tentang rindu

Aku rindu hingga setumpuk semeru
Kepadamu, teramat sangat
Sedari rembulan muncul malu-malu
Sedari cahayanya, belum terendam rintik lalu meluntur

Kasih, andai sekat mampu kurebah
Ingin sekali berlama-lama dalam aromamu
Sungguh, aku mulai melantur
Hingga kutampar kantuk sampai berantakan, sampai keluar kamar 



aku ingin benar kepadamu

Kasih, ketika cinta baru seukuran kecambah
Aku ingin berkata sebelum habis kata-kata 


Kasih, ketika cinta terhampar subur di pagi buta
Aku ingin mendekapmu sebelum jarak beranak pinak 


Kasih, k
etika kedekatan cukup untuk di rentas
Aku ingin menyibak indah dari semesta sebelum usia mengulumku menuju pusara 

Aku ingin benar kepadamu 



lagi-lagi aku ke pantai

Lagi-lagi aku ke pantai. Lagi-lagi jemari tak terkait. Lagi-lagi dirinya enggan keluar kandang. Lagi-lagi hasratpun kembali terunduk. Lagi-lagi patuh oleh hipnotis sebuah takdir. Lagi-lagi kunikmati senja dengan cara yang serupa. Lagi-lagi benar-benar serupa .





wonogiri

Dua belas tahun lebih kutinggalkan tempat ini, lama sekali hingga tak kukenali wajah-wajah ramah serupa malaikat yang masih setia dengan rupaku. Namaku.

Ah, kalian ini seperti braile saja di hadapan si buta yang tak berjemari. Seandainya tak lahir cahaya sudah pasti wajah malu ku disantap habis oleh gulita. Malu, malu dan malu. Gemanya pun membuntutiku sampai peluk perpisahan kala kemarin.

Hmmm, terima kasih untuk kalian yang ikhlas menjadi kalam untuk ingatanku yang mulai terbatas. 

Semoga usia berkenan temani ragaku, mengecup kening kalian. 


aku tak ingin berbagi

aku tak ingin berbagi 
dengan kalian penghuni kota
keheningan seperti ini biar kuhabiskan sendiri
jika engkau mengatakan; aku rakus atau kikir
aku tak perduli, sungguh


dan sejenak 
kuingin bermetafora
menuju fana kembali tiada 

lebur luruh sampai debu tak mengenaliku

Kekasih, 

nikmat ini teramat langka
sungguh luar biasa