kembang api



Aku melesat tersulut pemantik
Berdentum...
Hingar bingar seantero langit

Aku terbang 


Pecah...
Cerai berai menghias temaram

Bila aku lakon utama pesta malam ini
Mana senyum dan tepuk tangan kalian?

abu-abu



Menepi sejenak
Meraba siluet sisa mimpi dengan pandang hinggap jauh
Jauh...
Menjejak sampai ke langit teduh abu-abu
Tertegun...
Membiarkan embun merajai permukaan mata
Basah...
Basah...
Semakin menjadi




"Pujaanku..., hari ini aku melihat langit dengan warna yang sama. abu-abu. warna tubuhmu yang kucinta, tiada tara..."

Lirih suara bagonk, pilu mengenaskan.


untuk ibu

Malam ini aku ingin berbisik semesra mungkin. Semesra hembusan kipas angin renta, yang sedang menyibak lembut riak rambutku. Lembut, macam jemarinya dahulu ketika menyemai kata-kata "sayang dan bangga" terhadapku. Tepat di atas ubun-ubunku.

"Bu, selamat hari ibu. Andri rindu ibu, cinta ibu. Selamanya."

Bisikku pun meleleh di kedalaman isak. Melamurkan pandangan di hadapan lembar fotonya. Luruh, tersedu sedan.

bagong majnun

Semalam mata bagong menjelma kekelawar
Mengaduk-ngaduk langit
Memburu butiran sempoa pada wujud sempurna rembulan 


"Pesolek, kapan kamu pulang?" 
Sayup bibir bagong melarungkan resah
Sesaat menyibak tirai, menyontreng purnama ketiga

Mengulur tangan, selamatkan kekasihnya dari ingkar

Meski almanak berbisik, "Ia tak akan pulang."
Bagong tak bergeming, gila pada penantian
Sampai tertidur bersua benderang


aku jatuh namun takut ketahuan

Aku mudah jatuh terlebih padamu
Mungkin sebentar akan sama seperti mereka
Terhuyung tersungkur mabuk sebelum arak berhasil terteguk

Dan selepas ini hari semua berkejadian

Aku jatuh, jatuh hati sesaat mataku matamu duduk satu bangku dalam ruang temaram raya
Diam, lalu kikuk menggeliat mengkudeta paras
Sejenak berganti rona, merah muda melanda
Dan cinta, tetap tertahan jongkok takut ketahuan




eh


panggil aku seterusnya
"eh" 

jangan dilebihkan, 
apalagi dikurangkan 

cukup 
"eh" 
saja 

dengan begitu, 
kedekatan ini jelas kadarnya  

*terkadang, lebih baik menjadi makhluk asing dari pada dikenal menjadi makhluk yang terasing

misteri aroma asam tak lazim

Buyar sudah waktu bersantai setengah hariku, ketika selasa sore kemarin aroma asam tak lazim merambat naik lorong penciumanku. Melongok langsung, merajai tanpa sungkan. Meski telah lunas berucap salam terlebih dahulu, namun menurutku tetap saja tak elok. Sungguh.

"Sepertinya berasal dari sini?" terkaku sembari mengembang-kempiskan cuping hidung, macam Sherlock Holmes mencari petunjuk pecahkan sebuah kasus.


Kala itu tiada sudut ruangan yang tak luput dari dugaanku untuk dijadikan tersangka. Satu per satu ku interogasi dengan cara menodongkan moncong hidungku, berharap ada yang mengacung, unjuk gigi mengakui dengan gagah "Hei, Andri, di sini aku berada."

Namun nihil, perburuan tetap tiada hasil. Aroma itu tetap pongah, nangkring tak ditemukan. Sampai-sampai mesti melepas senjata andalan terakhir, kamper. Berserak sembarang di sudut-sudut ruangan. Untuk saat ini, hanya itu senjata andalanku yang kupunya.


Menit pun berlalu, melompat genit sebanyak 30 kali, dan memaksa pencarian untuk sejenak diistirahatkan. Sementara, ya, hanya sementara.

Lalu

"Bremmm... bremmm..."
 Suara Revo kebanggaan kakakku mengaum, merapat menuju beranda rumah.


"Krrreeekkk...Beg...Beg...Beg..." Suara panjang pintu terbuka, diikuti derap tambun langkah kaki kakakku.

Tiba-tiba,
"ANDRIIIIII.......TUMPUKAN BAJU GW DIBERAKIN BININYA BAGONK NIH." teriak kakakku menggemparkan, sesaat memasuki kamarnya dan mendapati bingkisan paling ikhlas dari seekor makhluk bersuara manja. "Meooonnng..."

Tercengang. Selebihnya, muntah-muntah.


kala ederra memanggilku pangeran

“Ederra.”

Pernah terdengar ringkas angin bersenandung merdu akan namanya. Teruntai manja pada pucuk dedaunan dan gemulai ilalang, kala bermandikan cahaya emas di pancuran senja. Menawan, sangat menawan.

Hari ini kejahilanku menggeliat kembali, berulah lagi. Sepertinya tak jera dengan pasca efek getir yang selalu mengekor. Hari ini untuk yang kesekian kalinya, aku berusaha membangkitkannya. Menarik selimut dari peristirahatan terempuk. Meringkuk serupa lengkibang di rahim kotak surat mutakhir tempaan gmail. Pelan-pelan, sedikit hati-hati, hingga tersibak tabir pengunci sementara.

“It's me skrng ga becanda lg,” sapaan hangatnya terhias pada senyum sari tebu yang selalu tersaji ketika mataku berkunjung. Selalu.

Seperti berdiri menghadap lorong waktu, sorot matanya seperti magnet. Mahir benar membujuk diriku untuk melepas simpul kesadaran, bergegas bertamasya ke tempat tujuan yang di maksud. Tetap sama, tempat tujuan itu bernama “lampau.”.

Sketsa demi sketsa satu persatu mulai nampak tersingkap, berjajar elok, absen menjalar masuk ke dalam tempurung kepalaku. Hingga terhenti pada sebuah sketsa berwarna ungu, warna kesukaannya di sketsa kesukaanku.

Pada sketsa itu, aku teringat kala berdialog beradu peran dengannya. Selayak tokoh di dunia dongeng pada umumnya, aku tersemat dengan sebutan “pangeran” dan dirinya teruntai dengan panggilan “putri”. Terdengar lucu nan menggelitik, bukan? Bergidik macam lubang telinga dikunjungi sehelai bulu ayam. Berkesan manis, tak sekedar manis sari tebu yang terecap. Sulit untuk didefinisikan oleh lidah logika para khalayak. Sampai berujung efek ganjil. Senyum-senyum sendiri, gila sehari penuh, hanya di hari itu.

Tiba-tiba,

SYYYAAAAPPPP

Layar monitor mendadak berubah hitam, bersamaan dengan redupnya benderang, melenggang mesra bersama perginya udara dingin pada ruang tempat kerjaku. Seperti mengisyaratkan signal misteri kepadaku, sejenak memarkir lamunan hanya sampai di situ. Ya, hanya sampai di situ. Memarkir satu liang bersama aliran lisrik yang sedang mati suri.

Ingatku seusai sadar. Itulah sketsa paling manis bagiku, sekaligus sketsa paling bungsu tentang kita.

“Hmm, pangeran.” Sebentar ku kenang lagi akan seruan itu. Sekali lagi sambil menatap nanar ke arah layar monitor yang masih loyal dengan hitamnya, sebelum ku beranjak meninggalkannya.

Mengingat panggilan itu, seolah-olah ragaku ringan melebihi kapas, bahkan lebih ringan lagi. Mendadak terhempas meninggalkan bumi. Enggan berpijak, tinggi, hampir mencoret-mencoret langit.


longing

hujan tinggal segelintir 
melepas mega nan kelabu 
melampaui senja menuju pendar rembulan 
pada malam usia muda 

di langit, mataku kian berpencar 
meraba, mengeja, temukan kompas pada lautan lintang sekenanya 
mencari tahu di mana letak pelukan terhangat 
sendari bersemayam

aku rindu kamu sayang 
rindu sekali 
tapi tak tahu ke mana aku mesti pulang

menujumu


menujumu 

kirai

Meremas ingatan dapat secangkir kuteguk sayang-sayang, kala sore itu menunggu reda hujan kuda besi di jalan istri ternama presiden RI pertama. Menunggu reda, sampai bertambah bengkok tulang ekorku.

Rekah senyum sedari secuil hingga melebar hadir selalu tanpa diminta, saat kulempar pandang ke luar kaca. Loncat sejenak, mencuri rentetan aksara yang senantiasa anggun bersandar pada lempeng hijau, kokoh ditopang besi sewindu, diserbu jerawat karat pada tubuhnya. Berdiri paling egois pada sisi kiri rahang gapura renta, yang setiap hari melahap habis cemooh terik bahkan rintik.

"Kirai," gumamku dalam hati.

Membacanya seraya menyusun kembali potongan puzzle lawas yang terserak ditumpahkan masa, menjadi sebentuk romance yang lambat laun terangkai menghias lamunan. Paling manis, paling madu. Madu yang paling manis.


Hening sendiri, terhanyut memori, khidmat yang sangat cantik.

Tiba-tiba.


"Ongkosnya,  Bang, ongkosnya." Suara berat lelaki seberang pulau Sumatera, bergemuruh dengan buntut gemerincing koin logam, beradu bertumpuk pada telapak kekar tangannya. Hadir tepat di hadapan parasku kurang dari setengah jengkal, menagih tarif, memporak-porandakan seantero lamunan maduku, meluluh-lantak, sirna seketika macam pesulap berucap, "Abrakadabra."

"Nih,  Bang." sembari kugelontorkan tiga lembar uang berlambang Patimura dengan parang terhunus tajam, mengancam menyeramkan dari dalam saku celanaku. Lelaki itu lantas berlalu meninggalkanku jauh-jauh, kembali menelusup menagih tarif ke sesama pengguna jasa kuda besi ini yang lain. Tentu saja dengan suara berat dan buntut gemerincing koin logam yang merupakan trademark-nya.

Dan untuk sekali lagi, aku pun nakal tuk sejenak. Menoleh kembali, mencuri pandang ke arah mahkota jalan kecil yang sangat beruntung itu. Beruntung karena pernah di anugerahkan untuk menimbul-tenggelamkan sang penakluk hati selama hampir tiga musim, dengan berbagai ragam pernak-pernik magis cintanya.

"Kirai," gumamku kembali.

Nampak mulai nanar, kini tak mampu teringkus oleh mata. Saat jarak pandang mulai mengendur, menjauh melamur, luruh terbenam.



menemui hening

Aku pulang
Menemui hening
Istri tuaku yang ku tinggalkan

Di malam uzur
Di puncak temaram yang jalannya makin berkelok

Diam sejenak
Perangi suara
Bisu sebisu-bisunya...

Kecuali hati
Diperkenankan mendengkur manja
Komat-kamit, ucap mantera bukan sembarang

Lepas raga...

Lepas raga...

Sampai di mana aku mengarun
g kisah semalam
Memanggilmu dengan panggilan "yank"
Paling hangat, pada telinga bagian kanan

Mimpi ini sebanding madu
Kurasa khalayak tak akan punya

Sungguh tak akan punya

cerita kemarin malam

Di lambung kamar, terkecup aku oleh tembang-tembang lawas yang terperangkap cakram mp3 bajakan. Angguk-angguk, goyang kaki, memanen khayalan, sampai berujung malas menyentuh air ini malam.

Stella, cukup setia engkau memanjakan lubang hidungku. Cukup setia dengan aroma kesukaanku. Apel hijau, ya, apel hijau, berulang kali, senantiasa. Lalu apa kerjamu duhai pemutar angin nan renta? Mematung bak berhala tak sedap pandang. Menatapku ibarat makhluk asing rekaan sineas eropa.

Ini aku, jika kau lupa maka kuperkenalkan kembali.


Aku sang bayi besar, majikan ragil yang saban malam ternina bobokan olehmu, yang saban malam terhibur tarian mahsyur kepalamu. Ingatkah kau sekarang?

Bila ingat, melenggoklah! Kanan kiri seperti biasa. Racik ramuan harmoni penghibur hati, bersama tembang lawas serta aroma stella nan semerbak. Disatukan, guna menangkal sihir sang penyamun elok yang mulai menderu, bergemuruh, menyerang dengan bala tentara terdahsyat. Menyeruak liar dari dalam peti usang, di liang gudang yang tak terkunci zaman.

Pintaku, hanya tak ingin nelangsa tiap usai datangnya.

"Itu saja, itu saja Tuhan."

Lalu aku pun tertidur, terlelap, terbuai, sampai malam menanggalkan detik per detiknya, menuju pelukan haru lembayung sang fajar. Mengelontorkan gerbong-gerbong kesadaran, merapat menuju stasiun jasadku sampai lengkap nyawa selusin.

Aku pun terbangun, semingrah kala mencetak raut wajah di paras cermin. Senyum ini, serasa madu di ujung lidah, nektar bagi para serangga. Langka bak flos florum atau holy grail yang tercetak pada legenda. Patut bahkan sangat untuk disyukuri, aku serta hatiku.

"Ternyata, aku sudah boleh buka perban, kawan."


pencuri wajah

Kamu mencuri wajahnya dari punggung kekasihnya. Diam-diam, tanpa sedikit pun matanya, berhasil menyergap matamu. Tiga kali sorot tak pernah puas, esok terulang, tak pernah lulus, tak pernah lunas. Sampai-sampai rupa wajahnya enggan bias, lekat di setiap pandanganmu terjatuh. Di dinding kamar, langit-langit, lantai kamar mandi, piring makan, cangkir kopi, sendok garpu, buku jurnal, muka meja, jendela bis kota, sampai di semua tempat, di semua benda, sembarang saja, tak terhingga.

Bila ini malam serupa tikar, pasti ringkas kamu gulung serta rapikan. Bahkan mungkin separuh rembulan yang tinggal kenangan itu tewas juga, tercelup ke dalam es teh manis yang nasibnya kian menit kian memburuk. Lalu setelahnya, dengan sigap pandanganmu akan bergegas melompati pagar. Menuju wajahnya, mencuri kembali dari balik punggung kekasihnya. Senantiasa pada hari esok, yang masih tergolek di lembar almanak berentet, menunggu tersobek."Kapan kamu berhenti mencuri wajahnya kawan? Mengapa tak ubah haluan tuk mencuri hatinya saja?" Lontar tanyaku kala itu."Entahlah." tukasmu sembari melafadzkan kata abadi pada setiap tanya, pada setiap rambu kerut, tanda orang heran mendarat di dahi ketika berpapas muka dengan kelakuannya. Seterusnya, selalu begitu, hingga benar sampai kini.


tentang hasta ria



Pertemuan kita lewat angin, masih ingat, kan? Bila tak salah, kala itu senja sedang ranum-ranumnya, genit dengan blush on keemasan di pipinya. Aku yang masih setia menekuri lantai, sontak keheranan menyaksikan para alfabet yang bermunculan pada layar ponsel. Laksana ratusan bunga english roses yang merekah berulang kali setiap tahun, tak pandang musim, dengan wewangian aroma santun yang tiada tara. Bahkan santun abdi dalem keraton sekalipun, mampu dikangkanginya tanpa terkecuali.

Rentetan anak peluru entah sudah berapa kali termuntahkan dari moncong senapan rasa penasaran kala itu. Hingga satu persatu pion-pion rahasia terlemah, dapat dengan mudahnya melambaikan bendera putih. Ternyata kita lahir di bulan yang sama, tepat di bulan ketiga. Kendati beda satu tahun, rasi bintang, genre musik, film, dan hal remeh temeh lainnya, sepertinya aku mulai terjajah olehnya. Terjajah oleh rasa nyaman, buntut dari perkenalan kita kala itu.

Setelah hari itu bila ada kesempatan, entah itu secuil atau melimpah ruah. Saban pagi, siang, sore, maupun malam, bila tak sempat berkicau murai. Sudah pasti kita akan saling menebar jentik aksara. Kendati sekedar hanya menyapa ; “selamat beraktifitas atau hati-hati di jalan”, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan efek kejutnya mampu meruntuhkan puncak himalaya rasa penat setelah seharian bergumul dengan lembar-lembar duniawi yang dalam kesehariannya terbiasa tergolek manja di meja kerja masing-masing. Berjemur bak para turis pemburu matahari di pinggir pantai kuta.

Sampai pada akhirnya, tibalah aku pada kodrat harfiah sebagai manusia. Tak pernah puas dengan kedekatan yang sudah tersaji. Dan aku pun ingin menyingkap wajah misterinya, menikmati dengan detail tiap inci alur parasnya. Sampai aku benar-benar selesai memindahkan sketsa wajahnya pada tiap sudut pandanganku tertuju.

Di langit aku hafal betul sudah berapa kali purnama bercokol dengan ponggah. Meledek aku sampai pada hitungan yang ke empat. Menyebabkan penyakit penasaranku makin hari semakin bertambah kronis. Dan aku penasaran akan rupa dirinya setengah mati.

“sekiranya bila sulit tuk bersua saat ini, sudilah kirimi aku wajah dirimu barang selembar, dilipat menjadi bentuk mms atau email, mungkin akan menjadi penawar rasa penasaranku saat ini.”

Pintaku kala itu dengan suara parau merayu. Berharap bungkusan ekspresi wajah senduku mampu di visualisasikan olehnya. Kendati itu sulit, karena kita hanya berbicara dalam hitungan jarak yang tak terbilang, dan hanya suara yang mampu untuk meredam.

Ketika penantian akan penawar yang masih tersendat. Diamini olehnya namun baru sebatas niat. Akhirnya niat itu benar-benar dicetak. Ditempa menjadi signal elektronik. Lalu diterbitkannya, melalui angin yang pada hari itu, berbaris mengantri ingin masuk berebut ke dalam ponselku. Usah ditanya perasaanku kala itu. Baru membaca mukadimah pesannya saja, belum khatam benar, aku sontak kegirangan bukan kepalang. Akhirnya dirinya mengirimiku pesan bergambar.

Namun sayang sungguh disayang, maksud hati ingin ku reguk nektar secepatnya. Menjilati habis pesan bergambarnya, dengan ujung lidah mataku. Mendadak aku terserang amnesia, lupa akan cara menerap sistem pengaktifan pesan bergambar.


Sepanjang jalan tiada letih diriku memporsir otak, untuk melancong kembali ke masa lalu. Mengingat-ingat tentang cara pengaktifkan pesan bergambar. Ku tatap lekat layar ponsel, menelusurinya dari hulu setting profil mms sampai ke hilir yang termaksud. Dengan merangkak, sedikit tertatih-tatih, penuh hati-hati. Dan proses download pun mulai mengangsur sedikit demi sedikit, tanda setting mms telah berhasil ku kangkangi.

"APA INI?" Kaget diriku setengah mati dibuatnya.
Gambar seekor beruk sedang berakrobat motor Rossi the Doctor. Mutiara somplak saat kulit cangkang pesan bergambar mulai terbelah. Sungguh lelucon yang tak elok, bahkan tak layak diamini sebagai lelucon. Aku pun langsung kecewa. Penantian empat purnama henyap seketika, ketika gerhana gambar beruk tersebut mulai melebarkan rahang, mencaplok, merampok dengan paksa euforia prematurku. Dirinya menaruh sengaja gambar beruk atas nama dirinya sendiri. Benar-benar atas nama dirinya. Sengaja nian.

Sejak hari itu aku mencoba untuk menyuburkan jamur-jamur spasi, merenggangkan kedekatan yang telah terjalin. Sampai waktu membisikan ke telinganya tentang peristiwa kemarin. Sampai dirinya mengirim email seperti ini,

“it's me, skrng ga becanda lg.”

Gambar dirinya benar nyata bukan buatan. Bercokol paling akhir pada opsi unduhan.

Rambut panjang berombak, dengan warna cokelat memayungi wajah nan seputih awan. Ku lihat senyum bulan sabit terbit di sana, menghias sebuah ruang kerja tempat para akuntan memeras otak. Sungguh anggun tak terbilang, saat balutan kain entah jenis apa, berwarna kelabu membungkus kulit mulus suteranya. Dan aku tak henti-henti berdecak kagum malam itu. Sungguh tak henti-hentinya. Sampai malam tergelincir masuk parit fajar menyingsing.

Seiring waktu akhirnya musim paling ekstrim melanda belahan bumi tempatku berpijak. Pagi sampai siang masih didamprat terik, namun petang sampai malam sudah terkulai oleh hipnotis derai hujan. Sungguh labil musim kali ini, serba timbul tenggelam, sulit diterka seperti dirinya sekarang. Jika kemarin dulu paling rajin mencubit lewat para aksara terpilih. Sekarang paling sering khusyuk menghilang tertelan senyap. Seingatku telah sampai pada hitungan empat periode terbilang.

Terlintas pertanyaanku, apakah ada yang salah dengan pengakuanku tempo hari? Pengakuan saat aku mengurai maksud hati, bahwa kamu adalah sosok selanjutnya yang terletak di ujung telunjuk hati saat ku menjentik. Sosok yang ku perkenankan untuk merapihkan ruang hati yang serba berantakan, berdebu selama kurun waktu lebih dari tiga tahun. Dan dirinya pun ku perkenankan untuk menghuninya.

Akhir yang belum menjadi akhir. Masih mudah titik untuk disemai gores, terlafadz menjadi koma bila dirinya berkehendak. Atau jika tidak, cukuplah aku menarik kesimpulan sepihak. Bahwa tentang hasta ria biarlah tergolek indah dalam tidur indah pencariannya. Tak perlu aku menyusahkan, karena dirinya tercipta bukan untuk tersusahkan olehku.

Terima kasih kepada Sang Maha Tinggi karena telah memperkenalkannya kepadaku.


kupakai lagi kata itu

Pada wihaya jemari malaikat usil menyentil
Muram masam, kantung tangis mulai berarak
Sekali sentuh kau pun dapati putik merintik
Ngambruk, rebah dari rahim ambuda

Di dalam kamar di balik jendela
Tatapmu lekat khusyuk teropong ujung jalan
Nelis nastiti, seluruh bayang hingga copot kutang

"Kamu, kapan pulang ?"

Cemasmu sebelum teruh

Menantiku hingga merah telingaku
Sampai-sampai ragaku kopong
Gemplung, di sini, namun tak bertuan

Dari pijakan aku berandai mampu melancong sekarang
Sudah pasti, telingamu kukalungkan bisik aksara warada
Mengaras kening melaju hingga terpetik kelopak bibir nan ranum

"Andai, lagi-lagi andai" 

Entah sudah berapa kali kumuntahkan kata itu
Bahkan untuk urusan semudah ini kuecap andai lagi
Lalu jika begini kapan yah aku sampai padamu?



tamat

Ia datang menjangkauku perlahan
Kala jauh dari bising
Kala senyawa bersama hening

Hari itu, entah ramuan apa yang telah diteguknya
Hingga berani mencubit persembunyianku
Tanpa pagar jemari yang senantiasa disandarkan pada dinding wajah eloknya

"Aku ingin ini. ini rahasiaku. jika sempat, jelajahilah!"

Sebuah permintaanmu yang singkat nan sederhana namun terukir dalam rajah sansekerta

Seandainya otak kiri tak cerdik maka habislah aku, terkulum cahaya eksitensinya
Karena ia, bersama pelitanya sanggup melancong hingga ke dusun-dusun terpencil
Meluluhlantak jiwa-jiwa terkucil

Meniup
Menghempas
Melenggang
Tak sudi menoleh kembali

Pernah suatu ketika angin menautkan maksud hatinya
Jejakan kaki di tanah arena pertarunganku dengan seluruh panca inderaku ditukar sehari sebagai karib, aku pun meluluskannya 

Tumpah ruah semingrah

Hingga suatu ketika
Tibalah engkau bersama kisah tragis yang menerkamku
Tepat ketika pijakanmu secara diam-diam menyetubuhi tanahku

Baru aku sadar
Sesungguhnya, sukar sekali menerjemahkan intim kita

Aku tamat, benar-benar tamat

Dalam pelukan lembah pemikiranmu sendiri, aku tamat
Seperti yang lain yang menunggu untuk ditamatkan



menunggu tak kunjung

Pucat malam dengan perasaan tergadai
Oleh takjub aku tertelikung 

Suaramu benar lagi suaramu
Serupa hantu bak debur meriuh ternanti

Di ketiak karang aku pun beku merangkak abu-abu 

Menunggu tak kunjung hingga hati melenggang sembarang

Jika fajar esok sampai
Telinga mematung tak kesampaian
Memeluk bualan barang kali itu saja sudah cukup
Cukup, untuk aku menyusahkan aku


teka-teki

Sunyi senyap rapat menelungkup di senja kedua di minggu yang terapit
Tertawan di sarang pekerja kian segelintir

Gamang perasaanku tak jua tertabur di ruas jalan
Ranum pencapaian mulai melewati separuh hari

Jiwa kusontak ingin pergi ke negeri air kala tergiur senandung pianis negeri timur
Ternyata, celotehku kian tak berujung pangkal

Lamunan murka
Hipnotis murahan
Pelongsong terakhir 

Simpan itu sebagai teka-teki dan hubungi aku 
Bila kau sudah mengerti 





tentang perasaan malam semalam




Malam semalam udara sedang labil

Sebentar panas sebentar dingin
Membungkus langit ketika separuh rembulan
Nampak gontai dan hampir tergelincir


Kerlip kosong

Hujan merenung
Pikun akan cara merebah ke bumi


Kita, tentu saja masih mengarung di laut lepas

Berharap gelombang
Tepikan maksud hati pada bibir pantai serupa


Indah
Bilakah indah terhuyung kelak?

Kan kunanti bersama serentak
Seutas senyum pelangi tanpa sia-sia
Dengan sebungkus puisi yang masih hangat


Dan itu pun jika kelak



tentang rindu

Aku rindu hingga setumpuk semeru
Kepadamu, teramat sangat
Sedari rembulan muncul malu-malu
Sedari cahayanya, belum terendam rintik lalu meluntur

Kasih, andai sekat mampu kurebah
Ingin sekali berlama-lama dalam aromamu
Sungguh, aku mulai melantur
Hingga kutampar kantuk sampai berantakan, sampai keluar kamar 



aku ingin benar kepadamu

Kasih, ketika cinta baru seukuran kecambah
Aku ingin berkata sebelum habis kata-kata 


Kasih, ketika cinta terhampar subur di pagi buta
Aku ingin mendekapmu sebelum jarak beranak pinak 


Kasih, k
etika kedekatan cukup untuk di rentas
Aku ingin menyibak indah dari semesta sebelum usia mengulumku menuju pusara 

Aku ingin benar kepadamu 



lagi-lagi aku ke pantai

Lagi-lagi aku ke pantai. Lagi-lagi jemari tak terkait. Lagi-lagi dirinya enggan keluar kandang. Lagi-lagi hasratpun kembali terunduk. Lagi-lagi patuh oleh hipnotis sebuah takdir. Lagi-lagi kunikmati senja dengan cara yang serupa. Lagi-lagi benar-benar serupa .





wonogiri

Dua belas tahun lebih kutinggalkan tempat ini, lama sekali hingga tak kukenali wajah-wajah ramah serupa malaikat yang masih setia dengan rupaku. Namaku.

Ah, kalian ini seperti braile saja di hadapan si buta yang tak berjemari. Seandainya tak lahir cahaya sudah pasti wajah malu ku disantap habis oleh gulita. Malu, malu dan malu. Gemanya pun membuntutiku sampai peluk perpisahan kala kemarin.

Hmmm, terima kasih untuk kalian yang ikhlas menjadi kalam untuk ingatanku yang mulai terbatas. 

Semoga usia berkenan temani ragaku, mengecup kening kalian. 


aku tak ingin berbagi

aku tak ingin berbagi 
dengan kalian penghuni kota
keheningan seperti ini biar kuhabiskan sendiri
jika engkau mengatakan; aku rakus atau kikir
aku tak perduli, sungguh


dan sejenak 
kuingin bermetafora
menuju fana kembali tiada 

lebur luruh sampai debu tak mengenaliku

Kekasih, 

nikmat ini teramat langka
sungguh luar biasa 


indah

Indah, 
barulah sekedar kata dan suara
memikirkannya belumlah usai 
seingatku hingga jumpa tiga purnama
namun pertemuan nampak elok terpasung
enggan jinak untuk hinggap di jemariku

engkau, 

seseorang yang kumaksud
mengapa kerap mengulur waktu?
tak bergegas menceburkan diri ke dalam telaga

bukankah aku sudah lebih dulu 
berada di dalamnya tanpa busana 
yang membatasi segala hasratku 
dan aku telanjang serupa kristal

oh, jarak yang tak beralasan
benturkan pertanyaanku kembali ke mulutku
apakah ini isyarat untuk aku memutar haluan?






















secangkir kopi tanpa gula


pahit itu, 
bagian dari rasa

mengapa harus tangisi manis 

yang tak turut serta

bila yang ada hanyalah 

secangkir kopi tanpa gula
nikmati sajalah!

saya jamin pahitnya
tak sepahit
saat diri kita
tertolak 
atau ditinggalkan 


cinta




Hehehe...

Sekiranya catatan ngawur seperti inilah yang terlintas dari seorang pemula seperti saya, seusai menyeruput habis 2 cangkir black coffee dan 2 cangkir espresso tanpa gula. Dan untuk pertama kalinya bangkai sugesti yang tlah karam itu muncul ke permukaan.

...deg'deg...deg'deg...deg'deg...deg'deg...deg'deg...

Gila benar. Jantung saya berdebar-debar dan bunyinya makin lama makin menuju ke birama 4/4, mungkin setara dengan bunyi bass drum ala The Rev di lagu M.I.A.

Mudah-mudahan seusai ini tidak disuruh-Nya syuting di bangsal serba putih dengan aroma puyer nan semerbak.


Hehehe...semoga.

terjebak macet

Udara dingin yang terlalu 
Sandingkan serasi aroma daun-daun teh muda gunung mas

Sekelilingku sekejab hening, sekejab bingar
Berulang tak jemu menjelma serupa penantian berkepanjangan
Sampai-sampai bintang di langit malas bergemintang bergegas bermigrasi menuju galaksi lain

Seandainya kita tidak tinggalkan sarang bersamaan
Mungkinka
h jamur-jamur besi ini tumbuh subur di Cisarua?Halangi ruas pijakan menuju ke tempat tidurku

Dan bila sudah begini
Sekiranya, telinga siapa yang harus disentil?



tentang kemarin malam

Jam pulang sudah melintas. Tinggalkan orbitnya ke pangkuan senja yang nampak telah gugur. Mati suri untuk sementara waktu.

Ah, ingin pulang tapi segan. Takut disuruh berbaris di dalam kaleng berjalan, berembun lalu tersihir bagai jemuran ikan semalam.

Huh, ingin apa masih meraba. Bingung tersangkut penat serasa tumbuh jerawat perdana.

Ingin sirna, semoga saja dihembusan lagu bocah-bocah mississauga, ontario, canada, "Pins and Needles by Billy Talent". Boleh juga untuk diputar sekali lagi. Sebuah tembang tanpa penelusuran terdalam. Hanya sok tau terbubuhi kebanyakan olehku. Tapi mengapa penatku belum dihabiskan oleh si burung hering? Apakah kurang busuk? Atau selera makan mereka tlah menukik tajam? Jauh dari kebiasaannya.

Ah, biarlah. Paling tidak sebentar lagi riangku kembali siuman. Sementara aku disibukan, sang waktupun sudah tak lagi mengendap-ngendap. Langkahnya pun dilontarkan sejauh mungkin menuju malam yang semakin matang.



kamu ada sewaktu irama penuh meruang

Ruang ini, irama ini 
Seonggok kawan ketika halusinasi mendengkur 
Perlahan beranjak susuri selimut yang masih berantakan

Hmmm, andai saja tak lahir temaram

Mungkin diriku akan menertawaiku sendirian 

Mungkin saja, kenapa tidak?

Ah, makin
mengabur saja
Jalan pulang bukankah telah di saku kemeja masing-masing? 

Mengapa juga harus bergumul dengan badai topan 
Sedangkan sisiran rambutku mulai tertata sesuai lajunya 

Hei, inikan inginku dan sungguh kesenangan masih dapat mencumbu tanpa diketahui kamu




me vs mosquito

Jemari memburu susuri malam renta
Sekelebat hinggap bernaung di sembarang tempat

Pembunuh, sahut kalian bertaluh
Riuh mereda akan sebuah pesta di tubuhku

Sial, lukisan abstrak ini mengapa hanya satu warna?
Merah tua, tak asing bagiku


lagu melagu dirimu

Perampok malam mulai bertandang
Kuasai hingga langit membiru

Samar-samar pelantun idola hinggap merayu 
Tanggalkan letih di bahu harmoni
Sekadar membaur sekadarnya
Kendati jiwa tak jua paham arti

"Hmmm, lagu itu" Gumamku
Embun abadi dari setiap jejak
Petaka bagi jiwa ketika merinci secara detail
Dan kamu, dirimu
Sosok yang terlintas sesudahnya




19 Mei 2010 jam 20:22 WIB
andri edisi terbatas on facebook

tikam dia!

Kau meminta untuk yang sekedar 
Meracik asa, menyingkir dari cekik dahaga
Langkah itu ringan namun tak beranjak
Seakan tanah tak mengizinkan
Menyumpahi, jika hasrat diteruskan

Seandainya saja kau tak bersua pencuri yang ulung 
Sudah pasti kau renggut dosa berulang kali penuh sadar, tanpa cadar
Ah, kau terlalu berlebihan mencintainya, terlalu 


Sudahlah, tikam dia!

Habisi dengan tangan kirimu!



21 April 2010 jam 16:33 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kadang dirinya bertanya

Kemana perginya hasrat
Di carinya sampai ke negeri asing
Tak temukan sampai dirinya lupa pulang
Lupa rautnya sendiri ketika terjebak di dalam cermin

Gusar, mendualah, lupakan janji terakhir
Tinggalkan jiwa, bebaskan diri dari jaring pukat kegelisahan 

Sungguh pencarian yang melelahkan 
Hingga usianya pun perlahan mulai menghujat 

Kadang dirinya bertanya,
"Pantaskah engkau diperlakukan semulia ini?"




08 Maret 2010 jam 19:39 WIB
andri edisi terbatas on facebook

curhatmu

Kamu dengan bangganya mengatakan, dulu. Merayu telingaku hingga memerah. Memaksaku menyimak kisah-kisah tentangnya yang heroik. Tak jarang senyuman serta tangisan, kau sandingkan dalam satu altar. Membuat riuh sejenak atap imajinasiku. Hingga energi dalam ponselku pun sekarat, lalu merangkak menemui pusaranya. Dalam hati selalu bertanya, adakah kisah tentangnya selain dulu yang patut untuk dibanggakan?



25 Februari 2010 jam 14:05 WIB
andri edisi terbatas on facebook

enggan berkisah

Kutinggalkan pena di sisi kekasihnya
Kuacuhkan, kubiarkan tergeletak menghadap sesukanya, sembarang saja
Lalu dikuburkanlah oleh debu-debu waktu
Di jauhkannya dari hasrat yang pernah menggila
Bahkan beberapa tetes keringat hitam mulai mengering
Memudar menemui ajal di tubuh kekasihnya


Oh, kemanakah engkau duhai hasrat
Mengapa kau tinggalkan jiwa separuh jalan
Bukankah para penikmat sedang bersorak menyambut musim semiku
Lalu mengapa jua kabut kepenatan masih menggelantung di sini
Memberatkan pelupuk jiwa membuat enggan tuk berkisah 




15 Januari 2010 jam 14:55 WIB
andri edisi terbatas on facebook

terjaga

Malam ini aku terbangun tiga kali
Tidak seperti biasanya, entah kenapa
Bahkan detak jantungku tak beraturan
Sumbang laksana irama perkusi anak balita

Oh, pergilah duhai penganggu benak termanis jika terkaanku itu benar adanya
Tolong pergilah, menyingkirlah dari ranting rapuh kelopak mataku
Esok saja kau hadir, jangan ini malam
Karena ini malam aku ingin mencumbui letihku sendirian




30 Desember 2009 jam 19:45 WIB
andri edisi terbatas on facebook

still

When you see my heart seems to have quietened down bath tub in the sacred lake angels

My advise do you touch the water
Let the peace of mind and quiet
Because a touch later it can bring a wave of longing until then enlarged to make you come back ridden
Because of you my madness has not recovered properly and surely you do not want it
Because I'm still crazy about you
Crazy, like a majnun to laila




16 Desember 2009 jam 12:01 WIB
andri edisi terbatas on facebook

dalam hening malam

Dalam hening malam 
Inginku menuliskan namamu pada gugusan bintang-bintang
Agar kelak kau mengetahui bahwa ada seseorang yang sangat mengagumimu di sini 


Dalam hening malam
Inginku senandungkan namamu pada semilir angin
Agar kelak kau mendengar akan sebuah nyanyian pilu tentang seseorang bersama kerinduannya di sini 


Dalam hening malam
Inginku menyibukan pikiranku dengan lukisan wajah-wajah ceriamu
Agar kelak kau menyadari bahwa senyum itu yang dapat menyumbat air mata seseorang di sini


Dalam hening malam
Inginku kembali merajut kata-kata hingga tersulamkan menjadi puisi
Agar kelak kau memahami keseriusan yang sangat serius tentang seseorang yang mulai mencintaimu di sini 


Dan seseorang itu, adalah aku
Yang berusaha menikmati hening malam dengan menanamkan sebiji harapan di taman hati


Semoga saja, kamu yang akan menjadi buahnya kelak 

Dan aku sangatlah beruntung jika benar-benar menuainya




17 November 2009 jam 12:31 WIB
andri edisi terbatas on facebook

entah

Entah karena apa menilaimu merupakan suatu keharusan
Entah karena apa memujimu merupakan awal sebuah ucapan
Entah karena apa memikirkanmu merupakan rutinitas yang tak terlupakan
Entah karena apa aku seperti ini, apakah karena engkau?
Entahlah, namun sepertinya sedikit pertemuan ajaib telah mengubah semuanya dan membuatku selalu rindu akan sosok itu



16 November 2009 jam 12:04 WIBandri edisi terbatas on facebook

kusempurnakan inginmu

Suatu keinginanmu akan kusempurnakan sesuai dengan kemauanmu yang terlintas di tepian senja kemarin. 

Maafkan aku kekasih, yang telah membekukan hatiBerharap setiap kenangan itu tak mencair sedikitpun. Namun sepertinya itu hanyalah percuma, karena engkau selayak bara panas abadi yang tak ingin aku bingkai pada hati ini dan meminta berulang-berulang untuk lepaskanmu, untuk lepaskanmu. Sepertinya kini aku tak akan menundanya, kendati itu hanya satu detikpunAku tak akan menundanya. Demi kamu. Aku akan dengan segera menyempurnakan keinginanmu.

Bersiaplah. Sesaat lagi pestamu akan dimulai. Mainkan seluruh simponi, lalu menarilah! Perkenanlah para undanganmu memasuki ruangan ini, perkenanlah mereka untuk meneguk anggur-anggur teristimewa yang telah tercampur dengan air mataku. Yang telah tercampur dengan sisa-sisa setiaku. Paksakanlah mereka! Paksakanlah lidah-lidah mereka bersama dirimu untuk menghabiskannya. Jangan sisakan kendati hanya satu tetespun karena jika tersisa aku takut akan mengendap dan menjadi sebuah penyesalan pada nantinya.

Dan untuk kali ini, aku tak ingin mengurai janji. Namun simaklah esok, akankah masih terdapat dirimu kendati itu hanya sebuah nama yang mirip denganmu.




22 Oktober 2009 jam 12:52 WIB
andri edisi terbatas on facebook

berpikirlah sejenak

Berpikirlah sejenak wahai ombak besar dan kecil yang menghantamkan deburnya di setiap hari, di setiap waktu kepada sebongkah karang di tepi pantai
Pernahkah terlintas dibenakmu, seandainya karang itu adalah kau
Sekiranya, akankah kau mampu tetap berpijak di sini tanpa bergeser sekalipun

Berpikirlah sejenak wahai angin ribut berjubahkan badai yang mengirimkan ribuan tangan-tangannya untuk menumbangkan setiap perlawanan batang-batang pohon tertua di tengah hutan
Pernahkah terlintas dibenakmu, seandainya batang-batang pohon itu adalah kau
Sekiranya, akankah kau mampu tetap mempertahankan ratusan daun serta rantingnya, tanpa terpisah sekalipun


Berpikirlah sejenak wahai terik penguasa siang hari yang menghukum lalu membakar ratusan harapan doa-doa tulus seorang musafir di tengah gurun tak bertuan
Pernahkah terlintas dibenakmu, seandainya musafir itu adalah kau
Sekiranya, akankah kau mampu tetap melangkah kendati dahaga telah membuat sekarat sekalipun 


Berpikirlah sejenak wahai makhluk yang masih memiliki nurani

Berpikirlah sejenak wahai makhluk yang masih terkasihi

Berpikirlah sejenak, sebelum aku benar-benar mentiadakanmu dari hati



22 Oktober 2009 jam 12:50 WIB
andri edisi terbatas on facebook

ketika rindu-rindu berkecamuk

Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku mampu untuk meniduri setiap kegelisahanku yang hadir sesudahnya
Seperti kegelisahan butiran debu akan tibanya anak-anak hujan
Memintanya untuk segera membasuhnya, mensucikannya 


Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku sanggup untuk melucuti setiap helai kepiluanku yang menyerang malamku dengan kabutnya
Seperti kepiluan seorang biduan dengan suara nan merdu yang berharap dinikmati suaranya oleh para sang tuli


Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku bisa untuk meracuni setiap keresahanku yang menjelma pada awan kelam di tepian senjaku
Seperti keresahan pelukis buta bersama kuas serta cat minyaknya
Berusaha menerjemahkan khayalan dalam selembar kanvasnya


Ketika rindu-rindu berkecamuk
Apakah aku masih layak untuk mengamini setiap doa-doa yang kusematkan di sudut-sudut langitku
Seperti doa-doa adam terdahulu ketika pertama kali menjejakkan kaki di bumi
Meminta lekas dipertemukan-Nya kepada kekasih yang bernama Hawa


Dan ketika rindu-rindu berkecamuk
Kupastikan semua itu terjadi karena rindu diriku terhadap dirimu yang tak terbendung
Dan di manakah dirimu, pemilik segala kerinduan ini bersemayam?

Mendekatlah, temui aku, usah sembunyi!
Beri aku sedikit penawar untuk jiwaku yang sedang berteman dengan dahaga
Untuk jiwaku yang sedang berteman dengan sayatan sembilu




21 Oktober 2009 jam 13:02 WIB
andri edisi terbatas on facebook

kamu adalah teror

Kamu mencintaiku namun sekaligus menakutiku
Kamu merindukanku namun sekaligus meresahkanku
Kamu mendambakanku namun sekaligus membuat jera aku
Kamu beserta seluruh keinginanmu ingin memilikiku sepenuhnya
Ingin merengkuhku sekuatnya tanpa pernah berpikir dari sisi aku, apakah aku bersedia ataukah tidak?
Lalu setelah kamu benar-benar menakutiku, benar-benar meresahkanku dan benar-benar membuat jera aku

Kamu berkata kepadaku,

“Inilah aku beserta segenap rasa sayangku dan cintaku yang akan memburumu hingga nanti hingga ke pelataran pelupuk matamu, hingga ke peristiratan abadimu karena aku sungguh-sungguh serius kepadamu. Untuk itu, tolong jangan tolak aku!”



21 Oktober 2009 jam 13:00 WIB
andri edisi terbatas on facebook

engkau di akhir maret

Hanya satu terukir dan hanya satu yang tersimpan dalam damainya hati yang selama ini aku mencarinya dan aku selalu menguntit dari celah-celah permukaan hati sosok-sosok penerus kaummu di luar sana yang terkadang tak aku gubris keberadaannya kendati mereka telah menuruni menara tertinggi yang dijaga oleh para sang naga dan semua itu ku lakukan semata-mata karena aku terlalu teguh, setia, atau bodoh. Entahlah, aku sendiri sepertinya tak paham. Yang jelas sosok bunga terakhir itu sulit sekali untuk aku angkat dari sini. Dari hatiku. Mungkin akar-akarnya telah menghujam terlalu dalam hingga sulit untuk aku cabut dan ku serahkan ke sebuah taman yang lebih patut atau mungkin aroma yang ditebarkannya terlalu sering mengusik penciumanku hingga aku kembali menghidupkan sebuah kerinduan berulang-ulang.  Namun kini sepertinya aku kalah karena kokoh kepiawaanku didalam menggalang sebuah keteguhan, kesetiaan, dan kebodohan telah ditaklukannya oleh dirinya, penggantinya, penerusnya. Lalu aku bertanya kepada hatiku sendiri, Apakah ini yang di janjikan Tuhan untuk aku? Seorang kaum hawa yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya. Jika iya, izinkanlah aku untuk segera mengenalnya dan menghalalkannya selekas mungkin karena aku begitu terpincut oleh aura kesederhanaannya dan aku tak ingin purnama malam ini terlewatkan begitu saja sebelum aku mengungkapkan apa yang menjadi inginku.

Semoga saja inginku dan inginnya  bersua pada sebuah ketetapan dari-Nya. Semoga saja apa yang pernah terngiang benar adanya, bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya.




16 Oktober 2009 jam 21:55 WIB
andri edisi terbatas on facebook

ketika shinta tak memilih rama

Di sebuah malam yang terakhir, Rama pernah bertanya kepada shinta,
"Jika yang terbaik tak menjadi sebuah pilihanLalu apa lagi yang kau cari di dunia ini?Apakah ungkapan itu hanya sebuah klise untuk aku dengan mengatakan bahwa aku adalah yang terbaik dari yang sudah pernah ada sebelumnya? Jika yang terbaik tak terpilih menjadi seorang pemenang. Lalu untuk apa aku berlari mengitari separuh bumi Apakah hanya untuk membiarkan setiap tetes keringatku terbuang percuma dan menjadikanku mati lemas seperti ini? Atau memang ada rencana lain yang kau sembunyikan dariku?" 

Lalu didalam sendunya, Shinta menjawab,
"Maafkan aku rama aku tak bisa menjawab pertanyaanmuBiar engkau saja yang mengartikan arti ucapanku, apakah klise atau bukan. Jika menurutmu klise biarlah ucapanku itu terlahir menjadi sebuah klise. Jika menurutmu bukan, izinkan aku mengucapkannya kembali. Sebelum kita terpisahkan oleh hilangnya malam kali ini. Jujur aku sangat senang untuk mengucapkannya. Kendati aku sadar dengan mengucapkannya aku mungkin akan mengkoyak-koyak hatimu pada akhirnya, karena seperti kau ketahui ketika di awal. Aku hanya bisa mencintaimu namun tak bisa memilihmu karena aku terlahir bersama simbol-simbol kekolotan bangsaku. Namun bersamamu di hari-hari kemarin merupakan hadiah terindah dari Tuhan untuk aku. Di mana disetiap detik aku diperkenalkan olehmu tentang bagaimana mengenakan atribut kedewasaan. Mempelajari bagaimana membujuk kekanak-kanakanku yang terkadang begitu liarnya meracuni usiaku. Namun di tanganmu, keliaran itu begitu mudah untuk dijinakkan begitu mudah untuk ditenangkan dan sekarang aku meminta kepadamu. Relakanlah aku pergi rama, relakanlah karena aku tak sepertimu yang dengan bebasnya berlari bersama mimpi di kala terlelap lalu mewujudkannya di kala terjaga. Karena aku hanyalah aku seorang Shinta yang terlahir bersama simbol-simbol kekolotan bangsaku. Untuk itu maafkanlah aku Rama!"




16 Oktober 2009 jam 21:46 WIB
andri edisi terbatas on facebook

catatan lebay sadurung turu

Ingin aku sepertimu, berlari di titian tanpa rasa takut meninggalkan rumah terindah yang pernah menampungmu, mengajarkanmu tentang indahnya mencintai dan dicintai. Sungguh ingin aku sepertimu. Menanggalkan semuanya tanpa harus menyisakan sebutir air mata.




08 Oktober 2009 jam 3:33 WIB
andri edisi terbatas on facebook

permintaan

Maafkan aku, mungkin yang kini sempat terucap dalam diriku yang tak ingin dirimu lelap dalam indahnya malam yang mungkin membawamu terbuai oleh pelukan sang bintang.

Maafkan aku, mungkin yang kini sempat terucap karena diriku yang datang mencoba singkapkan selimut hangatmu, sinar temarammu, dan semua tentang alur mimpimu untuk temani diriku bersama kepak sayapku yang sedari sore tadi mulai kuarahkan kepadamu.

Terbanglah bersamaku! Terbanglah dalam kerapuhan sayap-sayapku. Turuti kemana arah angin ini akan menghempas. Turuti sebelum kita benar-benar binasa bersama cahaya yang mulai meredup ini. Turuti dan hanya untuk kali ini saja. Karena esok, entahlah.



06 Oktober 2009 jam 20:58 WIB
andri edisi terbatas on facebook

namaku adalah indah

Saat aku mencoba untuk menatapmu, entah apa yang dapat aku ungkap. Sebuah misteri akan keindahan yang terkandung pada sosok di dirimu. Seakan kekal dan aku ingin meruaknya. Perlahan demi perlahan aku mulai membiasakan untuk menatapmu. Sesering mungkin aku lalukan bahkan di setiap hari-hariku hingga tiba diriku pada tungku keberanianku. Lalu dengan perlahan tanpa ku sadari, talian yang berpangkal dari mulutku berujung kepadamu. 

Aku berkata,
"Jika ada keindahan yang melebihi pemandangan ratusan bunga-bunga. Yang baru saja merekah di taman pagi. Aku rasa keindahan itu adalah kamu.

Jika ada keindahan yang melebihi lukisan di tepian senja yang kaya akan lautan berwarna ungu serta jinggaAku rasa keindahan itu adalah kamu.

Jika ada keindahan yang melebihi hamparan mutiara yang berserakan menghiasi di sekitar eloknya sang purnamaAku rasa keindahan itu adalah kamu.
Lalu maukah kamu memberi sedikit hadiah di hidupku?

Dengan memberi sedikit suara kepadaku

Bolehkah aku tau siapa nama dari sosok yang begitu indah ini?"

Setelah kelancanganku yang baru saja menggelegar. Membangunkan para dewa-dewi hingga mereka semua siuman. Kau tetap hanya terdiam. Lalu tak lama kau tersenyum kepadaku. Tersenyum, dengan sorotan yang ku suka.

Lalu kau berkata,

"Namaku adalah indah"




04 Oktober 2009 jam 22:21 WIB
andri edisi terbatas on facebook