hujan di atas meja

apa yang paling dekat
dari bertanya; apa kabarmu?
ketika mataku lebat 
menemukan hujan menyala
dan malam terlanjur menikmati
tiket perjalanan pergi dari meja ini

laju kopi melaju sesap

hilang rembulan 
membunyi pikiran-pikiran hebat itu
tentang cerita bisu membangun ribuan anak jalan
dengan lampu-lampu berbunga jingga tiba-tiba

celaka, kepadanya 
betapa gemerlap terlampau mengirim pantai 
dan tenggelam matahari itu
sosok yang memerah 
turut pecah di sudut ruang
mencuri aku pergi dari tempat ini 


24:00

di ujung sunyi
kota ini perlahan dimatangkan Banda Neira 
malam terlampau berlampu jalan
berpohon-pohon besar 
bangunan tingkat tiga
berliku senyap seakan 
rembulan menukar jalan ringkas
dan jendela kamarmu betapa lekat 
oleh bibir hujan lebih dahulu

lihat dingin kursi itu 

tak kemana-mana
berulang-ulang menebus gelas kopi ketiga
di mana duduk yang hendak pergi
begitu mudah mencuri cokelat mata
dan mawar merah muda dari dirimu

lalu kota ini bertambah matang
berhembus pulang kabar orang-orang menunggu
pada langit gelap 
pada jantung hatimu
biar ku selami kedalamannya
dan memastikan rumahku
berdiri tegak menatap bintang
merangkai gugur cahayanya