indah

Indah, 
barulah sekedar kata dan suara
memikirkannya belumlah usai 
seingatku hingga jumpa tiga purnama
namun pertemuan nampak elok terpasung
enggan jinak untuk hinggap di jemariku

engkau, 

seseorang yang kumaksud
mengapa kerap mengulur waktu?
tak bergegas menceburkan diri ke dalam telaga

bukankah aku sudah lebih dulu 
berada di dalamnya tanpa busana 
yang membatasi segala hasratku 
dan aku telanjang serupa kristal

oh, jarak yang tak beralasan
benturkan pertanyaanku kembali ke mulutku
apakah ini isyarat untuk aku memutar haluan?






















secangkir kopi tanpa gula


pahit itu, 
bagian dari rasa

mengapa harus tangisi manis 

yang tak turut serta

bila yang ada hanyalah 

secangkir kopi tanpa gula
nikmati sajalah!

saya jamin pahitnya
tak sepahit
saat diri kita
tertolak 
atau ditinggalkan 


cinta




Hehehe...

Sekiranya catatan ngawur seperti inilah yang terlintas dari seorang pemula seperti saya, seusai menyeruput habis 2 cangkir black coffee dan 2 cangkir espresso tanpa gula. Dan untuk pertama kalinya bangkai sugesti yang tlah karam itu muncul ke permukaan.

...deg'deg...deg'deg...deg'deg...deg'deg...deg'deg...

Gila benar. Jantung saya berdebar-debar dan bunyinya makin lama makin menuju ke birama 4/4, mungkin setara dengan bunyi bass drum ala The Rev di lagu M.I.A.

Mudah-mudahan seusai ini tidak disuruh-Nya syuting di bangsal serba putih dengan aroma puyer nan semerbak.


Hehehe...semoga.

terjebak macet

Udara dingin yang terlalu 
Sandingkan serasi aroma daun-daun teh muda gunung mas

Sekelilingku sekejab hening, sekejab bingar
Berulang tak jemu menjelma serupa penantian berkepanjangan
Sampai-sampai bintang di langit malas bergemintang bergegas bermigrasi menuju galaksi lain

Seandainya kita tidak tinggalkan sarang bersamaan
Mungkinka
h jamur-jamur besi ini tumbuh subur di Cisarua?Halangi ruas pijakan menuju ke tempat tidurku

Dan bila sudah begini
Sekiranya, telinga siapa yang harus disentil?



tentang kemarin malam

Jam pulang sudah melintas. Tinggalkan orbitnya ke pangkuan senja yang nampak telah gugur. Mati suri untuk sementara waktu.

Ah, ingin pulang tapi segan. Takut disuruh berbaris di dalam kaleng berjalan, berembun lalu tersihir bagai jemuran ikan semalam.

Huh, ingin apa masih meraba. Bingung tersangkut penat serasa tumbuh jerawat perdana.

Ingin sirna, semoga saja dihembusan lagu bocah-bocah mississauga, ontario, canada, "Pins and Needles by Billy Talent". Boleh juga untuk diputar sekali lagi. Sebuah tembang tanpa penelusuran terdalam. Hanya sok tau terbubuhi kebanyakan olehku. Tapi mengapa penatku belum dihabiskan oleh si burung hering? Apakah kurang busuk? Atau selera makan mereka tlah menukik tajam? Jauh dari kebiasaannya.

Ah, biarlah. Paling tidak sebentar lagi riangku kembali siuman. Sementara aku disibukan, sang waktupun sudah tak lagi mengendap-ngendap. Langkahnya pun dilontarkan sejauh mungkin menuju malam yang semakin matang.



kamu ada sewaktu irama penuh meruang

Ruang ini, irama ini 
Seonggok kawan ketika halusinasi mendengkur 
Perlahan beranjak susuri selimut yang masih berantakan

Hmmm, andai saja tak lahir temaram

Mungkin diriku akan menertawaiku sendirian 

Mungkin saja, kenapa tidak?

Ah, makin
mengabur saja
Jalan pulang bukankah telah di saku kemeja masing-masing? 

Mengapa juga harus bergumul dengan badai topan 
Sedangkan sisiran rambutku mulai tertata sesuai lajunya 

Hei, inikan inginku dan sungguh kesenangan masih dapat mencumbu tanpa diketahui kamu