sore itu


Mendung masih menyelimuti langitku, nampak kelam memburamkan lukisan terindah. Sementara aku masih di sini masih menanti permadani keunguan menyibak senjaku. Sayang saat yang kutunggu tak nampak karena armada awan gempal telah mulai berserakan. Bahkan ku tak mendengar suara matahari sekalipun. Berpamitan meninggalkanku untuk segera memeluk rembulan. Kemana semua karya indah ini disembunyikan? Tak pelak membuatku tersudut pada suatu kepenatan. Perlahan riuh hujan mulai menghujam dengan ribuan anak panahnya. Bertubi-tubi mendera memburu kumpulan para debu.


Waktu sore itu hanya ku dapati dengan umpatan. Mencela kilat yang berlomba memecuti langit. “Pergi kataku!” Kuteriakkan dengan lantang. Menahan berang dan siap untuk kumuntahkan. Tetapi semua terlambat sudah karena sore itu tak menyisakan secuil harapan apapun.




30 Maret 2009 jam 22:33 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: