imúsm

Entah mengapa untuk yang kesekian kalinya, aku merasakan ada yang aneh. Dadaku mulai sesak dan pikirkanku mulai sulit untuk kukendalikan. Berulang kali namamu mengaum-ngaum di kedua telingaku. Berulang kali visualisasi wajahmu hadir di benakku.

Apakah aku sedang merindukanmu? Jika benar adanya, selamat aku ucapkan untuk dirimu. Karena kau orang pertama, yang telah berhasil membangunkanku dari peristirahatan panjangku.
Seandainya pemilik semua perasaan ini adalah kamu. Tolong menetaplah disini, untuk waktu yang tak terhingga. Bahkan kalaupun kau mau, aku dengan sudinya mengikhlaskan hatiku ditulisi syair-syair cintamu yang kemarin tercipta.

Oh Tuhan, aku bersyukur untuk masa-masa ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya ku panjatkan kepada-Mu. Sepertinya KAU sungguh menyayangiku, hingga memberiku perasaan sebesar ini. Apa mungkin kini waktunya aku mulai mengenyam keindahan cinta kembali? Keindahan dari sebuah kerinduan yang pernah sirna. Yang kemarin terhempas seperti debu lalu diterbangkannya oleh angin. Tak ada yang tersisa, hanya menghasilkan kemarau yang begitu panjang, serta memberkati hatiku menjadi kering kerontang.

Lalu malam mulai menaiki puncak kesempurnaannya. Mulai melucuti pemikiran-pemikiran para manusia. Menggantinya dengan mimpi-mimpi indah dan buruk. Namun aku masih saja gelisah tak beralasan, dan terjaga aku dibuatnya. Terjaga dari sosok dirimu yang nampak mulai semakin nyata. Yang hangat sentuhannya semakin dapat kurasakan. Membelai wajahku berulang kali, sesering mungkin. Dan di saat aku benar-benar menikmati kegelisahan ini, tiba-tiba ponselku berbunyi. Teriak-teriak ia membuyarkan sosok-sosok penampakanmu. Ku lihat dan ku cermati, satu pesan yang terukir pada layar ponselku. Dan ternyata itu adalah pesan darimu, yang berbunyi,

“Maafkan aku karena aku telah lancang merusak perjalanan lelapmu, Aku tak tau mengapa aku sangat selancang ini, yang jelas untuk kesekian kalinya aku tak dapat tidur, karena namamu dan bayang-bayang wajahmu selalu merampas malam-malamku. Jujur aku tak tau mengapa?.”

Setelah ku nikmati sebuah kejujuran darimu. Dengan cekatan jemariku mulai berlarian pada tombol di ponselku. Untuk sesaat aku binggung untuk membalasnya dengan kata-kata apa ? Lalu ku biarkan semua kejujuran hati ini, menuntunku pada kalimat di bawah ini,

“Terima kasih untuk segala kejujuranmu dan menurutku kau tak perlu meminta maaf kepadaku karena aku sendiri juga merasakan hal yang serupa, sama sepertimu, Sama-sama berulang kali, namamu dan bayang-bayang wajahmu kembali merampas malam-malamku.”

Namun ketika jawaban itu telah terkirim. Tak ada lagi kejelasan yang hinggap pada ponselku. Lalu aku berpikir, mungkin lelapmu telah terculik oleh sang malam. Yang sejak tadi membiarkan aku dan dirimu berkelana pada kegelisahan yang sama. Kegelisahan yang menurut penilaianku itu adalah kerinduan. Semoga dengan hadirnya perasaan ini, aku dapat terlahir kembali. 

Lalu kemudian ku paksakan mataku agar lekas terpejam. Agar esok pagi cepat datangnya, karena aku ingin selekasnya menemuimu. Menemui sang pemilik kegelisahanku. Menemui dan segera menikahkan kerinduan ini. Dan semoga untuk kali ini, aku tidak salah kembali. Bahwa dirimu orang yang tepat untuk aku rindukan.

So, i miss you so much.



26 Mei 2009 jam 17:42 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: