longing

hujan tinggal segelintir 
melepas mega nan kelabu 
melampaui senja menuju pendar rembulan 
pada malam usia muda 

di langit, mataku kian berpencar 
meraba, mengeja, temukan kompas pada lautan lintang sekenanya 
mencari tahu di mana letak pelukan terhangat 
sendari bersemayam

aku rindu kamu sayang 
rindu sekali 
tapi tak tahu ke mana aku mesti pulang

menujumu


menujumu 

kirai

Meremas ingatan dapat secangkir kuteguk sayang-sayang, kala sore itu menunggu reda hujan kuda besi di jalan istri ternama presiden RI pertama. Menunggu reda, sampai bertambah bengkok tulang ekorku.

Rekah senyum sedari secuil hingga melebar hadir selalu tanpa diminta, saat kulempar pandang ke luar kaca. Loncat sejenak, mencuri rentetan aksara yang senantiasa anggun bersandar pada lempeng hijau, kokoh ditopang besi sewindu, diserbu jerawat karat pada tubuhnya. Berdiri paling egois pada sisi kiri rahang gapura renta, yang setiap hari melahap habis cemooh terik bahkan rintik.

"Kirai," gumamku dalam hati.

Membacanya seraya menyusun kembali potongan puzzle lawas yang terserak ditumpahkan masa, menjadi sebentuk romance yang lambat laun terangkai menghias lamunan. Paling manis, paling madu. Madu yang paling manis.


Hening sendiri, terhanyut memori, khidmat yang sangat cantik.

Tiba-tiba.


"Ongkosnya,  Bang, ongkosnya." Suara berat lelaki seberang pulau Sumatera, bergemuruh dengan buntut gemerincing koin logam, beradu bertumpuk pada telapak kekar tangannya. Hadir tepat di hadapan parasku kurang dari setengah jengkal, menagih tarif, memporak-porandakan seantero lamunan maduku, meluluh-lantak, sirna seketika macam pesulap berucap, "Abrakadabra."

"Nih,  Bang." sembari kugelontorkan tiga lembar uang berlambang Patimura dengan parang terhunus tajam, mengancam menyeramkan dari dalam saku celanaku. Lelaki itu lantas berlalu meninggalkanku jauh-jauh, kembali menelusup menagih tarif ke sesama pengguna jasa kuda besi ini yang lain. Tentu saja dengan suara berat dan buntut gemerincing koin logam yang merupakan trademark-nya.

Dan untuk sekali lagi, aku pun nakal tuk sejenak. Menoleh kembali, mencuri pandang ke arah mahkota jalan kecil yang sangat beruntung itu. Beruntung karena pernah di anugerahkan untuk menimbul-tenggelamkan sang penakluk hati selama hampir tiga musim, dengan berbagai ragam pernak-pernik magis cintanya.

"Kirai," gumamku kembali.

Nampak mulai nanar, kini tak mampu teringkus oleh mata. Saat jarak pandang mulai mengendur, menjauh melamur, luruh terbenam.



menemui hening

Aku pulang
Menemui hening
Istri tuaku yang ku tinggalkan

Di malam uzur
Di puncak temaram yang jalannya makin berkelok

Diam sejenak
Perangi suara
Bisu sebisu-bisunya...

Kecuali hati
Diperkenankan mendengkur manja
Komat-kamit, ucap mantera bukan sembarang

Lepas raga...

Lepas raga...

Sampai di mana aku mengarun
g kisah semalam
Memanggilmu dengan panggilan "yank"
Paling hangat, pada telinga bagian kanan

Mimpi ini sebanding madu
Kurasa khalayak tak akan punya

Sungguh tak akan punya