udara basah

cahaya kuning turun hujan
udara basah di flyover menuju rumahmu
yang gugup pertama kali adalah meninggikan detak kecupan-kecupan 
aroma kopi dan tembakau bertukar tubuh
berlumuran kilau lampu
penuh ungkapan-ungkapan baik
semacam sulap murahan yang selalu berhasil diingat
yang membuat kau tersenyum sebelum melangsungkan dansa hari kemarin 
kiri-kanan, kanan-kiri saling menginjak kaki
malam yang tinggi terus meninggi
bergugurlah bintang-bintang
bergugurlah

tiba

untuk Budhiani Hartanti

sebentar kuingat 
dari tiba lucu seorang anak lelaki
melahirkan sulap jemariku jadi seekor burung
dan mengajarkannya terbang
sampai malam luluh 
kabut tembakau berputar-putar di perkarangan

tak terasa tiba juga 
meja kursi menemukan bincang kali pertama
pernah karangan naskah cerita belum jadi
yang menghitung mundur jalan romansa 
hujan mawar berduri begitu lebat
memelukmu sejadi-jadinya

ku ingat sejak kala itu 
mamalia berkaki empat mulai beruntung 
melompat-lompat dari mulut menemukan tanggal-tanggal merah 
pada rembulan mesra membuncah
bintang-bintang gugur ke relung sayup matamu
sebelum akhirnya diam-diam ku curi 
ku bawa pulang pernah sepanjang sunyi

laju malam tiba tersisa lima menit saja
di antara pohon-pohon luar jendela 
hujan tersisa meliuk-liuk sepanjang remang Margonda 
dan Arief Rahman Hakim
sebuah rumah membentang pelukan 
setelah jantung hatiku
adakah yang lebih dari merindukanmu saat ini?