kala ederra memanggilku pangeran

“Ederra.”

Pernah terdengar ringkas angin bersenandung merdu akan namanya. Teruntai manja pada pucuk dedaunan dan gemulai ilalang, kala bermandikan cahaya emas di pancuran senja. Menawan, sangat menawan.

Hari ini kejahilanku menggeliat kembali, berulah lagi. Sepertinya tak jera dengan pasca efek getir yang selalu mengekor. Hari ini untuk yang kesekian kalinya, aku berusaha membangkitkannya. Menarik selimut dari peristirahatan terempuk. Meringkuk serupa lengkibang di rahim kotak surat mutakhir tempaan gmail. Pelan-pelan, sedikit hati-hati, hingga tersibak tabir pengunci sementara.

“It's me skrng ga becanda lg,” sapaan hangatnya terhias pada senyum sari tebu yang selalu tersaji ketika mataku berkunjung. Selalu.

Seperti berdiri menghadap lorong waktu, sorot matanya seperti magnet. Mahir benar membujuk diriku untuk melepas simpul kesadaran, bergegas bertamasya ke tempat tujuan yang di maksud. Tetap sama, tempat tujuan itu bernama “lampau.”.

Sketsa demi sketsa satu persatu mulai nampak tersingkap, berjajar elok, absen menjalar masuk ke dalam tempurung kepalaku. Hingga terhenti pada sebuah sketsa berwarna ungu, warna kesukaannya di sketsa kesukaanku.

Pada sketsa itu, aku teringat kala berdialog beradu peran dengannya. Selayak tokoh di dunia dongeng pada umumnya, aku tersemat dengan sebutan “pangeran” dan dirinya teruntai dengan panggilan “putri”. Terdengar lucu nan menggelitik, bukan? Bergidik macam lubang telinga dikunjungi sehelai bulu ayam. Berkesan manis, tak sekedar manis sari tebu yang terecap. Sulit untuk didefinisikan oleh lidah logika para khalayak. Sampai berujung efek ganjil. Senyum-senyum sendiri, gila sehari penuh, hanya di hari itu.

Tiba-tiba,

SYYYAAAAPPPP

Layar monitor mendadak berubah hitam, bersamaan dengan redupnya benderang, melenggang mesra bersama perginya udara dingin pada ruang tempat kerjaku. Seperti mengisyaratkan signal misteri kepadaku, sejenak memarkir lamunan hanya sampai di situ. Ya, hanya sampai di situ. Memarkir satu liang bersama aliran lisrik yang sedang mati suri.

Ingatku seusai sadar. Itulah sketsa paling manis bagiku, sekaligus sketsa paling bungsu tentang kita.

“Hmm, pangeran.” Sebentar ku kenang lagi akan seruan itu. Sekali lagi sambil menatap nanar ke arah layar monitor yang masih loyal dengan hitamnya, sebelum ku beranjak meninggalkannya.

Mengingat panggilan itu, seolah-olah ragaku ringan melebihi kapas, bahkan lebih ringan lagi. Mendadak terhempas meninggalkan bumi. Enggan berpijak, tinggi, hampir mencoret-mencoret langit.


4 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, kamu dipanggil pangeran juga toh. hehehe...sama cewek yg di buku itu ya? ciee..cie....

spt aku memanggil kekasihku, pangeran. hahhaa...

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis : hihihi...iya mbak, beberapa bulan yg lalu...tp kini sdh tdk lg...^_^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, sayang banget...yasud.ntar juga dpt lagi. semangaaat

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis : pastinya selalu semangat mbak...selaluuuuu...^_^ **sambil lompat-lompat nggak jelas, sampe kejedut atep rumah**