tablo band (1998-1999)

Kali ini gue lagi ingin nulis yang bukan puisi, sumpah bosan juga nulis puisi melulu, padahal memang lagi mentok juga sih, nggak ada ide buat nulis puisi. Oke kali ini gue mau nulis tentang band jaman putih abu-abu gue yang sempat fenomenal di waktu itu. Catat yah !, Fenomenal. Hehehe...tepatnya fenomenal di kalangan pacar-pacar para personilnya ajah sih.

Yaudah simak ajah yah, Cekidot...

Dulu sekitar tahun 98-an gitu (beuh lama banget yah?), di dalam suatu kelas (tepatnya kelas 2-6) yang sedang tak ada gurunya. Ada sekelompok jejaka sedang berkumpul di sudut kiri ruangan, mereka adalah Robbie, Bakri, Denny, Basuki, Ucrit, Priyo, Black, Joko monas, Emil, dan gue tentunya.

"Eh kita bikin band yuk!", celetuk Robbie.

lalu disambut riuh gempita teman-teman yang lain. "Yuk...yuk..."

"Hmm...emang siapa saja orang-orangnya?", tanya gue.

"Kita-kitalah...", tegas Robbie sembari menunjuk satu persatu siapa-siapa para personilnya.

"Den...elo pegang gitar, Mil...Crit...Kri...elo gitar juga yah!?", tambahnya lagi.

HAH!!! 4 orang pegang gitar? Geleng-geleng gue dan Denny saling pandang-pandangan.

"Yo'...elo yang main bass" Sambil ngelus-ngelus dagunya, Robbie lantas menunjuk ke arah gue

" Ndri...elo yang main drum."

"Hmm...oke deh Bie, trus yang nyanyi siapa ?" tanya gue yang ternyata pertanyaan itulah yang sedari tadi ingin ditanyakan pula sama teman-teman ke dia.

Dengan mantap dan penuh kepercayaan diri yang sangat tinggi Robbie menjawab. "Gue dong yang nyanyi..."

HAH!!! Kaget bin Ngegubrak gue dengar dia yang mau nyanyi. Konon jika diteliti pita suaranya Robbie bukan terdapat di dalam tenggorokan, tetapi berada di dalam hidungnya. Karena kalau dia bicara terdengar seperti hidungnya yang berbicara. Atau lebih tepatnya suaranya seperti "soang" gitu deh. (angsa putih yang suka nguber-nguber atau nyosor orang kalau lewat di depannya).

Belum selesai rasa kaget gue, tiba-tiba Robbie juga menambahkan teman gue, Basuki, untuk ikut gabung sebagai vokalis lagi. Gue langsung ngelus dada Syukur alhamdulillah  dengar dia ngajak orang untuk dampingi suara soangnya itu. 

Setelah penunjukan para personil itu, maka kemudian ditetapkanlah hari untuk kita latihan untuk pertama kalinya. "Hari minggu jam 10 pagi, ngumpul di rumah Denny, jangan telat!!!", pinta Robbie dan disanggupi oleh teman-teman yang lain.

"Kita latihan di mana emangnya", tanya Emil seingat gue.

"amor studio, mang mana lagi?" jawab Robbie dengan suara soangnya.

Hari minggu yang ditunggu telah datang, datang dengan sinar matahari yang sangat bersahabat, ramah, tidak terik, dan hangat di kulit kepala. Satu-persatu para personil band yang dipilih oleh Robbie mulai berdatangan ke rumah Denny; Emil, gue, Ucrit, Bakrie, Priyo, Basuki, dan Andi. Loh kok ada "Andi", siapa dia? Singkat cerita Andi adalah teman sekelas gue juga yang katanya dulu sewaktu kelas satu tergolong jago main gitarnya. Terus sengaja deh gue ajak dia.

Waktu terus berlalu, jarum jam pun menunjuk sudah tidak di angka sepuluh lagi. Jam sebelas, itupun lewat sedikit. Gorengan bakwan yang tadi masih menumpuk hangat kini hanya tinggal sisa tepungnya sama cabe rawitnya saja, itupun masih dicemilin juga sama gue. "Krie...Robbie kemana sih? Datang nggak sih dia?" tanya gue ke Bakrie.

"Nggak tau nih, nggak ada kabar juga" Sembari Bakrie ngelihat jam "Hmmm...apa kita jalan ajah!?"

"Yaudah jalan ajah...lagi pula ada Basuki ini" celetuk Priyo, gue, Andi, dan Emil ketika itu. Kompak.

Dalam hati gue bersyukur, mungkin juga sama dengan yang lain pikirkan. Yess kuping gue selamat, nggak perlu ke THT karena dengar Robbie nyanyi.

"Yaudah, c'mon kita jalan !!!...", ajak gue segera tinggalkan rumah Denny.

Akhirnya kamipun pergi latihan, menuju studio musik dengan tiga pertanyaan yang tumpah riuh di dalam angkot T-19. Dan pertanyaan-pertanyaan itu adalah: 

1. Nanti, mau bawain lagu apaan? 
2. Nanti, mau main berapa jam ?
3. Nanti, mau patungan berapa-berapa? 

Dan ini yang setahu gue pertanyaan yang paling penting jaman gue kalau mau ngeband. Hehehe...maklum, duit terbatas.

Tiba-tiba "cetok...cetok" jari Denny mengetuk atap angkot "Kiri bang...kiri". Angkotpun ngerem mendadak "ciieeeeetttt...." dan kami pun pada jatuh jumpalitan di dalam mobil (sahh...ini terlalu lebay gue nulisnya). pokoknya angkot berhenti deh, terus kita pada turun, dan langsung menuju ke mas-mas yang berambut gondrong sepunggung, agak keriting, dan berpakaian serba hitam tipe anak metal gitu deh. Yang katanya penjaga studio sih.

"Permisi mas...jam berapa yah kita bisa main?" Takut-takut kami bertanya karena penampilannya itu.

Mas-mas itu mengangkat wajahnya lalu menatap kami. "Setengah jam lagi" ia menjawab dengan suara seperti orang yang kemaluannya sedang dijepit di pintu. Pliss jangan dibayangin. Itu porno.

Spontan saja gue, Basuki, Andi, dan Denny langsung buang pandangan jauh menatap apapun yang selain sosok mas-mas itu. Nahan ketawa. 

"Oke deh mas...terima kasih" jawab teman-teman gue yang nggak berhasil membuang pandangan. 

Setelah menunggu selama setengah jam, gue dan teman-teman akhirnya dipersilahkan masuk. Lalu tak lama terdengar bunyi Gedebak-gedebuk, Gonjrang-gonjreng, Gedebam-gedebum dari dalam studio. Hal itu berlangsung selama 1 jam lamanya, itu artinya gue sama teman-teman yang main band cuy (keren yah?). Tiba-tiba "Teeettt...teeettt...teeettt" Bel berbunyi, bersamaan dengan lampu di atas studio yang berkedip merah sebanyak 3 kali, Tanda sewa studio untuk latihan sudah selesai. Begitupun dengan formasi "arisan" yang sebanyak itu, dinyatakan selesai, benar-benar selesai. Dan hanya menyisakan 5 orang saja di latihan-latihan berikutnya, mereka itu adalah; Denny, Andi, Emil, Basuki dan tentunya, gue. 

"Eh...kalian ikut porsenikan, ngewakilin kelas kita?" tanya salah satu teman cewek sekelas gue. Nenden namanya.

"Hmmm...maunya sih ikut" jawab gue dan Emil bersamaan.

Sontak Nenden langsung pasang muka galak plus tatapan mata seperti pemeran antagonis di tivi-tivi gitu. "Loh kok pakai sih? Kalian ikut nggak?"

"Iya...kita mau ikut, tapi ada sedikit masalah nih Nden"

"Pasti masalahnya dana buat latihan yah?" terka Nenden kemudian.

"Hehehe...iya, kok tahu" Malu-malu kami menjawab.

"Yaudah masalah dana gampang, gue bantu, tapi..."

"Tapi apa Nden?" kompak kami bersuara.

"Elo semua harus ikut porseni!!! Awas klo nggak" ancam Nenden.

"Siiiaaappp...Ibu Nenden"

Nenden pun tersenyum, kamipun tersenyum, dan kita semua tersenyum.

Hari demi hari terlewati, kami berlimapun pada semakin sibuk mempersiapkan diri untuk acara tersebut. Sibuk keluar masuk studio untuk latihan, sibuk diprotes pacar-pacar kami karena semakin sering nyuekin mereka, sibuk kena getok ember di kepala, gara-gara pulang malam melulu (kalau ini jelas jatah gue), pokoknya kami berlima semakin sibuk deh, demi Porseni, iya...demi Porseni, apalagi selain itu? Tidak ada bukan? (loh kenapa gue nanya sama kalian yah? Aneh). 

Porseni, wah hebat betul kalau mendengar acara itu, sebuah acara yang paling ditunggu oleh semua murid-murid di sekolah kami tiap tahunnya. Dulu gue dan teman-teman cuma bisa nonton, kini kami boleh ngisi acara tersebut. Maklum kami sekarang sudah kelas 2, karena anak kelas 1 masih belum diijinkan untuk mengisi acara tersebut. Entah mengapa? cuma panitianya dan Tuhan saja yang tahu alasannya.

"Semoga kita bisa dapat juara yah pren" Doa gue yang langsung di "amin" kan oleh teman-teman gue di setiap kumpul bersama ketika ngulik lagu buat dibawain di acara tersebut.

"Tapi ngomong-ngomong, band kita belum ada nama nih ?", tanya gue ke teman-teman. 

"Hmmm...iya juga yah" sambut Denny dan Basuki.

"Gini ajah masalah nama band, belakangan ajah...yang terpenting kita matengin lagu dulu deh...supaya pas di atas panggung nggak malu-maluin nama kelas kita" jawab Emil sangat diplomatis membuat gue, Basuki, Denny, dan Andi jadi terharu. Seperti bukan emil saja, kira-kira seperti itulah yang dipikirkan gue dan ke-3 teman gue lainnya.

Ketika tahu kalau acara Porseni sudah semakin dekat dan nama band kami tercantum di dalam list peserta. Sumpah...kami senang betul, terlebih banyak teman-teman sekelas yang mengucapkan "selamat yah, semoga kalian dapat juara". Aih indahnya. 

Namun rasa senang itu langsung lenyap seketika, ketika gue pertama kali tahu kalau nama band kami adalah,"Tablo" (tablo = tampang blo'on). Kenapa sih dinamakan tablo? Kenapa nggak dikasih nama "soneta" ajah, siapa tahu bisa setenar band Bang Haji, kelak. Eh tapi itu dangdut yah? Berarti nggak jadi deh. Mending Tablo ajah deh namanya. By the way kalian tetap mau tahu nggak, kenapa band gue dinamakan "Tablo?" Hmmm...mau tahu, beneran nih, sumpah? (apa sih ndri...) 

Jadi begini ceritanya, waktu latihan kami yang keberapa kalinya itu (hmmm...maaf gue lupa, itu pas latihan yang keberapa yah? Ah sudah lupakan...gue lupa...Lanjut cerita ajah deh). Waktu teman gue Denny dan Andi mendaftarkan nama band kami pas mau boking tempat untuk latihan (maklum waktu itu mereka datang duluan), Mas-mas gondrong itu nanya begini, 

"Kok bokingnya pakai nama orang mulu, emang bandnya belum ada nama yah?" 

Spontan mereka bilang, "Ada kok mas, namanya tablo." 

"Hah...apa nama bandnya?"  Mas-mas gondrong itu sempat ragu dengarnya.

"Tablo band mas."

"Oh...tablo...". konon menurut cerita Denny pas Mas-mas gondrong itu tahu nama band kami adalah Tablo, dia itu langsung senyum-senyum nggak jelas, yang menurut kesimpulan gue pasti dia berpikir nama band dengan tampang elo-elo kok bisa sama yah? Sama-sama blo'on.

Pantas saja ketika gue, Emil, dan Basuki tiba ke studio. Mas-mas gondrong itu mandang ke gue dan teman-teman gue selalu senyum-senyum nggak jelas.

"Iya yang berikutnya...tablo silakan masuk" Mas-mas gondrong itu mengingatkan. Masih senyum-senyum pula.

"Hah? Apa? Kok...namanya tablo?" tanya gue heran sembari masuk ke dalam studio, dan langsung menuju ke arah drum.

"Iya tadi spontan gue kasih nama itu, habis nggak kepikiran nama yang lain sih" Denny menerangkan dengan mudahnya.

"Tapi kenapa tablo Den? Emang tampang kita blo'on-blo'on yah ?" tanya Emil kemudian, sembari mengalungkan gitar dan langsung mengetesnya, "Jreeeennngggg...".

"Hehehe...intinya biar gampang diinget ama mudah diucapkan ajah" Andi menambahkan.

Dan sampai sekarang tidak diketahui tentang alasan yang jelas, mengapa dan kenapa band kami dinamakan Tablo. Yang gue tahu cuma tiga alasan saja, "spontan, biar gampang dingat, dan diucap", That it.

"Gimana...sudah siap untuk isi acara porseni? Tinggal 1 minggu lagi loh" tanya Nenden suatu hari ketika kami sedang nongkrong di pojok kelas.

"Sudah Nden..." jawab kami sembari cengar-cengir.

"Mau bawain lagu apa?"

"Lagu sendiri."

"Hah...lagu sendiri?" Nenden kaget, dan matanya yang agak sipit tiba-tiba membesar.

"Lagu apaan emang?"

"Ada deh..."

"Apaan sih? Kasih tau dong!" rengek Nenden dengan mimik wajah seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan oleh ibunya.

"Dewi mimpi, Nden, kita mau bawain lagu judulnya dewi mimpi..."

"Hah...lagu apa tuh? Bagus nggak? Mau dengar dong!" pinta Nenden kembali.

"Hmmm...kalau mau dengar, besok ajah datang ke rumah Denny" Ajak Emil diiringi ajakan yang serupa oleh yang lain.

"Hmmm...gitu yah? oke deh...besok gue datang kesana, emang jam berapa?" 

"Jam sepuluh pagi...ajak yang lain juga yah Nden!" sembari Emil merentangkan kesepuluh jarinya.

"Oke..."

Esoknya Nenden dan beberapa teman sekelas kami datang ke rumah denny bersama beberapa teman -teman wanita sekelas kami yang lain, tapi maaf gue lupa siapa-siapa saja yang datang. Yang gue ingat hanya Nenden dan Dewi Melanie saja. Waktu itu yang gue inget mereka datang pas kami sedang ingin mainin lagu Dewi Mimpi. Lagu yang rencananya kami bawakan ketika Porseni nanti.

"Jreenggg...Jreeenggg...Gonjreengg..." Seperti biasa Andi memainkan gitar akustiknya, diikuti Emil, lalu suara bass Denny, dan yang terakhir suara vokal Basuki mulai melahap kata per kata dari setiap liriknya.

Saat malam tiba sertai tidur lelapku 
Ku lihat dirimu di dalam mimpiku 
Tersenyum manis dari wajah cantikmu

Seolah sejukan luka di hati
Akankah kita selalu bersama

Reff: Janganlah engkau pergi
       Biarlah ku terus bermimpi
       Bersama dirimu dewi
       Dewi mimpi…

Takkan pernah ku lupa kenangan di malam ini
Sungguh ku terpesona bahagia bersamamu
Akankah ku berjumpa dengan dewi mimpiku

Di dunia ini atau di kemudian hari
Bersama selalu takkan lagi terpisah…

Kembali ke reff.


"prok-prok" tepuk tangan Nenden dan teman-teman yang baru datang tadi.

"Bagus lagunya..." seru Dewi Melanie dan yang lain yang sedari tadi mencoba ikut bernyanyi meski baru mendengar.

"Hmmm...suara elo juga bagus Wi" puji gue dan yang lain.

"Mau jadi backing vocal kita pas porseni nggak Wi?" pinta gue. Juga diiyakan oleh yang lain.

"Hehehe...suara gue jelek kale, malu gue ah" jawab Dewi tersipu-sipu.

"Kagak...suara elo bagus kok, gimana mau ikut nggak?" gue mencoba menyakinkan.

"Iyeee...bener tuh suara elo bagus..." sambung Emil dengan mulut yang sudah penuh dengan gorengan bakwan.

"Yaelah pakai lama lagi mikirnya..."

"Hmmm...oke deh, demi kalian..., eh... demi kelas kita deng..., gue mau deh"

"Nah gitu dong..." seru gue dan yang lain tentunya.

Lalu setelah diangkatnya personil baru itu, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Porseni. Sumpah seluruh personil band kami ketika hari itu datang, menyambutnya dengan cara yang beragam. Ada yang tenang-tenang saja, ada yang grogi, ada yang kebelet pipis, ada yang nggak mau ngelihat band lain perform (itu gue), ada yang milih pacaran di halaman musholah (itu juga gue. parah banget yah gue?). Pokoknya waktu itu yang gue ingat band kami mendapat jatah naik panggung setelah sholat dzuhur dan hanya diperbolehkan membawakan lagu sebanyak 1 saja. Itu dikarenakan jumlah peserta yang terlalu banyak yang berpartisipasi dalam acara porseni kali itu.

Akhirnya moment-moment yang paling mendebarkan itu benar-benar terjadi. Di mulai dari pemberitahuan teman-teman sekelas "Habis ini band elo naik, siap-siap di samping panggung". Wajah kami mulai pucat. Dan bertambah pucat lagi ketika band yang sebelum kami perform sedang menyelesaikan lagu metallica di atas panggung. Mungkin bisa jadi ketika pembawa acara mulai memanggil nama band kami. Gue dan teman-teman band gue tidak jadi naik ke atas panggung dikarenakan semua personil pada pingsan dan mulutnya dilalerin.

Lalu pembawa acara mulai menaiki panggungnya, dan sewaktu tangannya meraih pengeras suara, ingin memanggil nama band kami. Detak jantung gue dan mungkin sama dengan apa yang dirasakan oleh teman-teman band gue, semakin kencang, wajah semakin pucat, kaki semakin gemetaran, perut mual, dan kebelet pipis (sepertinya gue menceritakan terlalu lebay deh). 

"Oke...band selanjutnya yang akan tampil, adalah dari kelas 2-6 mereka adalah..." Ada jeda sebentar, sepertinya pembawa acara sengaja diam sesaat, tahu benar bagaimana cara menambah efek kejut bagi para penonton.

"Tablo band...dengan lagu sendiri...Dewi Mimpi...mari kita sambut mereka!!!"

Mereka-mereka inilah yang tepuk tangannya paling keras pas band gue perform.

Tepuk tangan meriuh, tumpah percuma terdengar heboh ditelinga. Dan lucunya ketika sampai di atas panggung baru gue sadar tenyata yang tepuk tangan nan heboh itu hanya dari teman-teman gue sekelas.  Penonton yang lain hanya pada diam dengan ekspresi wajah "Siapa sih mereka?". JLEB.

Di atas panggung andi dan emil mulai bersiap ambil posisi, lalu dipertemukanlah kliper ditangannya dengan para dawai yang telah siap senandungkan nada-nada yang tersimpan di dalam rahim sang gitar. Intro pertama mulai mengalun dan kemudian diiringi gebukan drum dari gue. Bass denny mulai mengikut, begitupun dengan vokal basuki dan dewi melanie yang saling berpeluk membentuk harmoni dan cukup berhasil menghipnotis sebagian besar penonton. Di tengah lagu yang kami mainkan, lengkingkan melodi berhasil dilunaskan oleh jemari andi tanpa cacat, begitupun dengan yang lain terkecuali gue, karena gue sempat mukul cymbal 2 kali tidak kena, dikarenakan bergaya sok mukul pakai tidak melihat lagi. Dan akhirnya lagu dewi mimpi berhasil dibawakan dengan selamat oleh kami di atas panggung. Lalu kemudian inilah yang paling ditunggu dari setiap band yang usai perform. Iya tidak lain tidak bukan adalah ; tepuk tangan yang meriah. Memang benar tepuk tangan langsung membahana seantero penjuru sekolahan, tumpah lebih meriah melebihi tepuk tangan yang di suguhkan oleh para penonton sebelum kami naik panggung tadi. Mengharukan, sangat mengharukan. 


Check Sound sekalian bawain Intro (yang ada di album band gue)
Dari Kiri-Kanan : Emil, Denny, Basuki, Gue, dan Dewi Mellanie.

 
Dari Kiri-kanan : Emil, Denny, Dewi Mellanie, Basuki, Gue, dan Andi.

Gue baru sadar kenapa bajunya pada dimasukin yah ?.

Jarum jam pun berlalu, mulai bergeser perlahan menunjukan angka 3 pada ujung jarum panjangnya dan ujung jarum pendeknya menunjuk ke angka 6 lebih sedikit. Tanda sebentar lagi kalau pengumuman juara atas semua kategori akan segera di umumkan. Dan sampailah itu, saat-saat pembacaan juara untuk kategori band yang ditunggu-tunggu oleh semua peserta yang berpartisipasi kali itu.

"Oke...sekarang saya akan bacakan juara-juara untuk kategori band pada porseni kali ini, mereka adalah..." sambil membuka lipatan kertas yang berisi nama-nama juara yang diberikan juri, pembawa acara mulai membacakanya satu persatu-satu. 

"Juara harapan tiga, jatuh kepada ....... band (maaf saya lupa nama bandnya)" langsung disambut tepuk tangan dari semua penonton.

"Juara harapan dua, jatuh kepada...Tablo band" Belum selesai pembawa acara mengucapkan kalimat kepada para juara diharap naik ke atas panggung. gue, Denny, dan Andi langsung loncat-loncat nggak jelas, senang tak terkira. Gila baru sekali naik panggung langsung dapat juara (padahal cuma juara harapan dua, sudah senang kayak begitu, apalagi juara satu....ah bodo, yang penting juara). Tepuk tangan dari teman-teman sekelas kembali terdengar ketika Andi yang naik ke atas panggung mewakilkan band kami untuk menjemput hadiahnya. Aih tepuk tangan itu, sungguh tak bisa dilupakan, hadiah paling berharga dari hadiah yang sudah diberikan oleh pihak sekolah berupa beberapa botol minuman yakult dan 2 bungkus permen kepada band kami. 


Foto Bersama Usai Mendapat Juara 2 harapan 2
Dari Kiri-Kanan, Atas : Dara, Andi, Gue, Emil, Willy
Bawah : Nenden, Basuki

Dari Kiri-Kanan : Dara, Dewi Handayani, Willy, Andi, Denny, Gue, Emil dan Basuki.

Dari Kiri-Kanan : Atas : Dara, Andi, Gue, Emil, dan Willy
Bawah : Nenden, Denny, dan Basuki.

Foto Bareng Teman-teman Sekelas.

Foto Bersama Fans, Seusai Mendapat Hadiah.


Setelah acara porseni kali itu, kita pun mulai jarang latihan seiring naik kelasnya kami ke kelas 3 dan masing-masing personil sudah tidak sekelas lagi. Denny dan andi berada di kelas 3 IPA 1, Gue berada di kelas 3 IPS 1, Emil berada di kelas 3 IPS 3, dan Basuki berada di kelas 3 IPS 4. Selain itu pula terdengar kabar kalau di antara kami termasuk gue, mulai membentuk band lagi untuk acara porseni selanjutnya. Namun gagal, acara porseni di tahun 1999 tidak diselenggarakan. Di tahun ini pula kami memasukan Ekins dan mengantikan emil untuk mengembalikan posisi gitaris ke Denny dan posisi bass diisi oleh Ekins. Formasi baru ini sempat beberapa bulan berjalan namun akhirnya berhenti kembali karena di tengah perjalanannya, salah satu personil kami, Andi. Memutuskan untuk keluar dari band dengan alasan ingin menekuni agama. Sejak itulah akhirnya band ini benar-benar berhenti hingga sekarang.  Dan cerita tentang sebuah band yang fenomenal ini, "Tablo Band" hanya tinggal kenangan. Tentunya kenangan yang paling madu bagi gue dan teman-teman yang lain.


Formasi Awal (kiri-kanan) : Gue, Denny, Emil, Basuki, dan Denny.

Formasi Baru Sebelum Bubar (kiri-kanan) : Basuki, Andi, Gue, Denny, dan Ekins.

Personil Tablo band.

  • Andi : yang utamanya adalah main gitar, tapi kadang main bass dan ngisi suara latar juga.
  • Emil : yang utamanya adalah main gitar, tapi kadang main bass, nyanyi, dan ngisi suara latar juga.
  • Denny : yang utamanya adalah main bass, tapi kadang main bass dan ngisi suara latar juga.
  • Basuki : yang utamanya adalah nyanyi dan kadang ngisi suara latar juga.
  • Gue : yang utamanya adalah main drum, tapi kadang juga suka nyanyi juga.

Personil Tambahan.

  • Dewi Mellanie : yang utamanya adalah suara latar.
  • Ekins : yang utamanya adalah main bass.

Tablo band juga menghasilkan 4 lagu karya sendiri (*) yang sudah berhasil di rekam di albumnya yang bertajuk "10:30" yang merupakan album pertama dan terakhir kebersamaan dengan Andi dan Emil.

1. Intro.
2. Dewi Mimpi (*).
3. Boullevard - tribute to danbryd.
4. Datanglah (*).
5. Radja - tribute to /rif.
6. Kasih Jangan Kau Pergi - tribute to bunga.
7. Cewek Gue (*). 
8. Neutral Boy (*).
9. Dewi Mimpi (*).
10. Cewek Gue (*).

Ini adalah Album Pertama dan Terakhir (tampak depan).

Bagi yang ingin Kupingnya Rusak, silakan DOWNLOAD ALBUM KAMI DI SINI dan DI SINI JUGA.


Tampak Belakang.


Sekilas Info Tak Penting Dalam Album Ini.

Basuki.
Nyanyi di lagu Dewi Mimpi, Boullevard, Datanglah, Radja, dan Neutral Boy.

Emil.
Nyanyi di lagu Radja dan Kasih Jangan Kau Pergi.
Suara latar di lagu Dewi Mimpi, Cewek Gue, dan Neutral Boy.
Main bass di Intro.

Denny.
Suara latar di lagu Radja.
Main gitar di Intro.
Main drum di lagu Cewek Gue.

Andi. 
Suara latar di lagu Radja dan Kasih Jangan Kau Pergi. 
Main bass di lagu Cewek Gue.

Andri. 
Nyanyi di lagu Cewek Gue.

Dewi Mellanie. 
Suara latar di lagu Dewi Mimpi, Boullevard, Radja, Kasih Jangan Kau Pergi, dan Cewek Gue.

Dian, Dara, Nenden, Yupita, dan Willy. 
Yang sorak-sorak kalau ada kesalahan.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Wew, ada nama gw kebawa juga, hehe jd senyum-senyum kalo inget yang dulu.. Kenapa bubar tuh, harusnya dilanjutin aja.. :)

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ anonim : mauny sih begitu..., btw kamu di tulisan ini berperan sebagai siapa yh ? :-D

Fairysha mengatakan...

whaaa,,ini postingan andri yang terpanjang kayanya ya??? hehehe...ikut terhanyut merasakan gegap gempita perjuangan tablo bandnya ndrii,,,sayang banget cuma sebentar yah... :D

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ fairysha : hehehe...sengaja dibikin sebentar cha, soalny klo lama ngebandnya, takut ntar nyaingin dewa 19...hahaha narsis :-D