lelaki sakit dan wanita setia (side-b)

Pukul 04:35 WIB, saat langit hitam kelam tersamarkan oleh suara adzan shubuh. Yang menyadarkan sang lelaki dari biusan sang lelap. Untuk segera bergegas mencukupkan buah tidurnya. Dalam pandangan yang masih sangat terbatas, Sang lelaki mendapati sang wanitanya masih menikmati istirahatnya dengan begitu nikmatnya. Seakan-akan seperti menikmati hidangan yang sangat lezat, tersaji pada meja perjamuan yang sangat panjang. Yang di sekelilinginya dipenuhi beraneka ragam macam makanan. Nampak sesering kali terdengar suara mengecap dari mulut sang wanita. 

Dan itu yang membuat sang lelaki tersenyum, dan berkata dalam hati:

Oh…Tuhan betapa mempesonanya ia, bahkan saat bertingkah konyol dikala tidur pun ia masih nampak begitu mempesona. Sepertinya dengan memandanginya saja aku tak perlu repot-repot bersusah payah untuk keluar dari kamarku, mencari pemandangan terindah di luar sana, bahkan keindahan pelangi seusai hujan, sinar mentari yang dipeluk oleh senja, serta gugusan bintang-bintang yang tumbuh subur di sekeliling purnama atau sabit pun tak mampu menandingi keindahan pesona wajahnya dan dirinya nampak begitu sangat sempurna di mataku.

Sembari berkata di dalam hati, mata sang lelaki tiada hentinya memandangi setiap inchi lekuk keindahan wajah dari sang wanita. Seakan-akan ia baru saja bertemu dengan wanita tersebut, dan langsung jatuh hati kepadanya.


Sang lelaki kembali berkata di dalam hati:Oh…Tuhanku, jagalah ia beserta cintanya kepadaku. Jadikanlah cintanya selayak matahari yang selalu setia kepada semesta. Jadikanlah cintanya selayak pasir di pantai yang tak pernah habis walau dihanyutkan oleh ombak kecil dan besar sekalipun. Jadikanlah cintanya selayak oksigen yang tak pernah habis walau manusia, hewan dan tumbuhan berebut menghirupnya di malam hari. Oh…Tuhanku, perkenanlah permintaanku.

Seusai memuji sang wanita di dalam hati. Sang lelaki lalu mempersiapkan diri, bersiap menerbangkan hati menuju diri-Nya. Dan segera melaksanakan rutinitas kerohaniannya. Dengan sangat khusyuk, mulutnya nampak berkomat kamit. Berusaha melakukan kesempurnaan didalam melafadzkan ayat-ayat-Nya. Nampak pula, hati yang bersusah payah menggantikan peran anggota tubuh yang lain.


Kemudian tanpa memakan waktu lama, Sang lelaki kini berada di pusara klimaks ibadahnya. Untuk kali ini mata sang lelaki terpejam. Lalu ia pun berdoa di dalam hatinya:
Oh…Tuhanku. Aku menghadap lagi dan berharap lagi.  Jika Kau ijinkan, aku ingin mengulanginya semua permintaanku tadi. Oh…Tuhanku. Jagalah ia beserta cintanya kepadaku. Jadikanlah cintanya selayak matahari yang selalu setia kepada semesta. Jadikanlah cintanya selayak pasir di pantai yang tak pernah habis walau dihanyutkan oleh ombak kecil dan besar sekalipun. Jadikanlah cintanya selayak oksigen yang tak pernah habis walau manusia, hewan dan tumbuhan berebut menghirupnya di malam hari. Oh…Tuhanku, perkenanlah permintaanku. 

Begitulah yang dilakukan oleh sang lelaki di hari-hari berikutnyaKembali berdoa untuknya, tiada henti memuji pesonanya, dan menyalakan kembali pelita hati yang pernah redup dan kesemuanya itu dilakukannya. Hanya untuk sang wanita pemberian Tuhan, yang selalu setia berada di sisinya.

Sekian



22 Juni 2009 jam 8:39 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: