aku bersama kegilaan

Aku tersenyum sekarang, memulai apa yang harus kukerjakan. Menatap langit yang cerah, membelaiku melalui semilirnya. Kau, Mengapa tak genggam kehampaanku?, Hayatilah setiap detik mendekatiku.

Ayolah torehkan sangat dalam, penuh kekuatan, karena aku takkan pernah takut, apalagi sampai mengumpatnya. Kendati sukar untuk aku meratakannya kembali. Lagi pula apa yang harus aku takutkan? Bukankah semua tatap untuk dilihat, semua ucap untuk didengar, dan semua getar untuk dirasakan. Mungkin salahku saja, terlalu cepat merangkum semuanya. Membuatku nampak bodoh, di akhir cerita sesaat.

Tetapi aku yakin tentang sebuah keajaiban. Bukankah setelah hujan akan datang pelangi? Dan aku yakin akan episode-episode itu. Seiring optimisme yang tumbuh subur di hatiku. Walaupun aku beserta jiwaku, menatapnya dengan teramat samar, karena kabut ini, masihlah kental.


Jiwa ini terus berdoa untuk sebuah kekokohan. Menompang terus penyangga pilar-pilar kesempurnaan menurutku. Hingga suatu masa akan datang menjemput tanpa senyuman sekalipun, aku rela dan ikhlas. Mungkin ini terasa aneh. Aku yakin takkan dimengerti oleh manusia manapun. Tapi itulah kehebatanku atau memang kegilaanku semata? Walaupun tidak sedikit air mata terurai hingga mengering. Dan ribuan luka yang dalam menganga. Tetapi aku bangga akan hal itu. Karena aku telah memerdekaan hatiku di dalam memilih. Tidak sepertimu, yang menyerah terhadap nasib. Sampai menutup mata, menunggu jawaban yang terbawa oleh angin.





08 April 2009 jam 21:51 WIB
andri edisi terbatas on facebook

0 komentar: