penerus kisah siti nurbaya

Hari itu sebenarnya suasana hatiku tak menentu, dan aku gamang akan semua langkah yang ku ambil. Kendati janji suci sudah sejak pagi tadi berkumandang. Kendati banyak orang menyanjungku dengan kata-kata termuliakan. Namun aku tetap meragu, dan termenung aku dalam kemeriahan pesta ini. Alunan musik berjalan lambat menyayat-nyayat hati. Memapah senyumku yang menurut kalian tulus, padahal sebaliknya. Seandainya kalian bisa sedikit peka, arti senyumku itu tak melukiskan sedikitpun kebahagiaanku.


Sepenuh jiwa ini bertanya, 
“Dosakah aku untuk semua kebohonganku ini?.”

Membiarkan orang asing memasuki pelataran taman hatiku. Memetik bunga-bunga terindah, memanen buah-buah yang mulai matang, dan menebang pohon-pohon lalu diambil kayu serta rantingnya olehmu. Yang sebenarnya kau tak berhak atas semuanya, karena kau bukan kekasih hatiku.


Sebenarnya bunga-bunga ini sengaja ku tanam, dan akan kupetik sebagai penghias kamarku saat penyerahan diriku kepadanya nanti. Sebenarnya buah-buah ini sengaja ku tanam, dan akan ku nuai hasilnya sebagai sajian penutup makan malamnya nanti.
Sama juga dengan pohon-pohon yang ku biarkan tumbuh menjulang tinggi dan menua, akan ku serahkan kepadanya untuk disulapnya menjadi peristirahatan mungil yang sederhana.

Namun semua itu hanya harapan yang harus aku kubur dalam-dalam, karena aku tak tega melihat air mata turun mengalir bebas, dari mata seorang kaumku, mata seorang hawa yang begitu aku hormati. Yang rela berkorban menaruhkan nyawanya, yang rela memeras darahnya, yang di kitab suci dikatakan bahwa surga berada di telapak kakinya. Hanya saja dia tak mengerti apa yang sebenarnya aku ingini dan siapa yang aku cintai sesungguhnya. Dia dengan lantang menolaknya tanpa berpikir dari sisi aku.


Lalu kemudian suasana berganti dari ramai menjadi lengang, dari terang menjadi temaram. Tangan dan kakiku mulai mati rasa setelah sekian lama menjadi arca bodoh yang terbingkai bersama cahaya perak. Dan sesaat lagi aku akan memulai episode kebodohanku. Episode yang lebih tepatnya aku katakan sebagai episode pelacuran. Karena aku hanya menyerahkan tubuhku tidak hatiku. Karena sampai ajal menjemputpun, hatiku telah termiliki olehnya. Termiliki dan termenangkan oleh seseorang ksatria di sana. Seseorang yang mau membunuh naga egoisnya untuk aku. Seseorang yang rela meminjamkan air matanya ketika aku bersedih sedemikian rupa. Seseorang yang kini aku benar-benar ingin mendengar sentuhan maaf darinya.

"Maafkan aku kekasihku karena aku belum bisa mewujudkan semua asa suci kita. Maafkan aku kekasihku. karena aku belum bisa menjadi pendampingmu yang kau kecup di pagi dan malammu. 
Maafkan aku kekasihku, karena aku belum bisa melahirkan anak-anak lucu kita. Maafkan aku kekasihku karena aku dilahirkan sebagai penerus kisah siti nurbaya."  Ucapmu kala itu.




29 April 2009 jam 23:20 WIB
andri edisi terbatas on facebook

3 komentar:

Noveni As'ad mengatakan...

Andri... keren, sekali lagi gw larut didalamnya... tapi berharap tidak bernasib serupa si penerus siti nurbaya..he...he..

Noveni As'ad mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Andri Edisi Terbatas mengatakan...

@ noveni : hahahaha...semoga jangan sampai ven...^_^