tentang hasta ria



Pertemuan kita lewat angin, masih ingat, kan? Bila tak salah, kala itu senja sedang ranum-ranumnya, genit dengan blush on keemasan di pipinya. Aku yang masih setia menekuri lantai, sontak keheranan menyaksikan para alfabet yang bermunculan pada layar ponsel. Laksana ratusan bunga english roses yang merekah berulang kali setiap tahun, tak pandang musim, dengan wewangian aroma santun yang tiada tara. Bahkan santun abdi dalem keraton sekalipun, mampu dikangkanginya tanpa terkecuali.

Rentetan anak peluru entah sudah berapa kali termuntahkan dari moncong senapan rasa penasaran kala itu. Hingga satu persatu pion-pion rahasia terlemah, dapat dengan mudahnya melambaikan bendera putih. Ternyata kita lahir di bulan yang sama, tepat di bulan ketiga. Kendati beda satu tahun, rasi bintang, genre musik, film, dan hal remeh temeh lainnya, sepertinya aku mulai terjajah olehnya. Terjajah oleh rasa nyaman, buntut dari perkenalan kita kala itu.

Setelah hari itu bila ada kesempatan, entah itu secuil atau melimpah ruah. Saban pagi, siang, sore, maupun malam, bila tak sempat berkicau murai. Sudah pasti kita akan saling menebar jentik aksara. Kendati sekedar hanya menyapa ; “selamat beraktifitas atau hati-hati di jalan”, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan efek kejutnya mampu meruntuhkan puncak himalaya rasa penat setelah seharian bergumul dengan lembar-lembar duniawi yang dalam kesehariannya terbiasa tergolek manja di meja kerja masing-masing. Berjemur bak para turis pemburu matahari di pinggir pantai kuta.

Sampai pada akhirnya, tibalah aku pada kodrat harfiah sebagai manusia. Tak pernah puas dengan kedekatan yang sudah tersaji. Dan aku pun ingin menyingkap wajah misterinya, menikmati dengan detail tiap inci alur parasnya. Sampai aku benar-benar selesai memindahkan sketsa wajahnya pada tiap sudut pandanganku tertuju.

Di langit aku hafal betul sudah berapa kali purnama bercokol dengan ponggah. Meledek aku sampai pada hitungan yang ke empat. Menyebabkan penyakit penasaranku makin hari semakin bertambah kronis. Dan aku penasaran akan rupa dirinya setengah mati.

“sekiranya bila sulit tuk bersua saat ini, sudilah kirimi aku wajah dirimu barang selembar, dilipat menjadi bentuk mms atau email, mungkin akan menjadi penawar rasa penasaranku saat ini.”

Pintaku kala itu dengan suara parau merayu. Berharap bungkusan ekspresi wajah senduku mampu di visualisasikan olehnya. Kendati itu sulit, karena kita hanya berbicara dalam hitungan jarak yang tak terbilang, dan hanya suara yang mampu untuk meredam.

Ketika penantian akan penawar yang masih tersendat. Diamini olehnya namun baru sebatas niat. Akhirnya niat itu benar-benar dicetak. Ditempa menjadi signal elektronik. Lalu diterbitkannya, melalui angin yang pada hari itu, berbaris mengantri ingin masuk berebut ke dalam ponselku. Usah ditanya perasaanku kala itu. Baru membaca mukadimah pesannya saja, belum khatam benar, aku sontak kegirangan bukan kepalang. Akhirnya dirinya mengirimiku pesan bergambar.

Namun sayang sungguh disayang, maksud hati ingin ku reguk nektar secepatnya. Menjilati habis pesan bergambarnya, dengan ujung lidah mataku. Mendadak aku terserang amnesia, lupa akan cara menerap sistem pengaktifan pesan bergambar.


Sepanjang jalan tiada letih diriku memporsir otak, untuk melancong kembali ke masa lalu. Mengingat-ingat tentang cara pengaktifkan pesan bergambar. Ku tatap lekat layar ponsel, menelusurinya dari hulu setting profil mms sampai ke hilir yang termaksud. Dengan merangkak, sedikit tertatih-tatih, penuh hati-hati. Dan proses download pun mulai mengangsur sedikit demi sedikit, tanda setting mms telah berhasil ku kangkangi.

"APA INI?" Kaget diriku setengah mati dibuatnya.
Gambar seekor beruk sedang berakrobat motor Rossi the Doctor. Mutiara somplak saat kulit cangkang pesan bergambar mulai terbelah. Sungguh lelucon yang tak elok, bahkan tak layak diamini sebagai lelucon. Aku pun langsung kecewa. Penantian empat purnama henyap seketika, ketika gerhana gambar beruk tersebut mulai melebarkan rahang, mencaplok, merampok dengan paksa euforia prematurku. Dirinya menaruh sengaja gambar beruk atas nama dirinya sendiri. Benar-benar atas nama dirinya. Sengaja nian.

Sejak hari itu aku mencoba untuk menyuburkan jamur-jamur spasi, merenggangkan kedekatan yang telah terjalin. Sampai waktu membisikan ke telinganya tentang peristiwa kemarin. Sampai dirinya mengirim email seperti ini,

“it's me, skrng ga becanda lg.”

Gambar dirinya benar nyata bukan buatan. Bercokol paling akhir pada opsi unduhan.

Rambut panjang berombak, dengan warna cokelat memayungi wajah nan seputih awan. Ku lihat senyum bulan sabit terbit di sana, menghias sebuah ruang kerja tempat para akuntan memeras otak. Sungguh anggun tak terbilang, saat balutan kain entah jenis apa, berwarna kelabu membungkus kulit mulus suteranya. Dan aku tak henti-henti berdecak kagum malam itu. Sungguh tak henti-hentinya. Sampai malam tergelincir masuk parit fajar menyingsing.

Seiring waktu akhirnya musim paling ekstrim melanda belahan bumi tempatku berpijak. Pagi sampai siang masih didamprat terik, namun petang sampai malam sudah terkulai oleh hipnotis derai hujan. Sungguh labil musim kali ini, serba timbul tenggelam, sulit diterka seperti dirinya sekarang. Jika kemarin dulu paling rajin mencubit lewat para aksara terpilih. Sekarang paling sering khusyuk menghilang tertelan senyap. Seingatku telah sampai pada hitungan empat periode terbilang.

Terlintas pertanyaanku, apakah ada yang salah dengan pengakuanku tempo hari? Pengakuan saat aku mengurai maksud hati, bahwa kamu adalah sosok selanjutnya yang terletak di ujung telunjuk hati saat ku menjentik. Sosok yang ku perkenankan untuk merapihkan ruang hati yang serba berantakan, berdebu selama kurun waktu lebih dari tiga tahun. Dan dirinya pun ku perkenankan untuk menghuninya.

Akhir yang belum menjadi akhir. Masih mudah titik untuk disemai gores, terlafadz menjadi koma bila dirinya berkehendak. Atau jika tidak, cukuplah aku menarik kesimpulan sepihak. Bahwa tentang hasta ria biarlah tergolek indah dalam tidur indah pencariannya. Tak perlu aku menyusahkan, karena dirinya tercipta bukan untuk tersusahkan olehku.

Terima kasih kepada Sang Maha Tinggi karena telah memperkenalkannya kepadaku.


13 komentar:

Senja mengatakan...

selamat sore,...

gak menyesal membuka pc dan menjelajahi rmh virtualmu sore ini pak.

Bahasamu mengalir,...dgn susunan kalimat yg indah tapi kupahami dan membawaku pd pesona tersendiri membaca nya hingga akhir. tidak lelah meski cukup panjang.... malah kurang saat tlah tiba di ujung.

kerennnn bgt....

sayang sekali ya...semua krn hasta :(

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ senja : hehe...maaf telat buka blog bu...

Met siang...^_^

iya bu guru, semua krn hasta ria, alasan aku mau menatap hari esok dan membuka ruang hati kembali...kendati kini mungkin lbh tepat arti hadirnya, mungkin hanya sebatas menolong utk aku melakukan hal itu semua dan bukan utk mksd yg lain...huhuhu...^_^

btw trm ksh dh berkunjung bu...^_^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

gambar mawarnya keren

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis: kebetulan baru metik td mbak...^_^

Senja mengatakan...

pak guru,selamat pagi......rumahnya baru dan nyamaaaannnnn banget :)

seminggu ini sdg berpikir untuk ganti template dan belum tahu seperti apa.

tapi tampilan rmhmu memberi inspirasi,hihihi.....gak papa kan?

keren pak...

*tgl 30 ada pesta bloger di rasuna said, ayo bergabung pak supaya kenal dgn para bloger seluruh indonesia :)

Michella mengatakan...

wow kian hari tulisanmu makin indah ^_^

salut

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ senja : selamat pagi yang sudah terubah siang bu guru...^_^

hihihi...trm ksh klo template br ini dibilang nyaman dan bisa memberi inspirasi utk ibu...^_^

hmmm...kumpul para blogger bu ?, mau bgt...btw ibu dtng jg ?, hmmm...biaya utk registrasiny brp bu ?...^_^

@ shella : terima kasih shell...

btw tulisan2 km jg, makin hari semakin indah ajh, malah lebih indah dr tulisan saya

salut jg deh...^_^

uchie mengatakan...

pjg amaaat, tp bagus...
ciyeee bwt sypa ndri? ko ada meranum2nya c?
trs knp ktemunya lwt angin,ga di "blank" tmpt kongkow qta ahahaha :P

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ uci : hihihi...kepanjangan yh ?, btw trm ksh dh berkunjung crit...

hmmm...ini note buat seseorang yg suka mengintip blog gw lwt BB Purplenya crit...huhuhu...*_*(bagi tissueny dnk !!!)

jiaaahhh..."blank" dh kena gusur crit...^_^

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

baru metik? wah,bagus amat kembangnya ya...warnanya kok bisa ungu begitu

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ sang cerpenis : tau nggak mbak knp bisa unggu begitu ?...itu gara2 terkontaminasi aroma jempol kaki saya mbak...kikikik...^_^

uchie mengatakan...

eh cumiii... br ngeh itu kan gmbr mawar yg ada di blog gw,samaan gitu sich?

ciye bb purple suit suit :D

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ uci : emang samaan yh ???, baru ngeh...^_^