kembang api



Aku melesat tersulut pemantik
Berdentum...
Hingar bingar seantero langit

Aku terbang 


Pecah...
Cerai berai menghias temaram

Bila aku lakon utama pesta malam ini
Mana senyum dan tepuk tangan kalian?

abu-abu



Menepi sejenak
Meraba siluet sisa mimpi dengan pandang hinggap jauh
Jauh...
Menjejak sampai ke langit teduh abu-abu
Tertegun...
Membiarkan embun merajai permukaan mata
Basah...
Basah...
Semakin menjadi




"Pujaanku..., hari ini aku melihat langit dengan warna yang sama. abu-abu. warna tubuhmu yang kucinta, tiada tara..."

Lirih suara bagonk, pilu mengenaskan.


untuk ibu

Malam ini aku ingin berbisik semesra mungkin. Semesra hembusan kipas angin renta, yang sedang menyibak lembut riak rambutku. Lembut, macam jemarinya dahulu ketika menyemai kata-kata "sayang dan bangga" terhadapku. Tepat di atas ubun-ubunku.

"Bu, selamat hari ibu. Andri rindu ibu, cinta ibu. Selamanya."

Bisikku pun meleleh di kedalaman isak. Melamurkan pandangan di hadapan lembar fotonya. Luruh, tersedu sedan.

bagong majnun

Semalam mata bagong menjelma kekelawar
Mengaduk-ngaduk langit
Memburu butiran sempoa pada wujud sempurna rembulan 


"Pesolek, kapan kamu pulang?" 
Sayup bibir bagong melarungkan resah
Sesaat menyibak tirai, menyontreng purnama ketiga

Mengulur tangan, selamatkan kekasihnya dari ingkar

Meski almanak berbisik, "Ia tak akan pulang."
Bagong tak bergeming, gila pada penantian
Sampai tertidur bersua benderang


aku jatuh namun takut ketahuan

Aku mudah jatuh terlebih padamu
Mungkin sebentar akan sama seperti mereka
Terhuyung tersungkur mabuk sebelum arak berhasil terteguk

Dan selepas ini hari semua berkejadian

Aku jatuh, jatuh hati sesaat mataku matamu duduk satu bangku dalam ruang temaram raya
Diam, lalu kikuk menggeliat mengkudeta paras
Sejenak berganti rona, merah muda melanda
Dan cinta, tetap tertahan jongkok takut ketahuan




eh


panggil aku seterusnya
"eh" 

jangan dilebihkan, 
apalagi dikurangkan 

cukup 
"eh" 
saja 

dengan begitu, 
kedekatan ini jelas kadarnya  

*terkadang, lebih baik menjadi makhluk asing dari pada dikenal menjadi makhluk yang terasing

misteri aroma asam tak lazim

Buyar sudah waktu bersantai setengah hariku, ketika selasa sore kemarin aroma asam tak lazim merambat naik lorong penciumanku. Melongok langsung, merajai tanpa sungkan. Meski telah lunas berucap salam terlebih dahulu, namun menurutku tetap saja tak elok. Sungguh.

"Sepertinya berasal dari sini?" terkaku sembari mengembang-kempiskan cuping hidung, macam Sherlock Holmes mencari petunjuk pecahkan sebuah kasus.


Kala itu tiada sudut ruangan yang tak luput dari dugaanku untuk dijadikan tersangka. Satu per satu ku interogasi dengan cara menodongkan moncong hidungku, berharap ada yang mengacung, unjuk gigi mengakui dengan gagah "Hei, Andri, di sini aku berada."

Namun nihil, perburuan tetap tiada hasil. Aroma itu tetap pongah, nangkring tak ditemukan. Sampai-sampai mesti melepas senjata andalan terakhir, kamper. Berserak sembarang di sudut-sudut ruangan. Untuk saat ini, hanya itu senjata andalanku yang kupunya.


Menit pun berlalu, melompat genit sebanyak 30 kali, dan memaksa pencarian untuk sejenak diistirahatkan. Sementara, ya, hanya sementara.

Lalu

"Bremmm... bremmm..."
 Suara Revo kebanggaan kakakku mengaum, merapat menuju beranda rumah.


"Krrreeekkk...Beg...Beg...Beg..." Suara panjang pintu terbuka, diikuti derap tambun langkah kaki kakakku.

Tiba-tiba,
"ANDRIIIIII.......TUMPUKAN BAJU GW DIBERAKIN BININYA BAGONK NIH." teriak kakakku menggemparkan, sesaat memasuki kamarnya dan mendapati bingkisan paling ikhlas dari seekor makhluk bersuara manja. "Meooonnng..."

Tercengang. Selebihnya, muntah-muntah.


kala ederra memanggilku pangeran

“Ederra.”

Pernah terdengar ringkas angin bersenandung merdu akan namanya. Teruntai manja pada pucuk dedaunan dan gemulai ilalang, kala bermandikan cahaya emas di pancuran senja. Menawan, sangat menawan.

Hari ini kejahilanku menggeliat kembali, berulah lagi. Sepertinya tak jera dengan pasca efek getir yang selalu mengekor. Hari ini untuk yang kesekian kalinya, aku berusaha membangkitkannya. Menarik selimut dari peristirahatan terempuk. Meringkuk serupa lengkibang di rahim kotak surat mutakhir tempaan gmail. Pelan-pelan, sedikit hati-hati, hingga tersibak tabir pengunci sementara.

“It's me skrng ga becanda lg,” sapaan hangatnya terhias pada senyum sari tebu yang selalu tersaji ketika mataku berkunjung. Selalu.

Seperti berdiri menghadap lorong waktu, sorot matanya seperti magnet. Mahir benar membujuk diriku untuk melepas simpul kesadaran, bergegas bertamasya ke tempat tujuan yang di maksud. Tetap sama, tempat tujuan itu bernama “lampau.”.

Sketsa demi sketsa satu persatu mulai nampak tersingkap, berjajar elok, absen menjalar masuk ke dalam tempurung kepalaku. Hingga terhenti pada sebuah sketsa berwarna ungu, warna kesukaannya di sketsa kesukaanku.

Pada sketsa itu, aku teringat kala berdialog beradu peran dengannya. Selayak tokoh di dunia dongeng pada umumnya, aku tersemat dengan sebutan “pangeran” dan dirinya teruntai dengan panggilan “putri”. Terdengar lucu nan menggelitik, bukan? Bergidik macam lubang telinga dikunjungi sehelai bulu ayam. Berkesan manis, tak sekedar manis sari tebu yang terecap. Sulit untuk didefinisikan oleh lidah logika para khalayak. Sampai berujung efek ganjil. Senyum-senyum sendiri, gila sehari penuh, hanya di hari itu.

Tiba-tiba,

SYYYAAAAPPPP

Layar monitor mendadak berubah hitam, bersamaan dengan redupnya benderang, melenggang mesra bersama perginya udara dingin pada ruang tempat kerjaku. Seperti mengisyaratkan signal misteri kepadaku, sejenak memarkir lamunan hanya sampai di situ. Ya, hanya sampai di situ. Memarkir satu liang bersama aliran lisrik yang sedang mati suri.

Ingatku seusai sadar. Itulah sketsa paling manis bagiku, sekaligus sketsa paling bungsu tentang kita.

“Hmm, pangeran.” Sebentar ku kenang lagi akan seruan itu. Sekali lagi sambil menatap nanar ke arah layar monitor yang masih loyal dengan hitamnya, sebelum ku beranjak meninggalkannya.

Mengingat panggilan itu, seolah-olah ragaku ringan melebihi kapas, bahkan lebih ringan lagi. Mendadak terhempas meninggalkan bumi. Enggan berpijak, tinggi, hampir mencoret-mencoret langit.