me vs mosquito

Jemari memburu susuri malam renta
Sekelebat hinggap bernaung di sembarang tempat

Pembunuh, sahut kalian bertaluh
Riuh mereda akan sebuah pesta di tubuhku

Sial, lukisan abstrak ini mengapa hanya satu warna?
Merah tua, tak asing bagiku


lagu melagu dirimu

Perampok malam mulai bertandang
Kuasai hingga langit membiru

Samar-samar pelantun idola hinggap merayu 
Tanggalkan letih di bahu harmoni
Sekadar membaur sekadarnya
Kendati jiwa tak jua paham arti

"Hmmm, lagu itu" Gumamku
Embun abadi dari setiap jejak
Petaka bagi jiwa ketika merinci secara detail
Dan kamu, dirimu
Sosok yang terlintas sesudahnya




19 Mei 2010 jam 20:22 WIB
andri edisi terbatas on facebook

tikam dia!

Kau meminta untuk yang sekedar 
Meracik asa, menyingkir dari cekik dahaga
Langkah itu ringan namun tak beranjak
Seakan tanah tak mengizinkan
Menyumpahi, jika hasrat diteruskan

Seandainya saja kau tak bersua pencuri yang ulung 
Sudah pasti kau renggut dosa berulang kali penuh sadar, tanpa cadar
Ah, kau terlalu berlebihan mencintainya, terlalu 


Sudahlah, tikam dia!

Habisi dengan tangan kirimu!



21 April 2010 jam 16:33 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kadang dirinya bertanya

Kemana perginya hasrat
Di carinya sampai ke negeri asing
Tak temukan sampai dirinya lupa pulang
Lupa rautnya sendiri ketika terjebak di dalam cermin

Gusar, mendualah, lupakan janji terakhir
Tinggalkan jiwa, bebaskan diri dari jaring pukat kegelisahan 

Sungguh pencarian yang melelahkan 
Hingga usianya pun perlahan mulai menghujat 

Kadang dirinya bertanya,
"Pantaskah engkau diperlakukan semulia ini?"




08 Maret 2010 jam 19:39 WIB
andri edisi terbatas on facebook

curhatmu

Kamu dengan bangganya mengatakan, dulu. Merayu telingaku hingga memerah. Memaksaku menyimak kisah-kisah tentangnya yang heroik. Tak jarang senyuman serta tangisan, kau sandingkan dalam satu altar. Membuat riuh sejenak atap imajinasiku. Hingga energi dalam ponselku pun sekarat, lalu merangkak menemui pusaranya. Dalam hati selalu bertanya, adakah kisah tentangnya selain dulu yang patut untuk dibanggakan?



25 Februari 2010 jam 14:05 WIB
andri edisi terbatas on facebook

enggan berkisah

Kutinggalkan pena di sisi kekasihnya
Kuacuhkan, kubiarkan tergeletak menghadap sesukanya, sembarang saja
Lalu dikuburkanlah oleh debu-debu waktu
Di jauhkannya dari hasrat yang pernah menggila
Bahkan beberapa tetes keringat hitam mulai mengering
Memudar menemui ajal di tubuh kekasihnya


Oh, kemanakah engkau duhai hasrat
Mengapa kau tinggalkan jiwa separuh jalan
Bukankah para penikmat sedang bersorak menyambut musim semiku
Lalu mengapa jua kabut kepenatan masih menggelantung di sini
Memberatkan pelupuk jiwa membuat enggan tuk berkisah 




15 Januari 2010 jam 14:55 WIB
andri edisi terbatas on facebook

terjaga

Malam ini aku terbangun tiga kali
Tidak seperti biasanya, entah kenapa
Bahkan detak jantungku tak beraturan
Sumbang laksana irama perkusi anak balita

Oh, pergilah duhai penganggu benak termanis jika terkaanku itu benar adanya
Tolong pergilah, menyingkirlah dari ranting rapuh kelopak mataku
Esok saja kau hadir, jangan ini malam
Karena ini malam aku ingin mencumbui letihku sendirian




30 Desember 2009 jam 19:45 WIB
andri edisi terbatas on facebook

still

When you see my heart seems to have quietened down bath tub in the sacred lake angels

My advise do you touch the water
Let the peace of mind and quiet
Because a touch later it can bring a wave of longing until then enlarged to make you come back ridden
Because of you my madness has not recovered properly and surely you do not want it
Because I'm still crazy about you
Crazy, like a majnun to laila




16 Desember 2009 jam 12:01 WIB
andri edisi terbatas on facebook

dalam hening malam

Dalam hening malam 
Inginku menuliskan namamu pada gugusan bintang-bintang
Agar kelak kau mengetahui bahwa ada seseorang yang sangat mengagumimu di sini 


Dalam hening malam
Inginku senandungkan namamu pada semilir angin
Agar kelak kau mendengar akan sebuah nyanyian pilu tentang seseorang bersama kerinduannya di sini 


Dalam hening malam
Inginku menyibukan pikiranku dengan lukisan wajah-wajah ceriamu
Agar kelak kau menyadari bahwa senyum itu yang dapat menyumbat air mata seseorang di sini


Dalam hening malam
Inginku kembali merajut kata-kata hingga tersulamkan menjadi puisi
Agar kelak kau memahami keseriusan yang sangat serius tentang seseorang yang mulai mencintaimu di sini 


Dan seseorang itu, adalah aku
Yang berusaha menikmati hening malam dengan menanamkan sebiji harapan di taman hati


Semoga saja, kamu yang akan menjadi buahnya kelak 

Dan aku sangatlah beruntung jika benar-benar menuainya




17 November 2009 jam 12:31 WIB
andri edisi terbatas on facebook

entah

Entah karena apa menilaimu merupakan suatu keharusan
Entah karena apa memujimu merupakan awal sebuah ucapan
Entah karena apa memikirkanmu merupakan rutinitas yang tak terlupakan
Entah karena apa aku seperti ini, apakah karena engkau?
Entahlah, namun sepertinya sedikit pertemuan ajaib telah mengubah semuanya dan membuatku selalu rindu akan sosok itu



16 November 2009 jam 12:04 WIBandri edisi terbatas on facebook

kusempurnakan inginmu

Suatu keinginanmu akan kusempurnakan sesuai dengan kemauanmu yang terlintas di tepian senja kemarin. 

Maafkan aku kekasih, yang telah membekukan hatiBerharap setiap kenangan itu tak mencair sedikitpun. Namun sepertinya itu hanyalah percuma, karena engkau selayak bara panas abadi yang tak ingin aku bingkai pada hati ini dan meminta berulang-berulang untuk lepaskanmu, untuk lepaskanmu. Sepertinya kini aku tak akan menundanya, kendati itu hanya satu detikpunAku tak akan menundanya. Demi kamu. Aku akan dengan segera menyempurnakan keinginanmu.

Bersiaplah. Sesaat lagi pestamu akan dimulai. Mainkan seluruh simponi, lalu menarilah! Perkenanlah para undanganmu memasuki ruangan ini, perkenanlah mereka untuk meneguk anggur-anggur teristimewa yang telah tercampur dengan air mataku. Yang telah tercampur dengan sisa-sisa setiaku. Paksakanlah mereka! Paksakanlah lidah-lidah mereka bersama dirimu untuk menghabiskannya. Jangan sisakan kendati hanya satu tetespun karena jika tersisa aku takut akan mengendap dan menjadi sebuah penyesalan pada nantinya.

Dan untuk kali ini, aku tak ingin mengurai janji. Namun simaklah esok, akankah masih terdapat dirimu kendati itu hanya sebuah nama yang mirip denganmu.




22 Oktober 2009 jam 12:52 WIB
andri edisi terbatas on facebook

berpikirlah sejenak

Berpikirlah sejenak wahai ombak besar dan kecil yang menghantamkan deburnya di setiap hari, di setiap waktu kepada sebongkah karang di tepi pantai
Pernahkah terlintas dibenakmu, seandainya karang itu adalah kau
Sekiranya, akankah kau mampu tetap berpijak di sini tanpa bergeser sekalipun

Berpikirlah sejenak wahai angin ribut berjubahkan badai yang mengirimkan ribuan tangan-tangannya untuk menumbangkan setiap perlawanan batang-batang pohon tertua di tengah hutan
Pernahkah terlintas dibenakmu, seandainya batang-batang pohon itu adalah kau
Sekiranya, akankah kau mampu tetap mempertahankan ratusan daun serta rantingnya, tanpa terpisah sekalipun


Berpikirlah sejenak wahai terik penguasa siang hari yang menghukum lalu membakar ratusan harapan doa-doa tulus seorang musafir di tengah gurun tak bertuan
Pernahkah terlintas dibenakmu, seandainya musafir itu adalah kau
Sekiranya, akankah kau mampu tetap melangkah kendati dahaga telah membuat sekarat sekalipun 


Berpikirlah sejenak wahai makhluk yang masih memiliki nurani

Berpikirlah sejenak wahai makhluk yang masih terkasihi

Berpikirlah sejenak, sebelum aku benar-benar mentiadakanmu dari hati



22 Oktober 2009 jam 12:50 WIB
andri edisi terbatas on facebook

ketika rindu-rindu berkecamuk

Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku mampu untuk meniduri setiap kegelisahanku yang hadir sesudahnya
Seperti kegelisahan butiran debu akan tibanya anak-anak hujan
Memintanya untuk segera membasuhnya, mensucikannya 


Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku sanggup untuk melucuti setiap helai kepiluanku yang menyerang malamku dengan kabutnya
Seperti kepiluan seorang biduan dengan suara nan merdu yang berharap dinikmati suaranya oleh para sang tuli


Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku bisa untuk meracuni setiap keresahanku yang menjelma pada awan kelam di tepian senjaku
Seperti keresahan pelukis buta bersama kuas serta cat minyaknya
Berusaha menerjemahkan khayalan dalam selembar kanvasnya


Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku masih layak untuk mengamini setiap doa-doa yang kusematkan di sudut-sudut langitku
Seperti doa-doa adam terdahulu ketika pertama kali menjejakkan kaki di bumi
Meminta lekas dipertemukan-Nya kepada kekasih yang bernama Hawa


Dan ketika rindu-rindu berkecamuk
Kupastikan semua itu terjadi karena rindu diriku terhadap dirimu yang tak terbendung
Dan di manakah dirimu, pemilik segala kerinduan ini bersemayam?

Mendekatlah, temui aku, usah sembunyi!
Beri aku sedikit penawar untuk jiwaku yang sedang berteman dengan dahaga
Untuk jiwaku yang sedang berteman dengan sayatan sembilu




21 Oktober 2009 jam 13:02 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kamu adalah teror

Kamu mencintaiku namun sekaligus menakutiku
Kamu merindukanku namun sekaligus meresahkanku
Kamu mendambakanku namun sekaligus membuat jera aku
Kamu beserta seluruh keinginanmu ingin memilikiku sepenuhnya
Ingin merengkuhku sekuatnya tanpa pernah berpikir dari sisi aku, apakah aku bersedia ataukah tidak?
Lalu setelah kamu benar-benar menakutiku, benar-benar meresahkanku dan benar-benar membuat jera aku

Kamu berkata kepadaku,

“Inilah aku beserta segenap rasa sayangku dan cintaku yang akan memburumu hingga nanti hingga ke pelataran pelupuk matamu, hingga ke peristiratan abadimu karena aku sungguh-sungguh serius kepadamu. Untuk itu, tolong jangan tolak aku!”



21 Oktober 2009 jam 13:00 WIB
andri edisi terbatas on facebook

engkau di akhir maret

Hanya satu terukir dan hanya satu yang tersimpan dalam damainya hati yang selama ini aku mencarinya dan aku selalu menguntit dari celah-celah permukaan hati sosok-sosok penerus kaummu di luar sana yang terkadang tak aku gubris keberadaannya kendati mereka telah menuruni menara tertinggi yang dijaga oleh para sang naga dan semua itu ku lakukan semata-mata karena aku terlalu teguh, setia, atau bodoh. Entahlah, aku sendiri sepertinya tak paham. Yang jelas sosok bunga terakhir itu sulit sekali untuk aku angkat dari sini. Dari hatiku. Mungkin akar-akarnya telah menghujam terlalu dalam hingga sulit untuk aku cabut dan ku serahkan ke sebuah taman yang lebih patut atau mungkin aroma yang ditebarkannya terlalu sering mengusik penciumanku hingga aku kembali menghidupkan sebuah kerinduan berulang-ulang.  Namun kini sepertinya aku kalah karena kokoh kepiawaanku didalam menggalang sebuah keteguhan, kesetiaan, dan kebodohan telah ditaklukannya oleh dirinya, penggantinya, penerusnya. Lalu aku bertanya kepada hatiku sendiri, Apakah ini yang di janjikan Tuhan untuk aku? Seorang kaum hawa yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya. Jika iya, izinkanlah aku untuk segera mengenalnya dan menghalalkannya selekas mungkin karena aku begitu terpincut oleh aura kesederhanaannya dan aku tak ingin purnama malam ini terlewatkan begitu saja sebelum aku mengungkapkan apa yang menjadi inginku.

Semoga saja inginku dan inginnya  bersua pada sebuah ketetapan dari-Nya. Semoga saja apa yang pernah terngiang benar adanya, bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya.




16 Oktober 2009 jam 21:55 WIB
andri edisi terbatas on facebook

ketika shinta tak memilih rama

Di sebuah malam yang terakhir, Rama pernah bertanya kepada shinta,
"Jika yang terbaik tak menjadi sebuah pilihanLalu apa lagi yang kau cari di dunia ini?Apakah ungkapan itu hanya sebuah klise untuk aku dengan mengatakan bahwa aku adalah yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya? Jika yang terbaik tak terpilih menjadi seorang pemenang. Lalu untuk apa aku berlari mengitari separuh bumi Apakah hanya untuk membiarkan setiap tetes keringatku terbuang percuma dan menjadikanku mati lemas seperti ini? Atau memang ada rencana lain yang kau sembunyikan dariku?" 

Lalu didalam sendunya, Shinta menjawab,
"Maafkan aku rama aku tak bisa menjawab pertanyaanmuBiar engkau saja yang mengartikan arti ucapanku, apakah klise atau bukan. Jika menurutmu klise biarlah ucapanku itu terlahir menjadi sebuah klise. Jika menurutmu bukan, izinkan aku mengucapkannya kembali. Sebelum kita terpisahkan oleh hilangnya malam kali ini. Jujur aku sangat senang untuk mengucapkannya. Kendati aku sadar dengan mengucapkannya aku mungkin akan mengkoyak-koyak hatimu pada akhirnya, karena seperti kau ketahui ketika di awal. Aku hanya bisa mencintaimu namun tak bisa memilihmu karena aku terlahir bersama simbol-simbol kekolotan bangsaku. Namun bersamamu di hari-hari kemarin merupakan hadiah terindah dari Tuhan untuk aku. Di mana disetiap detik aku diperkenalkan olehmu tentang bagaimana mengenakan atribut kedewasaan. Mempelajari bagaimana membujuk kekanak-kanakanku yang terkadang begitu liarnya meracuni usiaku. Namun di tanganmu, keliaran itu begitu mudah untuk dijinakkan begitu mudah untuk ditenangkan dan sekarang aku meminta kepadamu. Relakanlah aku pergi rama, relakanlah karena aku tak sepertimu yang dengan bebasnya berlari bersama mimpi di kala terlelap lalu mewujudkannya di kala terjaga. Karena aku hanyalah aku seorang Shinta yang terlahir bersama simbol-simbol kekolotan bangsaku. Untuk itu maafkanlah aku Rama!"




16 Oktober 2009 jam 21:46 WIB
andri edisi terbatas on facebook

catatan lebay sadurung turu

Ingin aku sepertimu, berlari di titian tanpa rasa takut meninggalkan rumah terindah yang pernah menampungmu, mengajarkanmu tentang indahnya mencintai dan dicintai. Sungguh ingin aku sepertimu. Menanggalkan semuanya tanpa harus menyisakan sebutir air mata.




08 Oktober 2009 jam 3:33 WIB
andri edisi terbatas on facebook

permintaan

Maafkan aku, mungkin yang kini sempat terucap dalam diriku yang tak ingin dirimu lelap dalam indahnya malam yang mungkin membawamu terbuai oleh pelukan sang bintang.

Maafkan aku, mungkin yang kini sempat terucap karena diriku yang datang mencoba singkapkan selimut hangatmu, sinar temarammu, dan semua tentang alur mimpimu untuk temani diriku bersama kepak sayapku yang sedari sore tadi mulai kuarahkan kepadamu.

Terbanglah bersamaku! Terbanglah dalam kerapuhan sayap-sayapku. Turuti kemana arah angin ini akan menghempas. Turuti sebelum kita benar-benar binasa bersama cahaya yang mulai meredup ini. Turuti dan hanya untuk kali ini saja. Karena esok, entahlah.



06 Oktober 2009 jam 20:58 WIB
andri edisi terbatas on facebook

namaku adalah indah

Saat aku mencoba untuk menatapmu, entah apa yang dapat aku ungkap. Sebuah misteri akan keindahan yang terkandung pada sosok di dirimu. Seakan kekal dan aku ingin meruaknya. Perlahan demi perlahan aku mulai membiasakan untuk menatapmu. Sesering mungkin aku lalukan bahkan di setiap hari-hariku hingga tiba diriku pada tungku keberanianku. Lalu dengan perlahan tanpa ku sadari, talian yang berpangkal dari mulutku berujung kepadamu. 

Aku berkata,
"Jika ada keindahan yang melebihi pemandangan ratusan bunga-bunga. Yang baru saja merekah di taman pagi. Aku rasa keindahan itu adalah kamu.

Jika ada keindahan yang melebihi lukisan di tepian senja yang kaya akan lautan berwarna ungu serta jinggaAku rasa keindahan itu adalah kamu.

Jika ada keindahan yang melebihi hamparan mutiara yang berserakan menghiasi di sekitar eloknya sang purnamaAku rasa keindahan itu adalah kamu.
Lalu maukah kamu memberi sedikit hadiah di hidupku?

Dengan memberi sedikit suara kepadaku

Bolehkah aku tau siapa nama dari sosok yang begitu indah ini?"

Setelah kelancanganku yang baru saja menggelegar. Membangunkan para dewa-dewi hingga mereka semua siuman. Kau tetap hanya terdiam. Lalu tak lama kau tersenyum kepadaku. Tersenyum, dengan sorotan yang ku suka.

Lalu kau berkata,

"Namaku adalah indah"




04 Oktober 2009 jam 22:21 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kini

Kini kamu begitu dekat dan bahkan sangat dekat denganku hingga seakan-akan kedekatan itu sudah tak berjarak lagi. Kini kamu begitu lekat dan mungkin sukar untuk dilepaskannya dariku hingga seakan-akan dirimu meresap ke dalam seluruh pori-poriku. Namun sayang, kini dikedekatan kita kali ini tak ada tatapan, suara, bahkan sentuhan terdahulu. Apakah kini artinya kamu telah mematikan semuanya dan memilih terlahir kembali hanya seperti bayangan dari tubuhku saja? Yang selalu menyertaiku namun membiarkanku menjadi serba salah.



04 Oktober 2009 jam 22:14 WIB
andri edisi terbatas on facebook

pesan pendek untuk kamu

Kematian akan datang tepat pada waktunya tanpa harus kau bersusah payah untuk menjemputnya. Semoga saja tak ada kekonyolan yang terlahir setelah ini. Maka dari itu berhentilah bunuh diri, apalagi hanya demi mendapatkan cinta. Karena semua itu hanyalah bodoh.



30 September 2009 jam 20:32 WIB
andri edisi terbatas on facebook

tentang dia

Malam ini, mengapa tak ada angin yang mendatanginya
Kemanakah ia?
Apakah telah bosan kepada dirinya?
Yang setiap harinya dia perintahkan menerbangkan keresahan menuju kuil suci yang berdiri megah di hatiku


Malam ini
Mengapa tak ada pelita secuil pun
Kemanakah ia?
Apakah telah terlelap mendahului dirinya?
Padahal lukisannya belum selesai dia rampungkan
Masih ada beberapa sketsa wajahku yang ingin dia tumpahkan menjadi rasi bintang


Malam ini
Mengapa tak ada makhluk yang bernyanyi selain dirinya
Kemanakah ia?
Apakah telah terpenggal kepalanya?
Karena terlampau sering bersenandung tentang kesedihan bersamanya
Membuat takut para pencinta sepertiku untuk menaiki gunung tertinggi meninggalkan anak-anak bukit

Dan malam ini
Memang hanya untuk dirinya dan kesendiriannya saja
Sampai esok, sampai dia menyatakan kerasan pada malam-malam berikutnya
Kendati dirinya sama sekali tak bahagia
Dengan pilihannya, dengan pilihannya





15 September 2009 jam 21:36 WIB
andri edisi terbatas on facebook

the unintended

Aku ingin sekali mencium keningmu
Malam ini, seandainya bisa


Aku ingin sekali membelai parasmu
Malam ini, seandainya mungkin


Aku ingin sekali menghelat aroma tubuhmu
Malam ini, seandainya sanggup


Namun aku tak bisa menjangkaumu
Aku tak mungkin mendekatimu dan aku tak sanggup memelukmu
Karena kening, paras, dan aroma tubuhmu telah tertanam
Dan kau akan bergegas menuju surga




15 September 2009 jam 21:34 WIB
andri edisi terbatas on facebook

mati rasa

Aku mati rasa begitu pula dirinya hingga tak tau bila ada bertanya tentang manis, asin, pahit, asam sekalipun. Sungguh kita telah mati rasa. Begitulah.




07 September 2009 jam 1:19 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kekaguman

Kekaguman itu datang dengan tiba-tiba tanpa mengetuk gerbang hati yang terkunci. Mendobraknya seperti ombak menerpa karang, tidak bersuara seperti gemuruh tetapi bagaikan kilat yang menari di kegelapan atau bila kau pernah melihat gelembung air yang tanpa tersentuh ia akan pecah dengan sendirinya. Seperti itulah adanya, maka biarkan dan ijinkan kekagumanmu menatapnya dan jangan pernah untuk dihalang-halangi. Biarkan rasa itu mengalir apa adanya, memuncaki menara khayal impianmu. Bukankah semua keindahan itu untuk dikagumi? Jika iya, lakukanlah sahabatku! Puaskanlah untuk nikmat Tuhan yang satu itu.



07 Agustus 2009 jam 20:26 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kelak aku akan sepertimu

Aku beserta diriku, masih setia di sini. Menghafal setiap detik-detik keberadaanmu lalu menceritakannya kepada setiap manusia yang aku temui bahwa kau makhluk yang layak untuk aku, bersanding denganku bersama menjalani nikmatnya hidup dan berulang kali aku mengatakannya demikian hingga banyak dari kalian mengatakan aku bodoh. Layaknya menunggu hujan lebat di tengah gurun nan gersang yang jika ia turun aku beranggapan mampu menghanyutkan butiran-butiran pasir lalu mengubahnya menjadi lautan yang serba biru serba luas adanya. Namun semua kekonyolanku itu lambat laun mulai beranjak dari tahtanya setelah aku tersadarkan oleh semilir angin yang kemarin menerbangkan sepenggal cerita tentangmu yang telah menemukan kembali seutas senyuman dan beberapa helai keceriaan di sana. Bahkan tangisan liarmu, kini mulai terbiasa dijinakan oleh pelukan darinya. Lalu ada apa denganku? Mengapa aku masih tertatih-tatih di sini melanjutkan sisa-sisa perjalananku sembari menoleh kebelakang, lagi dan lagi. Namun aku berjanji, kelak suatu hari nanti, aku akan sepertimu. Menemukan kembali senyumanku, lalu tersenyum lepas dan melupakanmu, selamanya.




04 Agustus 2009 jam 19:52 WIB
andri edisi terbatas on facebook

merindu

Jika seseorang yang kita cintai telah termiliki oleh orang lain dan kau masih belum dapat melupakannya. Maka cukupkanlah perasaanmu hanya untuk merindunya saja. Jangan lebihkan rasa itu, biarlah hanya sebatas rindu. Karena dengan merindu merupakan hal yang paling layak untuk kau miliki saat ini. Walaupun terkadang, dengan merindu kita telah membiarkan plakat kata-kata bodoh dilekatkan oleh orang lain di kening kita, lalu kita ditertawainya sampai mereka berhenti sendiri kendati kita telah melakukan suatu bentuk kejujuran.



29 Juli 2009 jam 13:09 WIB
andri edisi terbatas on facebook

my wish

Duduklah di dekatku menghadap langit yang akan berubah
Tataplah dengan sepenuhnya tanpa mesti kau berucap
Biarlah semilir angin yang mengungkapkan
Sebuah alasan yang pantas untuk didengar dan dimengerti

Biarkan semua terjadi bila memang harus terjadi dan jangan pernah menerka-nerka sebelumnya
Apakah nanti akan datang hujan badai yang dahsyat atau nanti akan tiba taman angkasa yang serba gemerlap

Semua itu akan tiba sebentar lagi, sesaat lagi tanpa meminta ijin sekalipun

Untuk itu raihlah jemari tanganku ini
Genggamlah untuk yang kesekian kalinya
Melangkahlah bersamaku, temani separuh perjalanan hidupku yang sejak hari kemarin pernah kuanggap telah berakhir

Sekali lagi kumeminta, duduklah di dekatku menghadap langit yang akan berubah
Dan aku hanya meminta kepadamu sebagai penghuni hati yang ternobatkan

Aku harap kau bersedia




27 Juli 2009 jam 17:25 WIB
andri edisi terbatas on facebook

sia-sia

Ketika hujan dan terik menyapa kau mendekatiku 
Berteduh pada keberadaanku
Tak perduli, apakah kau telah mengotori lantaiku atau tidak

Bahkan binar-binar kebahagiaan pernah tumbuh dan merekah disini
Begitu pula dengan guguran kesedihan yang kemarin terangkum
Tumpah ruah menjemput simpatikku

Entah apa yang membuatku mampu menerima keberadaanmu
Entah apa yang membuatku mampu membujuk diriku sendiri
Untuk segera melepas pembalut luka di hati

Mungkin karena semilir nafasmu yang telah menidurkan logikaku
Membisikkan untaian harapan
Menyamarkan kabut keraguan yang kemarin membumbung ciptakan sesak

Namun kini
Setelah aku mulai terbiasa menjamu dirimu di hari-hariku
Kau memilih untuk menobatkanku hanya sebagai peristirahatan sementaramu saja

Yang setelah berakhirnya terik dan hujan
Kau akan pergi meninggalkanku tanpa mengecap, satu patah kata pun
Melanjutkan ketidak jelasan pencarianmu hingga jauh, menuju sembarang arah




15 Juli 2009 jam 12:58 WIBandri edisi terbatas on facebook

berlalu


Jika dengan menggenggam jemari tanganku ini dapat memperlambat langkahmu, aku akan melepaskan genggaman ini. Melangkahlah sayangku, melangkahlah tanpaku. Gapailah apa yang menurutmu itu sebuah surga

Temukanlah keyakinanmu yang kau yakini akan kebenarannya. Jangan perdulikan aku, walau kau mendapati diriku masih bersama air mataku yang tak terlihat ini. Mengalir secara abstrak pada rongga dadaku

Biarkan aku disini sayangku. Merampungkan soal-soal percintaan yang tak mampu diselesaikan olehmu karena kau terlanjur memilih menyerah dan berlari membawa hatimu yang sekeras batu. Mengatakan kesetiap penjuru angin: bahwa dirimu tak layak untuk ku, bahwa diriku tak layak untuk mu. Lalu yang kemarin itu apa?

Ah, sudahlah aku telah letih membahasnya dan kini setidaknya aku pahami. Merelakanmu itu lebih penting dari pada terus mempertahankanmu.





26 Juni 2009 jam 9:13 WIB
andri edisi terbatas on facebook

lelaki sakit dan wanita setia (side-b)

Pukul 04:35 WIB, saat langit hitam kelam tersamarkan oleh suara adzan shubuh. Yang menyadarkan sang lelaki dari biusan sang lelap. Untuk segera bergegas mencukupkan buah tidurnya. Dalam pandangan yang masih sangat terbatas, Sang lelaki mendapati sang wanitanya masih menikmati istirahatnya dengan begitu nikmatnya. Seakan-akan seperti menikmati hidangan yang sangat lezat, tersaji pada meja perjamuan yang sangat panjang. Yang di sekelilinginya dipenuhi beraneka ragam macam makanan. Nampak sesering kali terdengar suara mengecap dari mulut sang wanita. 

Dan itu yang membuat sang lelaki tersenyum, dan berkata dalam hati:

Oh…Tuhan betapa mempesonanya ia, bahkan saat bertingkah konyol dikala tidur pun ia masih nampak begitu mempesona. Sepertinya dengan memandanginya saja aku tak perlu repot-repot bersusah payah untuk keluar dari kamarku, mencari pemandangan terindah di luar sana, bahkan keindahan pelangi seusai hujan, sinar mentari yang dipeluk oleh senja, serta gugusan bintang-bintang yang tumbuh subur di sekeliling purnama atau sabit pun tak mampu menandingi keindahan pesona wajahnya dan dirinya nampak begitu sangat sempurna di mataku.

Sembari berkata di dalam hati, mata sang lelaki tiada hentinya memandangi setiap inchi lekuk keindahan wajah dari sang wanita. Seakan-akan ia baru saja bertemu dengan wanita tersebut, dan langsung jatuh hati kepadanya.


Sang lelaki kembali berkata di dalam hati:Oh…Tuhanku, jagalah ia beserta cintanya kepadaku. Jadikanlah cintanya selayak matahari yang selalu setia kepada semesta. Jadikanlah cintanya selayak pasir di pantai yang tak pernah habis walau dihanyutkan oleh ombak kecil dan besar sekalipun. Jadikanlah cintanya selayak oksigen yang tak pernah habis walau manusia, hewan dan tumbuhan berebut menghirupnya di malam hari. Oh…Tuhanku, perkenanlah permintaanku.

Seusai memuji sang wanita di dalam hati. Sang lelaki lalu mempersiapkan diri, bersiap menerbangkan hati menuju diri-Nya. Dan segera melaksanakan rutinitas kerohaniannya. Dengan sangat khusyuk, mulutnya nampak berkomat kamit. Berusaha melakukan kesempurnaan didalam melafadzkan ayat-ayat-Nya. Nampak pula, hati yang bersusah payah menggantikan peran anggota tubuh yang lain.


Kemudian tanpa memakan waktu lama, Sang lelaki kini berada di pusara klimaks ibadahnya. Untuk kali ini mata sang lelaki terpejam. Lalu ia pun berdoa di dalam hatinya:
Oh…Tuhanku. Aku menghadap lagi dan berharap lagi.  Jika Kau ijinkan, aku ingin mengulanginya semua permintaanku tadi. Oh…Tuhanku. Jagalah ia beserta cintanya kepadaku. Jadikanlah cintanya selayak matahari yang selalu setia kepada semesta. Jadikanlah cintanya selayak pasir di pantai yang tak pernah habis walau dihanyutkan oleh ombak kecil dan besar sekalipun. Jadikanlah cintanya selayak oksigen yang tak pernah habis walau manusia, hewan dan tumbuhan berebut menghirupnya di malam hari. Oh…Tuhanku, perkenanlah permintaanku. 

Begitulah yang dilakukan oleh sang lelaki di hari-hari berikutnyaKembali berdoa untuknya, tiada henti memuji pesonanya, dan menyalakan kembali pelita hati yang pernah redup dan kesemuanya itu dilakukannya. Hanya untuk sang wanita pemberian Tuhan, yang selalu setia berada di sisinya.

Sekian



22 Juni 2009 jam 8:39 WIB
andri edisi terbatas on facebook

lelaki sakit dan wanita setia (side-a)

Di sebuah ruangan yang serba berwarna putih. Terdapat dua insan yang sedang menikmati keheningannya. Sang lelaki nampak terbaring lemah di ranjangnya, ditemani seorang wanita yang sangat setia berada di sisinya. Sesering kali suara parau mereka mulai terdengar bersahutan. Mengalun syahdu, menyanyikan lagu-lagu kerinduan. Terkadang pula percakapan ringan yang terbalut pengharapan. Selalu bergema di hari-hari mereka kala itu. Sang lelaki bertanya:
Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu, adakah beberapa bait kata-katamu yang akan kau utarakan disini? Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu bersama malaikat itu, menuju tempat peristirahatanku.

Lalu sang wanita menjawab dengan senyum yang dikuatkan:
Tolong jangan katakan itu sayang, sungguh diriku tak mau mendengarnya lagi. Percayalah, kau akan sembuh, kau akan sembuh sayangku dan sepertinya tak ada bait kata-kata terakhir yang pantas aku utarakan sekarang, karena aku tau, bahwa dirimu akan sembuh!

Sang lelaki berkata kembali, mencoba menyadarkan sang wanita:

Lihatlah aku sayangku, lihatlah!. Aku tak mungkin sembuh dan sepertinya ini adalah percakapan terakhir kita, karena aku tak cukup kuat untuk menahan jutaan rasa sakit ini, rasa sakit yang terasa amat sangat ku rasakan, mulai dari otakku sampai ke sum-sum tulangku.

Lalu jemari sang wanita mulai merangkak menuju tangan sang lelaki. Berusaha meraih ketenangan sang lelaki, dan berkata:
Sayangku ternyata kau mulai lupa yah? Bukankah semua ucapanmu tadi pernah kau ucapkan kepadaku 2 tahun yang lalu? Bahkan sebelum kau mampu mengatakan itu, keadaanmu lebih parah dari sekarang, walau hanya untuk mengenaliku saja, waktu itu kau tak mampu. Namun sekarang lihatlah dirimu! Telah mampu mengenaliku. Mampu bercakap-cakap denganku, bahkan setiap malam sering kali kita habiskan dengan membahas puisi-puisimu terdahulu. 

Sang lelaki memotong ucapan sang wanita:
Apakah benar yang kau ucapkan itu?

Kemudian sang wanita mengganguk, lalu tersenyum sembari mengeluarkan suara merdunya:
Benar sayangku, yang aku ucapkan itu benar adanya dan sekarang kau berjanji kepadaku yah! Jangan kau tanyakan lagi kepadaku, apa kata-kata terakhirku untukmu, karena aku masih belum siap hidup tanpamu. Aku belum siap menjalani hidup hanya dengan mengenangmu saja dan sepertinya hari mulai larut sayangku, lebih baik kau istirahat dulu! Semoga esok pagi keadaanmu dapat lebih baik lagi dari sekarang.

Lalu seusai mendengarnya sang lelaki berkata:
Terima kasih sayangku atas semua kebaikan dan ketulusanmu kepadaku, entah bagaimana nanti aku akan mampu membalas semuanya. Oh…Tuhan terima kasih atas anugerah yang terindah ini. Semoga suatu hari nanti, setelah aku sembuh, aku dapat melakukan apa yang telah dirinya lakukan untuk aku.

Dengan tatapannya yang berkaca-kaca, sang wanita membalas:
Tak usah kau berterima kasih seperti itu sayangku, itu semua sudah merupakan kewajibanku, dan aku pun ikhlas melakukannya untukmu dan menurutku kelak kau akan mampu berbuat seperti itu, dan menurutku kau bisa melebihiku, bahkan mampu melebihi dari perbuatanku sekarang kepadamu.

Kemudian dengan penuh keharuan, Sang lelaki akhirnya mampu menyalakan kembali pelita yang mulai redup di hatinya. Berusaha mengobarkannya untuk seseorang yang selalu setia di sisinya. Lalu seiring malam yang semakin larut, serta udara dingin yang mulai merambat naik. Merasuki tubuh yang menyelinap dari balik selimut. Kedua insan ini membenamkan percakapannya.

Bersambung.



18 Juni 2009 jam 8:30 WIB
andri edisi terbatas on facebook

seperti benar katamu

Sepertinya benar katamu. Diriku sepatutnya mulai menjemput para senyumanku kembali yang sejak hari kemarin tergantung di langit luas. Mulai meranum dan sebagian darinya bersiap berguguran ke bumi menemui diriku. Menyertakan esok yang tersulamkan oleh harapan. 

Sepertinya benar katamu. Diriku selayaknya mulai mencerahkan hatiku sendiri. Menyibakan tirainya dan membuka jendela hati lebar-lebar agar cahaya mentari dapat meluluhkan kebekuan ini. Agar ratusan aroma bunga-bunga yang bermandikan embun dapat merasuki penciumanku serta memberiku relaksasi. Semoga saja mampu menikam udara pengap ini yang semenjak kepergiannya, ku biarkan berkembang biak dengan leluasa. 

Sepertinya benar katamu. Diriku tak sepantasnya terlarut sedemikian rupa. Meratapi pelangi yang terhapus oleh datangnya sang malam dan merengek-rengek kepadanya, agar lekas mengembalikkan pelangi kepadaku. Walau sang malam telah merayuku dengan pesona purnama dan gugusan para bintangnya. Namun tetap saja tak mampu membujuk diriku untuk segera menanggalkan kesedihanku. 

Namun kini sepertinya benar katamu dan untuk kali ini, kata-katamu sepertinya benar: Bahwa kebahagianku harus ku raih kembali! Secepatnya, selekasnya, sebelum aku, benar-benar menutup mata. Selamanya.



18 Juni 2009 jam 8:29 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kali ini kau

Kali ini mungkin kau selayak rembulan di taman malam yang sempurna. Ditumbuhi ribuan bintang yang mulai merekah dan tumbuh subur pada sekeliling pijakanmu. Satu persatu para bintang itu mulai memancarkan kilauannya. Ada yang redup cahayanya, bahkan ada pula yang sangat menyilaukan. Dan kali ini, semuanya tampil dalam waktu yang bersamaan. Sepertinya para bintang itu mulai mengerti, bahwa kau sosok rembulan yang dimuliakan dalam purnama. Sosok yang diperebutkan, karena mereka ingin segera memenangkanmu. Lalu, siapakah bintang dari ribuan bintang itu. Yang layak kau ikut sertakan di malammu selanjutnya?

Kau merupakan bintang yang redup cahayanya, atau yang menyilaukan? Tanyamu kepadaku.

Diriku adalah yang redup, Jawabku sertai anggukanku.


Kemudian dirimu bertanya kembali kepadaku, dan kali ini dengan raut yang serius.


Mengapa kau berada di sini?, jika dirimu hanya menjadi sebuah bintang yang redup cahayanya?


Aku menjawab: Itulah aku beserta salah satu sisi kekuranganku, mungkin kau tidak akan pernah mengerti, namun menurutku…untuk apa aku menjadi bintang yang cahayanya menyilaukan, kalau pada akhirnya nanti cahayaku akan redup pula. Bukankah lebih baik kau melihat cahayaku redup sekarang dari pada nanti? bukankah itu yang lebih baik kau ketahui sekarang? mengetahui sisi kekuranganku mulai dari sekarang! Lalu setelah aku katakan ini kepadamu, akankah dirimu memilih aku, beserta seluruh redup cahayaku?

Seusai mendengarnya, kau tersenyum lalu berkata kepadaku: Terima kasih atas penjelasanmu, yang jelas aku akan mempertimbangkanmu, untuk ku jadikan kandidat pendamping diriku di malam-malam selanjutnya. Sekarang izinkan aku bertanya kepada Sang Pemilik diriku ini, siapakah yang paling pantas untuk diriku, semoga saja, jawabannya adalah kamu beserta redup cahayamu itu.




11 Juni 2009 jam 13:18 WIB
andri edisi terbatas on facebook

percakapan diriku dengan hatiku sendiri

Malam merangkak naik menuju puncak kesempurnaan. Diiringi keheningan nyanyian-nyanyian syahdu. Berkumandang menghibur hati yang sedang galau. Dan aku berbicara dengan hatiku sendiri.

“Wahai hatiku, ternyata aku masih sanggup memikirkannya, masih sanggup melukiskan setiap lekuk senyum manisnya, masih sanggup menghafal setiap kalimat rayuannya, dan masih dapat merasakan hangat kecupan bibirnya. Bukankah seharusnya dia telah meninggalkan hatiku, yang seperti dia lakukan di hari kemarin? Lalu mengapa dia masih berada di sini? Masih bersemayam di dasar palung hati yang terdalam?”


Lalu hatiku menjawab setiap perkataanku tadi. Sepertinya hatiku berlaku seperti sosok seseorang yang bijaksana. Berada di sisiku, berusaha berdialog denganku. Lalu kemudian hatiku berkata,

“Mengapa kau merasa terbebani dengan kegalauan ini? Apakah kau malu mengakui, bahwa kau benar-benar mencintainya? Sudahlah terima saja, nikmati setiap benih-benih kegalauan ini. Mungkin dengan adanya ini, dirinya di sana telah menyadari bahwa kau adalah sosok yang terbaik baginya. Dan aku yakin, dirinya di sana juga merasakan hal yang sama Sama-sama memiliki benih-benih kegalauan. Karena menurutku, perasaan kalian itu menyatu. Walau secara nyata kalian telah berpisah, namun perasaan kalian berdua takkan pernah terpisahkan. Sudahlah percayailah setiap ucapanku ini. Karena aku sangat tau apa arti kegalauan ini. Dan saranku, bergegaslah kau mensucikan diri dengan wudhumu. Lekas duduklah yang khusyuk pada sajadahmu. Kemudian mulailah berdoa untuknya, untuk seseorang yang kau pikirkan itu. Hadiahilah ia dengan doa-doa keindahan, agar kalian dapat lekas disematkan kembali. Sebuah mutiara kebahagian yang telah lama kalian sangat rindukan. Namun jika Tuhan berkehendak lain, ikhlaskanlah semua ketentuan-Nya. Dan anggaplah kegalauanmu ini, merupakan sapaan dirinya saja, yang dilakukannya secara bathin.”



11 Juni 2009 jam 13:08 WIB
andri edisi terbatas on facebook

dia

Aku tak bisa tidur
Hatiku sibuk bercerita tentang kegelisahan yang dialami
Kucoba tuk setia mendengarkan kata demi kata
Lalu karena kubosan
Aku bertanya kepada hatiku sendiri,

''Sebenarnya apa yg ingin kau ceritakan?''

Hatiku menjawab,

''Dia, pemilik degup keresahan ini. Dia, pemilik debur kegalauan ini." 





07 Juni 2009 jam 4:19 WIB
andri edisi terbatas on facebook

imúsm

Entah mengapa untuk yang kesekian kalinya, aku merasakan ada yang aneh. Dadaku mulai sesak dan pikirkanku mulai sulit untuk kukendalikan. Berulang kali namamu mengaum-ngaum di kedua telingaku. Berulang kali visualisasi wajahmu hadir di benakku.

Apakah aku sedang merindukanmu? Jika benar adanya, selamat aku ucapkan untuk dirimu. Karena kau orang pertama, yang telah berhasil membangunkanku dari peristirahatan panjangku.
Seandainya pemilik semua perasaan ini adalah kamu. Tolong menetaplah disini, untuk waktu yang tak terhingga. Bahkan kalaupun kau mau, aku dengan sudinya mengikhlaskan hatiku ditulisi syair-syair cintamu yang kemarin tercipta.

Oh Tuhan, aku bersyukur untuk masa-masa ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya ku panjatkan kepada-Mu. Sepertinya KAU sungguh menyayangiku, hingga memberiku perasaan sebesar ini. Apa mungkin kini waktunya aku mulai mengenyam keindahan cinta kembali? Keindahan dari sebuah kerinduan yang pernah sirna. Yang kemarin terhempas seperti debu lalu diterbangkannya oleh angin. Tak ada yang tersisa, hanya menghasilkan kemarau yang begitu panjang, serta memberkati hatiku menjadi kering kerontang.

Lalu malam mulai menaiki puncak kesempurnaannya. Mulai melucuti pemikiran-pemikiran para manusia. Menggantinya dengan mimpi-mimpi indah dan buruk. Namun aku masih saja gelisah tak beralasan, dan terjaga aku dibuatnya. Terjaga dari sosok dirimu yang nampak mulai semakin nyata. Yang hangat sentuhannya semakin dapat kurasakan. Membelai wajahku berulang kali, sesering mungkin. Dan di saat aku benar-benar menikmati kegelisahan ini, tiba-tiba ponselku berbunyi. Teriak-teriak ia membuyarkan sosok-sosok penampakanmu. Ku lihat dan ku cermati, satu pesan yang terukir pada layar ponselku. Dan ternyata itu adalah pesan darimu, yang berbunyi,

“Maafkan aku karena aku telah lancang merusak perjalanan lelapmu, Aku tak tau mengapa aku sangat selancang ini, yang jelas untuk kesekian kalinya aku tak dapat tidur, karena namamu dan bayang-bayang wajahmu selalu merampas malam-malamku. Jujur aku tak tau mengapa?.”

Setelah ku nikmati sebuah kejujuran darimu. Dengan cekatan jemariku mulai berlarian pada tombol di ponselku. Untuk sesaat aku binggung untuk membalasnya dengan kata-kata apa ? Lalu ku biarkan semua kejujuran hati ini, menuntunku pada kalimat di bawah ini,

“Terima kasih untuk segala kejujuranmu dan menurutku kau tak perlu meminta maaf kepadaku karena aku sendiri juga merasakan hal yang serupa, sama sepertimu, Sama-sama berulang kali, namamu dan bayang-bayang wajahmu kembali merampas malam-malamku.”

Namun ketika jawaban itu telah terkirim. Tak ada lagi kejelasan yang hinggap pada ponselku. Lalu aku berpikir, mungkin lelapmu telah terculik oleh sang malam. Yang sejak tadi membiarkan aku dan dirimu berkelana pada kegelisahan yang sama. Kegelisahan yang menurut penilaianku itu adalah kerinduan. Semoga dengan hadirnya perasaan ini, aku dapat terlahir kembali. 

Lalu kemudian ku paksakan mataku agar lekas terpejam. Agar esok pagi cepat datangnya, karena aku ingin selekasnya menemuimu. Menemui sang pemilik kegelisahanku. Menemui dan segera menikahkan kerinduan ini. Dan semoga untuk kali ini, aku tidak salah kembali. Bahwa dirimu orang yang tepat untuk aku rindukan.

So, i miss you so much.



26 Mei 2009 jam 17:42 WIB
andri edisi terbatas on facebook

cukuplah sudah

Hari ini memang tak seperti hari kemarin, saat kau masih di sini, saat senyum dan tangis itu tercipta. Saat semua sore yang selalu ingin kita santap habis bersama dan saat semua malam yang selalu ingin kita usir karena kita tak ingin lama-lama terpisahkan. Namun sayang, hari ini bukan hari kemarin. Sudah tak ada lagi sosok manja yang terbiasa memanggilku dengan sebutan: beib, honey, yank, bahkan cinta.

Sudah tak ada lagi sosok egois yang terbiasa memusingkanku dengan sifat kekanak-kanakannya. Semua telah pergi terhembus angin entah kemanaKe timurkah? Barat? Selatan? Atau utara? Aku pun tak tau dan sepertinya kau pun sendiri tak ingin diketahui keberadaannya. Bahkan sang matahari pun, kaularang untuk menerangimu. Mungkin kau takut akan cahayanya yang nantinya dapat membawaku menemukanmu. Apa salahku hingga membuatmu begitu bersemangat membangunkan para penghuni rawa untuk segera bermuhnajat. Meminta sekumpulan awan hitam untuk segera meracuni taman langit memaksa para malaikat untuk segera menanggalkan selimut birunya. Mengubahnya dengan warna-warna kusam dan kelam. Apakah cara yang seperti ini yang kau pilih untuk mengucapkan selamat tinggal kepadaku?

Apakah cara yang seperti ini yang kau pilih untuk menyapa semua kesetiaanku kepadamu? Jika benar adanya, kupersilahkan dirimu untuk terbenamLalu setelah aku membiarkan diriku terhenyak sesaat terbuai oleh mimpi kemarin yang tak pernah kunjung usai. Aku beserta diriku menyadari, bahwa aku manusia yang sangat kejam. Manusia yang dengan teganya menyiksa diriku sendiri dengan cambuk kenangan yang sejak kemarin ku biarkan mencabik-cabikku.

“Cukup kataku” Begitulah teriakanku yang terdengar di kala sore ituLalu ku biarkan suara itu menggema pada hatiku yang kosong. Memantul ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah sudut-sudut hati yang melapuk. Lalu aku bangkit dari lamunanku, kutatap langit dengan kepalan tangan di dadaku.


Aku berkata, “Cukuplah sudah aku mengenangmu. Cukuplah, sudah.”



26 Mei 2009 jam 17:36 WIB
andri edisi terbatas on facebook

sekelumit cerita

Kala rintik hujan mulai berjatuhan, mengenai kepala kita yang saat itu tak terselamati oleh apapun. Kau sempat menguraikan beberapa pertanyaan, yang entah dari mana datangnya. Apakah dari hatimu yang masih ragu terhadapku? Atau memang rasa keingin tahuanmu yang begitu besar? Bahkan sangat begitu besarnya sampai melebihi ukuran gunung terbesar di jagad ini. Dan kau pun melemparkan tanya kepadaku,

“Sayangku apakah kamu benar-benar tulus mencintaiku? Dan akan selalu setia berada terus di sampingku? Di saat diriku senang dan sedih?”.


Seusai kau bertanya seperti itu, aku hanya terdiam. Sungguh aku tak berani mengeluarkan sepatah kata dari mulutku ini. Walau beribu-ribu kata-kata terindah sudah tersusun rapi di dalam otakku. Namun aku tetap saja terdiam, selayaknya arca-arca pemujaan. Sebenarnya jika aku ingin menjawab, aku cukup menarik pelatuknya saja. Kemudian dengan sigapnya ribuan kata-kata indahku akan sanggup memberondong, semua pertanyaanmu yang tak penting itu. Hanya saja untuk kali ini, aku tak mau melakukannya untukmu. Lalu, dari keterdiaman diriku. Raut wajahmu mulai beranjak pergi meninggalkanku. Pergi entah kemana, membawa segenap semua tatapan indahmu. Kemudian lirih suaramu terdengar sangat memilu,

“Mengapa kau tak menjawab pertanyaanku? Mengapa kau diam? Apakah sesulit itukah untuk kau jawab? Atau memang kau?”.


Sebelum kau benar-benar menyelesaikan sebuah pertanyaan terbarumu itu. Aku dengan cekatan langsung mengkomandokan telunjukku. Tepat ke arah bibir mungilmu, untuk segera menutup laju semua pertanyaanmu. Lalu kemudian aku menjawabnya, disertai tatapan teduh mataku,

“Tolong hentikan sayangku bukannya aku tak ingin menjawab semua pertanyaanmu, hanya saja aku tak mau bermain dengan kata-kata. Karena jika aku melakukannya, aku takut pada akhirnya nanti, aku tak dapat menepati semuanya itu. Jujur walau kau tak memintanya sekalipun. Aku akan melakukan semuanya untukmu. Mencintaimu...dan setia terhadapmu. Hanya saja untuk kali ini izinkan aku untuk membuktikan semuanya tanpa perlu campur tangan kata-kata indahku. Karena aku takut pada akhirnya nanti, semua kata-kata indahku akan bermuara menjadi janji. Sungguh aku tak menginginkan itu terjadi. Karena aku hanya ingin menunjukkan semuanya, hanya lewat pembuktian sikapku saja. Dan kuharap, cukuplah kau mendampingiku tanpa perlu banyak bertanya. Karena menurutku sebuah pembuktian sikap, jauh lebih penting dari pada hanya menghadiahimu dengan sebuah jawaban-jawaban indah.”


Setelah kau menangkap semua ucapanku, dahimu mengerut, serta sorot tatapanmu menerawang jauh ke dalam mataku. Seakan-akan dirimu penasaran, lalu kau berusaha menggalinya kembali. Berusaha mengkais-kais kejujuranku, apakah semua itu tulus aku ucapkan atau tidak. Lalu perlahan air matamu meleleh, menuruni lekukan wajah ovalmu. Sepertinya, kau benar-benar larut dalam situasi ini, yang sebenarnya aku paling benci melihatmu seperti ini. Lalu dengan tenangnya aku peluk dirimu, dan mengatakan,

“Begini saja kita lihat saja nanti, Siapa yang paling akhir berdiri disini. Berdiri paling setia pada hubungan ini. Dan bila pada akhirnya nanti…orang itu adalah aku, ku harap kau tak perlu lagi bertanya seperti ini. Sekarang berhentilah menangis sayangku.”

Seiring ucapanku tadi, kau kembali tersenyum menatapku. Sepertinya ucapanku tadi telah berhasil, menghadirkan sebuah pelangi untukmu. Sebuah pelangi yang nampak sangat begitu indah di hatimu. Lalu seiring sesenggukkan tangismu, kau pun berkata,

“Maafkan aku atas semua pertanyaan bodohku tadi, aku kini percaya bahwa kau benar-benar mencintaiku dengan tulus. Semoga saja aku juga dapat melakukannya sepertimu, berdiri paling akhir berdiri paling setia pada hubungan ini. Semoga saja kau memang jodohku, namun seandainya tidak, kau akan selalu tetap menjadi kekasih terbaikku, yang pernah aku miliki, di sepanjang hidupku.”




25 Mei 2009 jam 13:03 WIB
andri edisi terabatas on facebook

memilih

Mencintaimu lebih mudah dari pada membalikkan tangan
Mencintaimu lebih ringan dari pada meniupkan segumul kapas
Mencintaimu lebih cepat dari pada kilatan petir yang menyelinap
Mencintaimu tidak sesulit dari pada soal-soal pelajaran matematika


Namun mencintaimu
Akan terasa sangat tidak mudah
Akan terasa sangat tidak ringan
Akan terasa sangat tidak cepat
Dan bahkan akan terasa sangat sulit
Jika kita berbeda keyakinan
Lalu apakah kau mau berkorban untukku?
Berkorban untuk cinta yang menurut para pemuka agama itu terlarang
Jangan dijawab sekarang, cukuplah kau merenung terlebih dahulu
Usahlah menangis, bendung semua kesedihanmu itu
Karena aku seseorang yang cukup penyabar didalam menunggu


Pelajarilah keyakinanku lewat perantara kalam ini
Baca setiap ayat-ayat-Nya dan resapi setiap kedamaian ke dalam jiwa
Kuyakin kau mampu melakukannya Maria Girgis
Demi aku, demi cinta kita dan demi keyakinan suci ini




11 Mei 2009 jam 18:16 WIB
andri edisi terbatas on facebook

lalu


Getaran ini terasa kembali berpacu cepat memompa hingga ke ujung sesak. Menyamarkan dirimu yang hadir di kala rindu. Lalu apakah kau bagian dari kerinduan ini? Jawabnya masih menggantung di langit, masih tertawan di kerangkeng besar awan kelabu, menunggu dibebaskannya oleh sang semilir. Lalu mengapa hujan tak jua datang? Membasuh taman hati yang mulai kerontang. Membasuh lantai altar suci persembahan cintaku dan semua ini ku bangun untukmu, untuk kau yang ternobatkan itu. Lalu di manakah senyum dan canda bersemayam? Jujur aku ingin membangunkannya kembali agar kau mampu menyeka linangan ini, yang sejak kemarin mulai nampak. Ratakanlah sayangku ke sekeliling permukaan wajahku, ratakanlah menjadi damai. Lalu masih pantaskah aku berharap demikian? Jika Pemilik semua cerita ini tak mengindahkan permintaanku dan apakah kau mampu memberontak-Nya? Ataukah aku mampu membebaskanmu dari guratan takdir yang mulai terbit di permukaan janji kehidupanku? Lalu jawabannya kembali terdengar tidak, tidak dan tidak.

Apakah ini pertanda kau bukan yang terbaik untukku? Bila memang adanya, tolonglah aku Tuhan, tumbuhkanlah sepasang sayap pada bahuku agar aku dapat terbang, pergi dari keterperukan lembah kenangan. Lalu aku tersentak dan kembali sadar untuk menjalani hidup tanpamu.



11 Mei 2009 jam 18:05 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kau

Kau, adalah makhluk pemilik pesona terindah
Berparas cantik yang terselimuti keanggunan diri

Kau, adalah keteduhan dari barisan awan putih
Yang menggantung di langit, menyelamatiku dari siksa sang terik

Kau, adalah penghilang dahaga termanis yang pernah kuminum
Dari ribuan anggur yang pernah tersaji, pada setiap perjamuan yang kuhadiri

Kau, adalah oksigen yang selalu ingin ku helat
di setiap pagi, siang, sore, dan malam kesendirianku

Kau, adalah sebuah puisi cinta yang melegenda
Yang ingin aku baca dan ku cetak kembali di lembaran hari-hariku

Kau, adalah semilir kidung simponi yang melarutkan
Menghanyutkan angan, membunuh semua kobaran kepenatan

Kau, adalah alasanku mengapa aku mampu memejamkan mata kembali
Mengajariku betapa indahnya memiliki mimpi

Kau, adalah pemimpin besar sebuah pemberontakkan di hati
Yang menundukkan serdadu-serdadu kesetiaanku, dari kependudukannya di hati ini


Kau, tiada yang seperti kau dari pada kau
Kini milikilah aku selamanya, jadilah bagian dari rusukku yang menghilang




29 April 2009 jam 23:29 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kembali menulis

Hari ini aku ingin berimajinasi. Melepaskan semua tawanan pemikiran. Melambungkannya ke langit tanpa batas tanpa syarat tanpa larangan dari aku apalagi kamu. 

Dan sesaat lagi jemariku akan mulai bersiap menggerayangi lautan kata. Menyentuhnya dan melumatnya dengan sedikit sisa-sisa intuisiku. Semoga saja masih ada sedikit cahaya. Apakah nantinya seterang matahari? Ataukah seredup rembulan? Dan kupikir kenapa aku harus risau atas semua itu. Apapun hasilnya nanti biarlah terbentuk nanti. Biarkan mengalir menuju dermaga kepenatan. Lalu kemudian jemari ini mulai menari lincah laksana balerina. Berputar-putar mencari pasangan sejati yang ingin segera aku nikahkan dari kumpulan para vocal ke dalam kumpulan para konsonan dan semoga saja aku berhasil memperkenalkan jodohnya masing-masing. Membuatnya bercengkrama dan melahirkan ribuan harmoni dan kalian bersiaplah atas tugas kalian! Menjinakkan setiap keliaran kalimat-kalimatku, yang mulai merantau. Menangkapnya dengan sentuhan lembut, melalui tatapan intelektual kalian. Lalu kemudian, cari artinya pada setumpuk jerami kata-kataku itu. Dan bila sudah, sematkanlah medali opinimu kepadaku. Entah itu emas, perak, atau perunggu sekalipun. Yang jelas apapun bentuknya itu pada akhirnya nanti, dapat melahirkan senyumanku. Melahirkan gairah menulisku, yang kini ingin aku besarkan dengan pikiranku kembali.

Teruslah kau begitu dan jangan pernah berhenti bergumam karena dengan hadirnya kau sebagai pembaca, semua bentuk tulisan di dunia ini menjadi bermakna.




29 April 2009 jam 23:24 WIB
andri edisi terbatas on facebook

penerus kisah siti nurbaya

Hari itu sebenarnya suasana hatiku tak menentu, dan aku gamang akan semua langkah yang ku ambil. Kendati janji suci sudah sejak pagi tadi berkumandang. Kendati banyak orang menyanjungku dengan kata-kata termuliakan. Namun aku tetap meragu, dan termenung aku dalam kemeriahan pesta ini. Alunan musik berjalan lambat menyayat-nyayat hati. Memapah senyumku yang menurut kalian tulus, padahal sebaliknya. Seandainya kalian bisa sedikit peka, arti senyumku itu tak melukiskan sedikitpun kebahagiaanku.


Sepenuh jiwa ini bertanya, 
“Dosakah aku untuk semua kebohonganku ini?.”

Membiarkan orang asing memasuki pelataran taman hatiku. Memetik bunga-bunga terindah, memanen buah-buah yang mulai matang, dan menebang pohon-pohon lalu diambil kayu serta rantingnya olehmu. Yang sebenarnya kau tak berhak atas semuanya, karena kau bukan kekasih hatiku.


Sebenarnya bunga-bunga ini sengaja ku tanam, dan akan kupetik sebagai penghias kamarku saat penyerahan diriku kepadanya nanti. Sebenarnya buah-buah ini sengaja ku tanam, dan akan ku nuai hasilnya sebagai sajian penutup makan malamnya nanti.
Sama juga dengan pohon-pohon yang ku biarkan tumbuh menjulang tinggi dan menua, akan ku serahkan kepadanya untuk disulapnya menjadi peristirahatan mungil yang sederhana.

Namun semua itu hanya harapan yang harus aku kubur dalam-dalam, karena aku tak tega melihat air mata turun mengalir bebas, dari mata seorang kaumku, mata seorang hawa yang begitu aku hormati. Yang rela berkorban menaruhkan nyawanya, yang rela memeras darahnya, yang di kitab suci dikatakan bahwa surga berada di telapak kakinya. Hanya saja dia tak mengerti apa yang sebenarnya aku ingini dan siapa yang aku cintai sesungguhnya. Dia dengan lantang menolaknya tanpa berpikir dari sisi aku.


Lalu kemudian suasana berganti dari ramai menjadi lengang, dari terang menjadi temaram. Tangan dan kakiku mulai mati rasa setelah sekian lama menjadi arca bodoh yang terbingkai bersama cahaya perak. Dan sesaat lagi aku akan memulai episode kebodohanku. Episode yang lebih tepatnya aku katakan sebagai episode pelacuran. Karena aku hanya menyerahkan tubuhku tidak hatiku. Karena sampai ajal menjemputpun, hatiku telah termiliki olehnya. Termiliki dan termenangkan oleh seseorang ksatria di sana. Seseorang yang mau membunuh naga egoisnya untuk aku. Seseorang yang rela meminjamkan air matanya ketika aku bersedih sedemikian rupa. Seseorang yang kini aku benar-benar ingin mendengar sentuhan maaf darinya.

"Maafkan aku kekasihku karena aku belum bisa mewujudkan semua asa suci kita. Maafkan aku kekasihku. karena aku belum bisa menjadi pendampingmu yang kau kecup di pagi dan malammu. 
Maafkan aku kekasihku, karena aku belum bisa melahirkan anak-anak lucu kita. Maafkan aku kekasihku karena aku dilahirkan sebagai penerus kisah siti nurbaya."  Ucapmu kala itu.




29 April 2009 jam 23:20 WIB
andri edisi terbatas on facebook

titik dan koma

Kau adalah titik dan aku adalah koma
Kau sebagai titik, penyanjung sesuatu yang pasti, berwujud dan nyata
Aku sebagai koma, penikmat kata-kata seandainya, selanjutnya, dan mungkin

Kau sebagai titik, mencari sesuatu untuk mengakhiri dan menyelesaikan
Aku sebagai koma, mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi

Kau sebagai titik, tidak memberi ampun untuk segala bentuk penghianatan
Aku sebagai koma, memberi kesempatan, untuk sebuah kata maaf sederhana sekalipun


Kau tercipta sebagai titik dan aku tercipta sebagai koma

Lalu akankah kita dapat bersanding hidup berdampingan?
Jawabnya sepertinya tak penting lagi, seperti tak pentingnya pertanyaan ini

Sudah diketahui kita tak akan bersama jadi tak perlu lagi diperdebatkan
Biarlah kita hanya saling mengkagumi setiap kelebihan dan kekurangan kita masing-masing, tanpa perlu saling memiliki 

Karena kita ditakdirkan tanpa berhak memiliki satu sama lain dan kita tercipta hanya untuk saling menyempurnakan tujuan mereka
Terus bahagiakanlah mereka, pihak-pihak yang diuntungkan dari kehadiran kita
Karena itu tujuan kita, walau terasa menyesakkan namun teruskanlah
Teruskanlah kau menjadi titik di kehidupanmu saat ini
Seperti aku yang takkan pernah beranjak dari koma
Dan jangan pernah kau sesali akan takdir ini
Seperti diriku yang tak sedikitpun menyesalinya

Mungkin sekarang kita belum berjodoh dan semoga nanti kita terlahir kembali
Bukan sebagai titik bukan sebagai koma.




29 April 2009 jam 23:14 WIBandri edisi terbatas on facebook

dan kemudian

Semenjak cahaya temaram menghiasi
Segala bentuk senyum kusembunyikan
Dari pandanganmu yang mampu membiusku
Dari pandanganmu yang mampu menghempasku

Dan kemudian
Setiap kata yang terucap, setiap helai yang tertancap
Dalam balutan indah, di setiap raga yang terjamah
Raga yang teramat kokoh, namun rapuh di dalamnya
Menunggu dirimu untuk selamatkan pelitaku

Dan kemudian
Terangi setiap sudut-sudut hati, jelajahi hamparan rinduku
Tak akan lelah ku berharap, menyemai kasih bersamaku
Menuai butiran sejuta harapan,yang ku sebar di taman hatimu
Berwarna indah berkilauan, selayak mutiara yang tertimbun di dasar samudera

Dan kemudian
Jangan memintaku menghitung barisan rinduku padamu
Seumpama udara, ku hirup senantiasa, seumpama langit, menjadi atap hidup jiwaku
Biarkan aku bertahan pada kebodohanku, menapik karya surga pelipur lara yang ditawarkan langit biru kepadaku
Biarkan aku mengemban rindu, kendati letih merajai sudah

Dan kemudian
Ku hanya punya hati untuk kau diami, tempat kau labuhkan gundah
Hati yang lapang untuk kau bersandar
Hati yang hangat saat hujan menggigilkan kalbumu


Dan kemudian
Aku termangu di depanmu
Menatap keindahanmu yang terpancar disetiap kata-katamu
Aku tak kuasa menahan diriku 


Dan kemudian
Berjanjilah padaku seperti janji sang angin yang berhembus menghadirkan kesejukkan
Seperti janji sang surya, setia memberikan kehangatan


Temui aku dalam pelataran kasih, tinggalah selamanya
Mungkinkah janji itu akan tersemai, menghampiriku seperti butiran-butiran hujan di sore ini
Membasuhku dengan belaian lembut, menyejukan anak-anak kerinduan yang mulai galau


Dan kemudian, usai sudah untuk kisah ini 




note :
Terima kasih yang sebesar-besarnya,…
Kepada teman-temanku (Lusiana Herawati, Irma Susanti, dan D Feni Cm Aprilia) yang telah merelakan beberapa buah kata-kata terindahnya.


29 April 2009 jam 23:08 WIB
andri edisi terbatas on facebook