halte

Jingga temaram 
Halte yang lugu
Lalu lalang mesin beroda 
Rintik hujan terakhir 
Hingga kicau penyanyi lusuh 

Ini malam, semua kembali
Mengisi penuh cawan ingatan
Pun tumpah dalam kenangan raya 

Terkecuali, "kita"

"kita" yang kalah   
"kita" yang binasa

Meredup sesak, sendiri-sendiri

Kini 

terompet

Angin lapar memburu 
Di usirnya segala benderang mau telungkup padahal langit enggan jauh pekat 
Sumbu mercon pun masih pongah perawan 
Dan pemantik, elok mendengkur di kios-kios kelontong 

Ah, dasar kanak-kanak 
Secerlang ini, itu moncong mereka punya terompet 
Sudah murah meriah menyalak 
Pun pandai cabuli hening berpuluh-puluh 

Dari dalam terungku, aku merajuk
 
"Woooiiii....berisikkkkkkk..." 

Mereka tak mendengar, lalu riuh kembali

"Toooooeeeetttttt....toooooeeeeettttt..."




untuk titik-titik

Acap kali mataku berhadapan denganmu
Satu lawan satu 
Entah di perjamuan makan malam, di rahim angkutan kota, pun di tepi jalan yang namanya kusembunyikan 

Maaf, bibirku melulu lancar melontar tiga kata seketika belaka untukmu 

"kamu-semakin-cantik" 

Ya, begitulah kamu 




di bibirmu

teruntuk betinaku

senja

Rinduku yang senja  
Rinduku yang renta 
Melulu rebah 
Pada ufuk yang sama 

"kamu"