percakapan diriku dengan hatiku sendiri

Malam merangkak naik menuju puncak kesempurnaan. Diiringi keheningan nyanyian-nyanyian syahdu. Berkumandang menghibur hati yang sedang galau. Dan aku berbicara dengan hatiku sendiri.

“Wahai hatiku, ternyata aku masih sanggup memikirkannya, masih sanggup melukiskan setiap lekuk senyum manisnya, masih sanggup menghafal setiap kalimat rayuannya, dan masih dapat merasakan hangat kecupan bibirnya. Bukankah seharusnya dia telah meninggalkan hatiku, yang seperti dia lakukan di hari kemarin? Lalu mengapa dia masih berada di sini? Masih bersemayam di dasar palung hati yang terdalam?”


Lalu hatiku menjawab setiap perkataanku tadi. Sepertinya hatiku berlaku seperti sosok seseorang yang bijaksana. Berada di sisiku, berusaha berdialog denganku. Lalu kemudian hatiku berkata,

“Mengapa kau merasa terbebani dengan kegalauan ini? Apakah kau malu mengakui, bahwa kau benar-benar mencintainya? Sudahlah terima saja, nikmati setiap benih-benih kegalauan ini. Mungkin dengan adanya ini, dirinya di sana telah menyadari bahwa kau adalah sosok yang terbaik baginya. Dan aku yakin, dirinya di sana juga merasakan hal yang sama Sama-sama memiliki benih-benih kegalauan. Karena menurutku, perasaan kalian itu menyatu. Walau secara nyata kalian telah berpisah, namun perasaan kalian berdua takkan pernah terpisahkan. Sudahlah percayailah setiap ucapanku ini. Karena aku sangat tau apa arti kegalauan ini. Dan saranku, bergegaslah kau mensucikan diri dengan wudhumu. Lekas duduklah yang khusyuk pada sajadahmu. Kemudian mulailah berdoa untuknya, untuk seseorang yang kau pikirkan itu. Hadiahilah ia dengan doa-doa keindahan, agar kalian dapat lekas disematkan kembali. Sebuah mutiara kebahagian yang telah lama kalian sangat rindukan. Namun jika Tuhan berkehendak lain, ikhlaskanlah semua ketentuan-Nya. Dan anggaplah kegalauanmu ini, merupakan sapaan dirinya saja, yang dilakukannya secara bathin.”



11 Juni 2009 jam 13:08 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: