engkau di akhir maret

Hanya satu terukir dan hanya satu yang tersimpan dalam damainya hati yang selama ini aku mencarinya dan aku selalu menguntit dari celah-celah permukaan hati sosok-sosok penerus kaummu di luar sana yang terkadang tak aku gubris keberadaannya kendati mereka telah menuruni menara tertinggi yang dijaga oleh para sang naga dan semua itu ku lakukan semata-mata karena aku terlalu teguh, setia, atau bodoh. Entahlah, aku sendiri sepertinya tak paham. Yang jelas sosok bunga terakhir itu sulit sekali untuk aku angkat dari sini. Dari hatiku. Mungkin akar-akarnya telah menghujam terlalu dalam hingga sulit untuk aku cabut dan ku serahkan ke sebuah taman yang lebih patut atau mungkin aroma yang ditebarkannya terlalu sering mengusik penciumanku hingga aku kembali menghidupkan sebuah kerinduan berulang-ulang.  Namun kini sepertinya aku kalah karena kokoh kepiawaanku didalam menggalang sebuah keteguhan, kesetiaan, dan kebodohan telah ditaklukannya oleh dirinya, penggantinya, penerusnya. Lalu aku bertanya kepada hatiku sendiri, Apakah ini yang di janjikan Tuhan untuk aku? Seorang kaum hawa yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya. Jika iya, izinkanlah aku untuk segera mengenalnya dan menghalalkannya selekas mungkin karena aku begitu terpincut oleh aura kesederhanaannya dan aku tak ingin purnama malam ini terlewatkan begitu saja sebelum aku mengungkapkan apa yang menjadi inginku.

Semoga saja inginku dan inginnya  bersua pada sebuah ketetapan dari-Nya. Semoga saja apa yang pernah terngiang benar adanya, bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya.




16 Oktober 2009 jam 21:55 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: