pulang

untuk Ngabdul Syahroni

mari pulang
biar habis seluruh lelah itu
menyusuri pucat jalan-jalan 
dan lampu padam di segala padang
hari terlalu pagi 
udara jatuh dingin untuk sudut matamu menyalakan matahari

tidurlah, Pak
tinggalkan kami sejenak
menunggu reda musim hujan itu

04:45

untuk Boerhan Sulistyo

betapa telah pagi
jalan-jalan sudah ditempuh
sebelum malam habis 
dan kita sepakat pulang dalam kalimat-kalimat yang baik

hingga tiba pukul 04:45
detak mesin perekam jantungmu 
melaju datar dan tenang 
seperti wajah setu belakang rumah yang dingin 

lalu kesedihan jadi musim hujan yang diperebutkan
datang dan merangsek dadaku
tumpah di sepanjang mataku menemukanmu  

betapa sesak kangen ini belum cukup 
sepertinya memang tak pernah cukup

selamat jalan