lelaki sakit dan wanita setia (side-a)

Di sebuah ruangan yang serba berwarna putih. Terdapat dua insan yang sedang menikmati keheningannya. Sang lelaki nampak terbaring lemah di ranjangnya, ditemani seorang wanita yang sangat setia berada di sisinya. Sesering kali suara parau mereka mulai terdengar bersahutan. Mengalun syahdu, menyanyikan lagu-lagu kerinduan. Terkadang pula percakapan ringan yang terbalut pengharapan. Selalu bergema di hari-hari mereka kala itu. Sang lelaki bertanya:
Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu, adakah beberapa bait kata-katamu yang akan kau utarakan disini? Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkanmu bersama malaikat itu, menuju tempat peristirahatanku.

Lalu sang wanita menjawab dengan senyum yang dikuatkan:
Tolong jangan katakan itu sayang, sungguh diriku tak mau mendengarnya lagi. Percayalah, kau akan sembuh, kau akan sembuh sayangku dan sepertinya tak ada bait kata-kata terakhir yang pantas aku utarakan sekarang, karena aku tau, bahwa dirimu akan sembuh!

Sang lelaki berkata kembali, mencoba menyadarkan sang wanita:

Lihatlah aku sayangku, lihatlah!. Aku tak mungkin sembuh dan sepertinya ini adalah percakapan terakhir kita, karena aku tak cukup kuat untuk menahan jutaan rasa sakit ini, rasa sakit yang terasa amat sangat ku rasakan, mulai dari otakku sampai ke sum-sum tulangku.

Lalu jemari sang wanita mulai merangkak menuju tangan sang lelaki. Berusaha meraih ketenangan sang lelaki, dan berkata:
Sayangku ternyata kau mulai lupa yah? Bukankah semua ucapanmu tadi pernah kau ucapkan kepadaku 2 tahun yang lalu? Bahkan sebelum kau mampu mengatakan itu, keadaanmu lebih parah dari sekarang, walau hanya untuk mengenaliku saja, waktu itu kau tak mampu. Namun sekarang lihatlah dirimu! Telah mampu mengenaliku. Mampu bercakap-cakap denganku, bahkan setiap malam sering kali kita habiskan dengan membahas puisi-puisimu terdahulu. 

Sang lelaki memotong ucapan sang wanita:
Apakah benar yang kau ucapkan itu?

Kemudian sang wanita mengganguk, lalu tersenyum sembari mengeluarkan suara merdunya:
Benar sayangku, yang aku ucapkan itu benar adanya dan sekarang kau berjanji kepadaku yah! Jangan kau tanyakan lagi kepadaku, apa kata-kata terakhirku untukmu, karena aku masih belum siap hidup tanpamu. Aku belum siap menjalani hidup hanya dengan mengenangmu saja dan sepertinya hari mulai larut sayangku, lebih baik kau istirahat dulu! Semoga esok pagi keadaanmu dapat lebih baik lagi dari sekarang.

Lalu seusai mendengarnya sang lelaki berkata:
Terima kasih sayangku atas semua kebaikan dan ketulusanmu kepadaku, entah bagaimana nanti aku akan mampu membalas semuanya. Oh…Tuhan terima kasih atas anugerah yang terindah ini. Semoga suatu hari nanti, setelah aku sembuh, aku dapat melakukan apa yang telah dirinya lakukan untuk aku.

Dengan tatapannya yang berkaca-kaca, sang wanita membalas:
Tak usah kau berterima kasih seperti itu sayangku, itu semua sudah merupakan kewajibanku, dan aku pun ikhlas melakukannya untukmu dan menurutku kelak kau akan mampu berbuat seperti itu, dan menurutku kau bisa melebihiku, bahkan mampu melebihi dari perbuatanku sekarang kepadamu.

Kemudian dengan penuh keharuan, Sang lelaki akhirnya mampu menyalakan kembali pelita yang mulai redup di hatinya. Berusaha mengobarkannya untuk seseorang yang selalu setia di sisinya. Lalu seiring malam yang semakin larut, serta udara dingin yang mulai merambat naik. Merasuki tubuh yang menyelinap dari balik selimut. Kedua insan ini membenamkan percakapannya.

Bersambung.



18 Juni 2009 jam 8:30 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: