kala duduk manis satu bangku di lorong suara

Masih sama
Menikmat rembulan, bintang, suara jangkrik hingga denting yang berdenyut ini malam
Semuanya masih sama
Seperti rindumu, rindunya
Kala duduk manis satu bangku di lorong suara
Tempat biasa, dirimu dirinya bercumbu melarung rindu setahun kemarin

"Hei, aku kangen."

Ingatmu tiga kata itu yang paling laris diburu
Berjatuhan menuju telak telinga kota masing-masing
Pecah dalam peluk rasa bahagia tak terkalahkan
Hingga lantang menampik kantuk yang hinggap pun mematuk kedua bola mata

Dan sekarang, seiring keempatnya berdatangan 
Dirimu kembali menjamin akan sebuah rindu yang tak tergantikan
Yang tak pernah habis, pun abadi senantiasa



mencarimu di dalam kamar

Aku melantang 
Ini temaram kutunjuk sebagai musim panen wajahmu kurasa 
Tiap pandang terjatuh, tersungkur tanpa ampun kutemukan kamu percuma 
Pada kusam dinding, langit-langit, reyot daun jendela, ketiak pintu, tumpukan novel-novel cengeng, hingga apapun yang sudah tersepuh hitam raya
Terdakwa indah atasmu senantiasa 

Ketika lengkung teduh di tepian bibir bergincu itu terbit 
Aku berujar dalam relung pilunya malam

"Kelak, aku akan menemukanmu sekali lagi." 


Lalu, malam, bulan, bintang pun aku semakin terjatuh 
Padamu tanpa mengenal titik 

Hingga