sebuah dialog kenangan

Jika boleh aku bertanya satu pertanyaan saja, tidak lebih tidak kurang, kuharap kau tidak keberatan akan permintaanku ini. Santai saja, jangan tegang seperti itu karena ini hanya sebuah pertanyaan sederhana, tetapi jawaban setelah ini mungkin akan sangat begitu istimewa untukku dan aku telah mempersiapkan diriku, bahkan hatiku menerima setiap kata-kata yang nantinya terlontar dari mulutmu yang merupakan sumber kesyaduhan berbagai macam melodi. Semoga apapun nanti yang terucap merupakan suruhan hatimu yang benar-benar tulus tanpa ada rasa iba, kendati kau telah menatapku yang sejak tadi terguyur oleh hujan. Bersiaplah untuk detik-detik ini. Bersiaplah untuk segala perubahan yang akan terjadi setelah ini. 

Lalu jantung ini mulai berdentam keras seperti irama trance music, saat mengiringi hitungan mundur pergantian tahun kemudian kusentuh jemarimu dengan untaian kata maaf terlebih dahulu. Kutatap redup matamu dengan sangat dalam, “maukah kau menikah denganku?”. Lalu kau tersenyum, dan matamu berbinar memantulkan cahaya rembulan yang sejak tadi menjadi saksi keberanianku. Kemudian angin bersemilir, menusuk-nusuk tubuhku yang mulai mengigil. Anehnya kau masih terdiam, lalu memelukku dengan sangat erat tanpa memperdulikan tubuhku yang kuyup, tanpa memperdulikan orang-orang disekeliling kita, yang mengatakan kita gila. Dan kau pun berkata dalam pelukanku, “jika aku memiliki dosa besar pada masa laluku, bahkan tidak bisa memberimu keturunan sekalipun, apakah kau akan tetap berniat demikian ?”. 


Sesaat setelah ucapan itu berkumandang kau menangis dalam pelukanku tepat di guyuran hujan yang semakin deras. Kucoba tenangkan dirimu dengan mempererat pelukanku,“mengapa kau bertanya demikian?, jika kau mati esokpun, aku akan tetap berniat demikian, karena aku mencintaimu bukan karena kelebihanmu melainkan karena aku menerima segala bentuk kekuranganmu, untuk itu menikahlah denganku sayangku! sempurnakanlah hidupku!”. 

Setelah mendengarnya kau lepaskan pelukanku dan kau tatap dalam-dalam mataku. Sepertinya aku tau arti semua ini lalu segenap penghuni hati mulai bersiap-siap bereuphoria, seakan-akan dugaanku yang masih prematur ini benar adanya. 

Tepat 5 menit kemudian tepat di mana bibir merahmu mulai merangkak berwarna kebiruan. Perlahan lirih suaramu terdengar sangat begitu pelan,“terima kasih sayangku, jika benar adanya, aku mau menikah denganmu, sungguh aku mau, dan terima kasih untuk semua penghargaan ini”. 

Kemudian hujan berhenti, berganti kemarau, kemarau berganti hujan. Malam berubah menjadi siang, siang berubah menjadi malam. Seiring bunga-bunga tumbuh dan merekah, lalu berguguran kembali. Entah sudah berapa butiran detik yang terinjak, menandakan langkah perjalanan kita. Yang jelas kini dunia menyaksikan kita, kau dan aku berbahagia, sampai di kala usia senja. Sampai di saat itu hanya menjadi sebuah dialog kenangan antara kau dan aku.




11 Mei 2009 jam 18:11 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: