pencuri wajah

Kamu mencuri wajahnya dari punggung kekasihnya. Diam-diam, tanpa sedikit pun matanya, berhasil menyergap matamu. Tiga kali sorot tak pernah puas, esok terulang, tak pernah lulus, tak pernah lunas. Sampai-sampai rupa wajahnya enggan bias, lekat di setiap pandanganmu terjatuh. Di dinding kamar, langit-langit, lantai kamar mandi, piring makan, cangkir kopi, sendok garpu, buku jurnal, muka meja, jendela bis kota, sampai di semua tempat, di semua benda, sembarang saja, tak terhingga.

Bila ini malam serupa tikar, pasti ringkas kamu gulung serta rapikan. Bahkan mungkin separuh rembulan yang tinggal kenangan itu tewas juga, tercelup ke dalam es teh manis yang nasibnya kian menit kian memburuk. Lalu setelahnya, dengan sigap pandanganmu akan bergegas melompati pagar. Menuju wajahnya, mencuri kembali dari balik punggung kekasihnya. Senantiasa pada hari esok, yang masih tergolek di lembar almanak berentet, menunggu tersobek."Kapan kamu berhenti mencuri wajahnya kawan? Mengapa tak ubah haluan tuk mencuri hatinya saja?" Lontar tanyaku kala itu."Entahlah." tukasmu sembari melafadzkan kata abadi pada setiap tanya, pada setiap rambu kerut, tanda orang heran mendarat di dahi ketika berpapas muka dengan kelakuannya. Seterusnya, selalu begitu, hingga benar sampai kini.


2 komentar:

Senja mengatakan...

benar,..mengapa hanya kau curi wajahnya...mengapa hanya kau simpan rautnya..?

tidakkkah lebih baik kau petik hatinya yg laksana bunga ?

kau simpan,kau abadikan dalam waktu....

tulisanmu kian indah pak,..sungguh :)

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ senja : seperti biasa yg sering di utarakannya bu guru, kata abadi pada seusai tanya mendarat...

"entahlah..."

btw trm ksh bu guru atas pujiannya...^_^

hmmm...msh tahap belajar menulis nih bu, berangan tulisan saya dapat seperti tulisan ibu guru yg selalu indah...^_^