kirai

Meremas ingatan dapat secangkir kuteguk sayang-sayang, kala sore itu menunggu reda hujan kuda besi di jalan istri ternama presiden RI pertama. Menunggu reda, sampai bertambah bengkok tulang ekorku.

Rekah senyum sedari secuil hingga melebar hadir selalu tanpa diminta, saat kulempar pandang ke luar kaca. Loncat sejenak, mencuri rentetan aksara yang senantiasa anggun bersandar pada lempeng hijau, kokoh ditopang besi sewindu, diserbu jerawat karat pada tubuhnya. Berdiri paling egois pada sisi kiri rahang gapura renta, yang setiap hari melahap habis cemooh terik bahkan rintik.

"Kirai," gumamku dalam hati.

Membacanya seraya menyusun kembali potongan puzzle lawas yang terserak ditumpahkan masa, menjadi sebentuk romance yang lambat laun terangkai menghias lamunan. Paling manis, paling madu. Madu yang paling manis.


Hening sendiri, terhanyut memori, khidmat yang sangat cantik.

Tiba-tiba.


"Ongkosnya,  Bang, ongkosnya." Suara berat lelaki seberang pulau Sumatera, bergemuruh dengan buntut gemerincing koin logam, beradu bertumpuk pada telapak kekar tangannya. Hadir tepat di hadapan parasku kurang dari setengah jengkal, menagih tarif, memporak-porandakan seantero lamunan maduku, meluluh-lantak, sirna seketika macam pesulap berucap, "Abrakadabra."

"Nih,  Bang." sembari kugelontorkan tiga lembar uang berlambang Patimura dengan parang terhunus tajam, mengancam menyeramkan dari dalam saku celanaku. Lelaki itu lantas berlalu meninggalkanku jauh-jauh, kembali menelusup menagih tarif ke sesama pengguna jasa kuda besi ini yang lain. Tentu saja dengan suara berat dan buntut gemerincing koin logam yang merupakan trademark-nya.

Dan untuk sekali lagi, aku pun nakal tuk sejenak. Menoleh kembali, mencuri pandang ke arah mahkota jalan kecil yang sangat beruntung itu. Beruntung karena pernah di anugerahkan untuk menimbul-tenggelamkan sang penakluk hati selama hampir tiga musim, dengan berbagai ragam pernak-pernik magis cintanya.

"Kirai," gumamku kembali.

Nampak mulai nanar, kini tak mampu teringkus oleh mata. Saat jarak pandang mulai mengendur, menjauh melamur, luruh terbenam.



10 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met idul adha ya

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis : iya...trm ksh mbak fanny...^_^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

jalan Fatmawati dong ya?

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis : iya bener bgt mbak fanny...^_^

pas sedng di jalan itu, pas juga smbl menatap ke arah nama jalan yg ada di situ...dan semua serba pas...^_^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kok saya cari lagunya di blog ini gak ada ya. padahal saya udah cek lagu2 silverchair. dan yg judulnya miss love you bukan spt ini.

kalo ini kan lagunya kalem gitu.
salah kasih judul gak nih?

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis : ohh...ini pasti ngebahas lagu yg di note "cerita kemarin malam" yh mbak ?...^_^

jd gini mbak, pas saya bikin note itu. saya lg dgr lagu silverchair "miss you love" (salah satunya)...tp klo lagu yg di blog ini, saya sengaja pakai laguny yiruma "kiss the rain" biar bisa relax pas lg ngeblog mbak...^_^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, jadi salah informasi nih. misunderstanding toh. makanya saya bingung kok cari2 di silver chair gak ada lagu ini hehee..tapi udah ketemu kok. dibantu pangeran cari lagu itu. hi hihi..lagunya aisk banget ya.

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis : iya mbak...pas dengerinnya jd tambah adem...ayem...^_^

Putri Puspita Sari a.k.a Pupus mengatakan...

aduh oke banget, bagus banget bahasanya >,<

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ pupus : hihi...trm ksh sangat2...tulisan km juga bgs, senang saya ngebacanya...^_^

btw trm ksh yh dh berkunjung ke blog saya...^_^