tamat

Ia datang menjangkauku perlahan
Kala jauh dari bising
Kala senyawa bersama hening

Hari itu, entah ramuan apa yang telah diteguknya
Hingga berani mencubit persembunyianku
Tanpa pagar jemari yang senantiasa disandarkan pada dinding wajah eloknya

"Aku ingin ini. ini rahasiaku. jika sempat, jelajahilah!"

Sebuah permintaanmu yang singkat nan sederhana namun terukir dalam rajah sansekerta

Seandainya otak kiri tak cerdik maka habislah aku, terkulum cahaya eksitensinya
Karena ia, bersama pelitanya sanggup melancong hingga ke dusun-dusun terpencil
Meluluhlantak jiwa-jiwa terkucil

Meniup
Menghempas
Melenggang
Tak sudi menoleh kembali

Pernah suatu ketika angin menautkan maksud hatinya
Jejakan kaki di tanah arena pertarunganku dengan seluruh panca inderaku ditukar sehari sebagai karib, aku pun meluluskannya 

Tumpah ruah semingrah

Hingga suatu ketika
Tibalah engkau bersama kisah tragis yang menerkamku
Tepat ketika pijakanmu secara diam-diam menyetubuhi tanahku

Baru aku sadar
Sesungguhnya, sukar sekali menerjemahkan intim kita

Aku tamat, benar-benar tamat

Dalam pelukan lembah pemikiranmu sendiri, aku tamat
Seperti yang lain yang menunggu untuk ditamatkan



menunggu tak kunjung

Pucat malam dengan perasaan tergadai
Oleh takjub aku tertelikung 

Suaramu benar lagi suaramu
Serupa hantu bak debur meriuh ternanti

Di ketiak karang aku pun beku merangkak abu-abu 

Menunggu tak kunjung hingga hati melenggang sembarang

Jika fajar esok sampai
Telinga mematung tak kesampaian
Memeluk bualan barang kali itu saja sudah cukup
Cukup, untuk aku menyusahkan aku


teka-teki

Sunyi senyap rapat menelungkup di senja kedua di minggu yang terapit
Tertawan di sarang pekerja kian segelintir

Gamang perasaanku tak jua tertabur di ruas jalan
Ranum pencapaian mulai melewati separuh hari

Jiwa kusontak ingin pergi ke negeri air kala tergiur senandung pianis negeri timur
Ternyata, celotehku kian tak berujung pangkal

Lamunan murka
Hipnotis murahan
Pelongsong terakhir 

Simpan itu sebagai teka-teki dan hubungi aku 
Bila kau sudah mengerti 





tentang perasaan malam semalam




Malam semalam udara sedang labil

Sebentar panas sebentar dingin
Membungkus langit ketika separuh rembulan
Nampak gontai dan hampir tergelincir


Kerlip kosong

Hujan merenung
Pikun akan cara merebah ke bumi


Kita, tentu saja masih mengarung di laut lepas

Berharap gelombang
Tepikan maksud hati pada bibir pantai serupa


Indah
Bilakah indah terhuyung kelak?

Kan kunanti bersama serentak
Seutas senyum pelangi tanpa sia-sia
Dengan sebungkus puisi yang masih hangat


Dan itu pun jika kelak