cerita kemarin malam

Di lambung kamar, terkecup aku oleh tembang-tembang lawas yang terperangkap cakram mp3 bajakan. Angguk-angguk, goyang kaki, memanen khayalan, sampai berujung malas menyentuh air ini malam.

Stella, cukup setia engkau memanjakan lubang hidungku. Cukup setia dengan aroma kesukaanku. Apel hijau, ya, apel hijau, berulang kali, senantiasa. Lalu apa kerjamu duhai pemutar angin nan renta? Mematung bak berhala tak sedap pandang. Menatapku ibarat makhluk asing rekaan sineas eropa.

Ini aku, jika kau lupa maka kuperkenalkan kembali.


Aku sang bayi besar, majikan ragil yang saban malam ternina bobokan olehmu, yang saban malam terhibur tarian mahsyur kepalamu. Ingatkah kau sekarang?

Bila ingat, melenggoklah! Kanan kiri seperti biasa. Racik ramuan harmoni penghibur hati, bersama tembang lawas serta aroma stella nan semerbak. Disatukan, guna menangkal sihir sang penyamun elok yang mulai menderu, bergemuruh, menyerang dengan bala tentara terdahsyat. Menyeruak liar dari dalam peti usang, di liang gudang yang tak terkunci zaman.

Pintaku, hanya tak ingin nelangsa tiap usai datangnya.

"Itu saja, itu saja Tuhan."

Lalu aku pun tertidur, terlelap, terbuai, sampai malam menanggalkan detik per detiknya, menuju pelukan haru lembayung sang fajar. Mengelontorkan gerbong-gerbong kesadaran, merapat menuju stasiun jasadku sampai lengkap nyawa selusin.

Aku pun terbangun, semingrah kala mencetak raut wajah di paras cermin. Senyum ini, serasa madu di ujung lidah, nektar bagi para serangga. Langka bak flos florum atau holy grail yang tercetak pada legenda. Patut bahkan sangat untuk disyukuri, aku serta hatiku.

"Ternyata, aku sudah boleh buka perban, kawan."


pencuri wajah

Kamu mencuri wajahnya dari punggung kekasihnya. Diam-diam, tanpa sedikit pun matanya, berhasil menyergap matamu. Tiga kali sorot tak pernah puas, esok terulang, tak pernah lulus, tak pernah lunas. Sampai-sampai rupa wajahnya enggan bias, lekat di setiap pandanganmu terjatuh. Di dinding kamar, langit-langit, lantai kamar mandi, piring makan, cangkir kopi, sendok garpu, buku jurnal, muka meja, jendela bis kota, sampai di semua tempat, di semua benda, sembarang saja, tak terhingga.

Bila ini malam serupa tikar, pasti ringkas kamu gulung serta rapikan. Bahkan mungkin separuh rembulan yang tinggal kenangan itu tewas juga, tercelup ke dalam es teh manis yang nasibnya kian menit kian memburuk. Lalu setelahnya, dengan sigap pandanganmu akan bergegas melompati pagar. Menuju wajahnya, mencuri kembali dari balik punggung kekasihnya. Senantiasa pada hari esok, yang masih tergolek di lembar almanak berentet, menunggu tersobek."Kapan kamu berhenti mencuri wajahnya kawan? Mengapa tak ubah haluan tuk mencuri hatinya saja?" Lontar tanyaku kala itu."Entahlah." tukasmu sembari melafadzkan kata abadi pada setiap tanya, pada setiap rambu kerut, tanda orang heran mendarat di dahi ketika berpapas muka dengan kelakuannya. Seterusnya, selalu begitu, hingga benar sampai kini.


tentang hasta ria



Pertemuan kita lewat angin, masih ingat, kan? Bila tak salah, kala itu senja sedang ranum-ranumnya, genit dengan blush on keemasan di pipinya. Aku yang masih setia menekuri lantai, sontak keheranan menyaksikan para alfabet yang bermunculan pada layar ponsel. Laksana ratusan bunga english roses yang merekah berulang kali setiap tahun, tak pandang musim, dengan wewangian aroma santun yang tiada tara. Bahkan santun abdi dalem keraton sekalipun, mampu dikangkanginya tanpa terkecuali.

Rentetan anak peluru entah sudah berapa kali termuntahkan dari moncong senapan rasa penasaran kala itu. Hingga satu persatu pion-pion rahasia terlemah, dapat dengan mudahnya melambaikan bendera putih. Ternyata kita lahir di bulan yang sama, tepat di bulan ketiga. Kendati beda satu tahun, rasi bintang, genre musik, film, dan hal remeh temeh lainnya, sepertinya aku mulai terjajah olehnya. Terjajah oleh rasa nyaman, buntut dari perkenalan kita kala itu.

Setelah hari itu bila ada kesempatan, entah itu secuil atau melimpah ruah. Saban pagi, siang, sore, maupun malam, bila tak sempat berkicau murai. Sudah pasti kita akan saling menebar jentik aksara. Kendati sekedar hanya menyapa ; “selamat beraktifitas atau hati-hati di jalan”, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan efek kejutnya mampu meruntuhkan puncak himalaya rasa penat setelah seharian bergumul dengan lembar-lembar duniawi yang dalam kesehariannya terbiasa tergolek manja di meja kerja masing-masing. Berjemur bak para turis pemburu matahari di pinggir pantai kuta.

Sampai pada akhirnya, tibalah aku pada kodrat harfiah sebagai manusia. Tak pernah puas dengan kedekatan yang sudah tersaji. Dan aku pun ingin menyingkap wajah misterinya, menikmati dengan detail tiap inci alur parasnya. Sampai aku benar-benar selesai memindahkan sketsa wajahnya pada tiap sudut pandanganku tertuju.

Di langit aku hafal betul sudah berapa kali purnama bercokol dengan ponggah. Meledek aku sampai pada hitungan yang ke empat. Menyebabkan penyakit penasaranku makin hari semakin bertambah kronis. Dan aku penasaran akan rupa dirinya setengah mati.

“sekiranya bila sulit tuk bersua saat ini, sudilah kirimi aku wajah dirimu barang selembar, dilipat menjadi bentuk mms atau email, mungkin akan menjadi penawar rasa penasaranku saat ini.”

Pintaku kala itu dengan suara parau merayu. Berharap bungkusan ekspresi wajah senduku mampu di visualisasikan olehnya. Kendati itu sulit, karena kita hanya berbicara dalam hitungan jarak yang tak terbilang, dan hanya suara yang mampu untuk meredam.

Ketika penantian akan penawar yang masih tersendat. Diamini olehnya namun baru sebatas niat. Akhirnya niat itu benar-benar dicetak. Ditempa menjadi signal elektronik. Lalu diterbitkannya, melalui angin yang pada hari itu, berbaris mengantri ingin masuk berebut ke dalam ponselku. Usah ditanya perasaanku kala itu. Baru membaca mukadimah pesannya saja, belum khatam benar, aku sontak kegirangan bukan kepalang. Akhirnya dirinya mengirimiku pesan bergambar.

Namun sayang sungguh disayang, maksud hati ingin ku reguk nektar secepatnya. Menjilati habis pesan bergambarnya, dengan ujung lidah mataku. Mendadak aku terserang amnesia, lupa akan cara menerap sistem pengaktifan pesan bergambar.


Sepanjang jalan tiada letih diriku memporsir otak, untuk melancong kembali ke masa lalu. Mengingat-ingat tentang cara pengaktifkan pesan bergambar. Ku tatap lekat layar ponsel, menelusurinya dari hulu setting profil mms sampai ke hilir yang termaksud. Dengan merangkak, sedikit tertatih-tatih, penuh hati-hati. Dan proses download pun mulai mengangsur sedikit demi sedikit, tanda setting mms telah berhasil ku kangkangi.

"APA INI?" Kaget diriku setengah mati dibuatnya.
Gambar seekor beruk sedang berakrobat motor Rossi the Doctor. Mutiara somplak saat kulit cangkang pesan bergambar mulai terbelah. Sungguh lelucon yang tak elok, bahkan tak layak diamini sebagai lelucon. Aku pun langsung kecewa. Penantian empat purnama henyap seketika, ketika gerhana gambar beruk tersebut mulai melebarkan rahang, mencaplok, merampok dengan paksa euforia prematurku. Dirinya menaruh sengaja gambar beruk atas nama dirinya sendiri. Benar-benar atas nama dirinya. Sengaja nian.

Sejak hari itu aku mencoba untuk menyuburkan jamur-jamur spasi, merenggangkan kedekatan yang telah terjalin. Sampai waktu membisikan ke telinganya tentang peristiwa kemarin. Sampai dirinya mengirim email seperti ini,

“it's me, skrng ga becanda lg.”

Gambar dirinya benar nyata bukan buatan. Bercokol paling akhir pada opsi unduhan.

Rambut panjang berombak, dengan warna cokelat memayungi wajah nan seputih awan. Ku lihat senyum bulan sabit terbit di sana, menghias sebuah ruang kerja tempat para akuntan memeras otak. Sungguh anggun tak terbilang, saat balutan kain entah jenis apa, berwarna kelabu membungkus kulit mulus suteranya. Dan aku tak henti-henti berdecak kagum malam itu. Sungguh tak henti-hentinya. Sampai malam tergelincir masuk parit fajar menyingsing.

Seiring waktu akhirnya musim paling ekstrim melanda belahan bumi tempatku berpijak. Pagi sampai siang masih didamprat terik, namun petang sampai malam sudah terkulai oleh hipnotis derai hujan. Sungguh labil musim kali ini, serba timbul tenggelam, sulit diterka seperti dirinya sekarang. Jika kemarin dulu paling rajin mencubit lewat para aksara terpilih. Sekarang paling sering khusyuk menghilang tertelan senyap. Seingatku telah sampai pada hitungan empat periode terbilang.

Terlintas pertanyaanku, apakah ada yang salah dengan pengakuanku tempo hari? Pengakuan saat aku mengurai maksud hati, bahwa kamu adalah sosok selanjutnya yang terletak di ujung telunjuk hati saat ku menjentik. Sosok yang ku perkenankan untuk merapihkan ruang hati yang serba berantakan, berdebu selama kurun waktu lebih dari tiga tahun. Dan dirinya pun ku perkenankan untuk menghuninya.

Akhir yang belum menjadi akhir. Masih mudah titik untuk disemai gores, terlafadz menjadi koma bila dirinya berkehendak. Atau jika tidak, cukuplah aku menarik kesimpulan sepihak. Bahwa tentang hasta ria biarlah tergolek indah dalam tidur indah pencariannya. Tak perlu aku menyusahkan, karena dirinya tercipta bukan untuk tersusahkan olehku.

Terima kasih kepada Sang Maha Tinggi karena telah memperkenalkannya kepadaku.


kupakai lagi kata itu

Pada wihaya jemari malaikat usil menyentil
Muram masam, kantung tangis mulai berarak
Sekali sentuh kau pun dapati putik merintik
Ngambruk, rebah dari rahim ambuda

Di dalam kamar di balik jendela
Tatapmu lekat khusyuk teropong ujung jalan
Nelis nastiti, seluruh bayang hingga copot kutang

"Kamu, kapan pulang ?"

Cemasmu sebelum teruh

Menantiku hingga merah telingaku
Sampai-sampai ragaku kopong
Gemplung, di sini, namun tak bertuan

Dari pijakan aku berandai mampu melancong sekarang
Sudah pasti, telingamu kukalungkan bisik aksara warada
Mengaras kening melaju hingga terpetik kelopak bibir nan ranum

"Andai, lagi-lagi andai" 

Entah sudah berapa kali kumuntahkan kata itu
Bahkan untuk urusan semudah ini kuecap andai lagi
Lalu jika begini kapan yah aku sampai padamu?