lalu


Getaran ini terasa kembali berpacu cepat memompa hingga ke ujung sesak. Menyamarkan dirimu yang hadir di kala rindu. Lalu apakah kau bagian dari kerinduan ini? Jawabnya masih menggantung di langit, masih tertawan di kerangkeng besar awan kelabu, menunggu dibebaskannya oleh sang semilir. Lalu mengapa hujan tak jua datang? Membasuh taman hati yang mulai kerontang. Membasuh lantai altar suci persembahan cintaku dan semua ini ku bangun untukmu, untuk kau yang ternobatkan itu. Lalu di manakah senyum dan canda bersemayam? Jujur aku ingin membangunkannya kembali agar kau mampu menyeka linangan ini, yang sejak kemarin mulai nampak. Ratakanlah sayangku ke sekeliling permukaan wajahku, ratakanlah menjadi damai. Lalu masih pantaskah aku berharap demikian? Jika Pemilik semua cerita ini tak mengindahkan permintaanku dan apakah kau mampu memberontak-Nya? Ataukah aku mampu membebaskanmu dari guratan takdir yang mulai terbit di permukaan janji kehidupanku? Lalu jawabannya kembali terdengar tidak, tidak dan tidak.

Apakah ini pertanda kau bukan yang terbaik untukku? Bila memang adanya, tolonglah aku Tuhan, tumbuhkanlah sepasang sayap pada bahuku agar aku dapat terbang, pergi dari keterperukan lembah kenangan. Lalu aku tersentak dan kembali sadar untuk menjalani hidup tanpamu.



11 Mei 2009 jam 18:05 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: