terakhir

Hari itu kala senja mulai tersengal-sengal
Jarak itu tipis sekali
Larut meluncur ungu
Riang entah esok

Namun peduli setan bila aku kamu sanggup bersetubuh pada lembar puisi tanpa semai titik belaka

Peluh menyatu
Nafas memburu
Rindu, habis sudah di perjamuan sembunyi-sembunyi
Kitapun semringah mabuk menuju asmaraloka

Larut
Larut
Semakin 



"Bisa peluk aku sedikit lebih erat! Lebih dekap, dari peluk yang sudah-sudah"

Pintamu pecah mengharu biru
Bergema hingga ke lubuk

Ingatku, itu yang terakhir