jauhku yang enggan selain kamu.

Di suatu hari, kelak kupaham juga mana itu pohon srikaya yang mungkin elok semakin jadi, ketika beradu pandang membanding pohon mangga golek di muka rumahmu. Dahulu pernah dikicaukan kala malam jauh terbilang renta, pun akhirnya memecah tawa kita semakin raya.

Aku menjamin, mungkin lapar ketika itu akan buas. Menagih olahan tepung terigu yang terselimuti kuah kaldu ayam 90 derajat celcius adalah pasti adanya. Atau bila tak sempat, setidaknya kamu daratkan saja nanti beberapa itu potong brownies belaka, dilanjut secangkir kopi arabica dari rahim hijau di Kalibendo. Biar, biar mereka mengepung lapar tepatnya. Mengubahnya berakhir jinak, serupa om belang yang biasa menggelung di kaki Kemala.

Di langit, pastinya ketika itu awan akan beringsut satu-satu. Membias percuma, lelah dijadikan bahan perbincangan sekali-sekali. Hingga tumpah itu jus jeruk di telak muka langit Kalipuro, kita pun masih sibuk mendudukan wajah masing-masing di peluk mata bertelaga haru. Jingga meraja, melebur kita dalam lena asmaraloka.

Oh...jauhku, benar kini jauhku. Meski tanpa pendar lidah cahaya lilin dan aroma sebatang kara mawar nan menggelayut. Demikian jumpa itu kubahasakan. Kelak.




ada masanya, aku sampai

Ada masanya, aku sampai di entah hari akan terbilang apa 

Melingkar hangat 
Menghujan sungguh 
Itu tubuh biar kupenuhi ragam pelukan tergesa 

Pun silakan tumpahkan segala rimbun rindu atasku setelahnya 
Belaka, kau memetik bibirku misalnya 

Sayangku, cumbui ini jarak yang tak terdefinisikan dahulu 
Hingga kelak masanya aku sampai di entah hari akan terbilang apa 

Padamu, perempuanku  

tentang hujan

Teruntuk kamu, Venusku 

Ini pagi sajakmu melulu ada 
Kudapati ia menjamur telak di langitku 
Lena merimbun abu-abu 
Menunggu rintik yang sebentar lagi memanen melumuri bumi 

Dan apa kubilang tadi
Belum benar kata-kata itu mengering
Ia jatuh belaka kini pada segalaku
Yang mengaku hujan 
Yang kunamakan sajak persembahanmu 

Ah, kuyup aku 




kita di sebuah siang itu

Kamu di bukit, aku di kasur
Berpeluk tak jemu di lorong suara menumpah segala itu 
Membiarkan waktu menyusutkan jarak
Hingga bibir menjadi kuyup oleh hujan kecupmu kelak

Dan tanpa mengira
Sesungguhnya sejak sepakat menjadi kita
Pernahkah aku tak disertakan dalam tiap kerumunan segala peristiwa?

Kurasa tidak 
Sebab kamu jauhku, sekaligus dekatku yang paling mungkin

maaf

Anggap saja aku mau benar mengantuk
Sebab begitu tak payah menemu padam kita punya perbincangan berkelok-kelok 
Pun jengah tak berpeluh, kau mengeluh semakin belaka memanjat kukuh purnama di puncak menyebalkan tersiar malam itu, aku

Duhai, yang terbilang pacarku  
Maaf, ketika diri tergelincir percuma 
Teramat bahkan sangat berada seperti demikian 

Maaf 




sepertinya ini puisi rindu

Ini hari aku mengacak 
Rinduku berkelocak 
Anggap saja sejenak menjadi kanak 
Mencari-carimu di tiap anggun kidung asmara berarak 

Hei, pacarku, aku ingin meletak 
Melunak bibirmu yang jauh sungguh kejam berjarak 
Di sini, padaku, biar belaka menghujan membiak 
Enggan sungguh pun beranjak 






nama itu

Nama itu
Peluru yang dimuntahkan jantung di tiap degupnya 
Menyusur sunyi hingga rindu pecah tak lagi jadi kanak-kanak 

Nama itu 
Sepukal alasan Tuhan mengapa selalu ada kepulangan 
Jatuh padanya aku jadi belaka 

Nama itu, sekiranya, demikian




kepala saya penuh

Kepala saya penuh
Mungkin butuh percakapan seberat kapas 
Jangan lupa tumpahkan saja itu jus jeruk di wajah langit
Lalu letakan secangkir kopi tanpa senyum yang dibuat-buat

Ah, ini hari serasa mesti kutumbukan penat yang beranak pinak

Dan pundak itu
Apakah masih belaka untuk pancarobaku? 
Sedang di sana bangku sudah ingin habis terisi

Habis, ingin 




kita tak pernah selesai

Hujan jatuh malam luruh 
Tersedu telak akan pilu rindu 
Mengetuk-ngetuk perlahan 
Kening itu diam-diam selalu tujuan 

Aku mengenang 
Betapa indah kita yang tak pernah selesai 
Meski jauh sudah bosan kubahasakan 
Kita, entah dimulai-Nya lagi kapan?



hampir aku

Ada yang paham suatu hal
Ada yang fasih menerka ini
Dari kursiku teremas saja peta penimbunan rasa
Ketika unggun menjadi belaka di nyala matamu kobar segala

Ternyata kau menyangka jitu telak hingga tersesap habis itu gulita 
Merah muda, merimbun segala wajah

Aku selamat
Selamat dari itu tajam mata mulutmu

Ternyata, hampir aku 



teruntuk kau-ku

Teruntuk kau-ku, aku berkata
Selagi lidah masih kuyup oleh tingkah rindu semalam yang mencatut hangat detak sebuah pertemuan
Tunjuk, di ranting mana itu doa akan hinggap
Biar terbasuh melalui embun segala kita yang kau-ku minta jadi raya

Sayang, unggunkan yakin!
Untuk niat paling diingin

Dan adakah yang lebih indah dari itu?
Penyatuan itu 


catatan untuk lalu

Terlalu banyak dupa ditebar belaka dalam madu mulut itu lalu sesak kemudian aroma nama-nama yang entah siapa di bidik pada hari jauh sunyi. Lalu kalian menepuk dada, pongah mengaku tulang rusuk yang hilang menjelma jadi-nya ialah punyamu lalu diam paling jurang itu telak tersurat untuk jantungmu pun para kebanyakan. Lalu terkekeh-kekeh ia hingga bulan menahun di luar jendela lalu cerita merah jambu melulu semerbak dan dimangsa bidak terkecoh bulat-bulat. Lalu siapa gerangan yang di tuju sebelum kata lalu dalam puisi ini tak mujur, kau celaka semisalnya. 




sejoli

hujan itu

Hujan itu..."k-a-m-u"
Melulu menyusur dadaku yang bumi
 
Jika tak sekarang, pastilah kelak


puisi kemarin malam

Malam jauh menderas 
Pada gulita semakin menukik 
Sebentar saja habis luntur pun membiru 

Gusarku berkelebat 
"Di mana kantukku?"

Sebelum terjawab
Itu wajah, hadir pertama 
Belum jera, kamu mencuri habis itu 


pertemuan tanpa nama

Seperti terduga
Meramal arah matanya mematuk
Senyum itu adalah nektar percuma
Melulu melengkung pada bibir bulan sabit muda
Jauh semakin tak jemu ketika segelas cokelat  panas berhasil mengecup itu bibir yang urung melarung nama

Dan sewaktu nota tercekik
Diam-diam dari belakang kubalut itu tubuh dengan sepotong doa sebelum panas kopi di cangkir ini menggigil dan ia menganut dalam hilang


dia membilang

Dia membilang

Sebelum rona langit tembaga terlucuti
Kiranya, melingkarlah dalam erangku
Erat bagai gelap memukul mundur cahaya pada pejam mata

Sayang, benamkan! 
Benamkan!

Aku tau itu rindu sedang mengigil, tunggu apa?
Sedang aku ada di jangkaumu

Begitu dia membilang