renjana

datang juga 
sebatas malam 
berguguran bintang 
dan manis bualan memiliki ku
menyusuri margonda sekenanya 
dan tamat 

dalam pucat rembulan 
ternyata kau tak berhasil padam 
dari biru fana  
dan merah semenjana 
yang menanam taman-taman kota

o, langit terlampau pekat 
dan kehilangan api 
dari relung matamu 
betapa renjana mendiami jantungku
dan bermusim dingin 

di mana di antara banyak 
pasang muda-mudi jatuh hati
dadaku badai cemburu
dan senang menyadap luka sendiri
sepertinya engkau tahu

suatu hari

suatu hari kita pernah 
di antara orang-orang pergi 
dan pulang
bandara selalu gugup
hanya rekah bunga-bunga mawar
yang sepanjang kilometer terakhir
mendiami wajahmu

tak habis malam itu

dendang keroncong jatuh cinta 
di seluruh jalan-jalan kosong 
menuju pagi 
dan dingin cuaca menanam api 
pada selesai panen raya di perkebunan sawit
tapi tak membuat kikis ngarai itu
dari kata cantik belaka

sebelum usia berganti musim 
dari jam besar di taman kota paling tua
dari bolu kemojo lalu meranti
jantung hati terlampau mudah dicuri
suatu hari oleh nikmat kuah soto sinar pagi 
dan sop bening kepala ikan di pesisir 
bersamamu

yang merah muda 
dan biru semenjana
ombak-ombak bergulung
memeluk karang
melarung khayalan kecil sepenuhnya 
tentang luas berpasir 
dengan hujan cahaya itu
semoga kelak suatu hari 
tiada lelah dari setelah perayaan-perayaan 
juga lampu-lampu kembali dipadamkan