kemarin di pelamunan

Abu-abu langit mengejek
Katanya hatiku tak sepelaminan dengan debur yang terundang sembarang
Kabur, tapi separuhnya diletakan tak jauh-jauh lagi
Dekat lelahku, kemarin di pelamunan

Ah, kamu, tak seharusnya melenggang menggondol hatiku
Tak seharusnya bukan? 

Tanyaku, namun dilahap ombak












teduh

Malam semakin malam, renta dengan temaramnya
Aku, masih saja anggun melepas kagum
Enggan beranjak meski kantuk hinggap menjemput

Dirinya, di setiap lembar di setiap guratan
Benar-benar cantik, benar-benar menyihir semestaku 

Memandangnya, seperti memandang langit kala jingga meraja 

Teduh, sangat teduh 


"Andai..."

Sejenak khayalanku melambung lancang 



rindu belum sampai

Rembulan mengintip anak perawan semalam 
Tatkala pergi mengecup pantai 
Melarung rindu tersedu sedan sendirian

Tatapnya jauh
Terlontar hingga ke pekat kaki langit

Isak bersemi
Sebidang dada mangkir urung mendekat
Sungguh serba salah kala semusim tak habis menculik kekasih di negeri orang

"Monyet, gue kangen elo
kangen bohong elo yang rasa cokelat."

Gelincir ucapnya jatuh di rahang deru ombak
Menelan rindu yang belum sampai 

Hilang